Sabtu, 16 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
Destinasi
Pasar Papringan Ngadiprono Temanggung

Mencicipi Kuliner Tradisional di Bawah Kesejukan Bambu

Rabu, 22 Nov 2017 09:30 | editor : Pratono

RAMAI : Pedagang dikerubuti pembeli di Pasar Papringan Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu, Temanggung.

RAMAI : Pedagang dikerubuti pembeli di Pasar Papringan Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu, Temanggung. (Lis Retno Wibowo/Jawa Pos Radar Kedu)

Setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung ramai dikunjungi warga luar daerah. Mereka hendak menikmati suasana Pasar Papringan di dusun tersebut.

MENIKMATI Minggu pagi di Pasar Papringan, pengunjung akan disuguhi nuansa pasar yang berbeda. Sesuai namanya, “papringan” (bahasa Jawa) artinya kebun bambu, pasar berada di bawah rerimbungan bambu seluasa sekitar 1.500 meter persegi.

Pasar Papringan menjajakan makanan tradisional yang kini sudah banyak dilupakan orang. Juga menyuguhkan aneka permainan tradisional. Alat pembayarannya juga bukan uang melainkan potongan bambu. Unik dan menarik.

Tak heran bila setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, ratusan kendaraan berplat luar kota berbondong-bondong ke pasar dadakan di Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu tersebut.

Sebelum melakukan transaksi, pengunjung harus menukarkan uang dengan potongan bambu sebagai alat pembelian. Satu potong bambu ditukar dengan uang Rp 2 ribu. Pengunjung dapat menikmati kuliner gablok pecel, nasi bakar, nasi merah, nasi jagung, nasi rames ndeso, lontong mangut, bubur kampung maupun gudeg serta soto lesah.

Bisa juga mencicipi kudapan ndeso, seperti ndas borok, aneka keripik, grontol jagung, aneka makanan godog, gorengan. Minumannya ada dawet anget, wedang ronde, wedang tape, kopi tubruk, kolak pisang, bubur kacang ijo, susu kedelai.

Tempat pedagang menjajakan makanannya ditata sedemikian rupa di antara pokok-pokok bambu satu dengan lainnya. Sehingga terkesan rapi. Pengunjung Pasar Papringan terus meningkat dari satu penyelenggaraan ke penyelenggaraan berikutnya. Bahkan, dibanding saat kali pertama pasar itu dibuka oleh Bupati Temanggung Bambang Sukarno, sekitar enam bulan lalu.

Manajer Proyek Pasar Papringan, Fransisca Callista mengaku tidak melakukan promosi secara khusus. Dia hanya mengunggah foto-foto di media sosial. Efeknya sungguh luar biasa. Pengunjung tidak hanya dari wilayah Temanggung dan sekitarnya. Tapi dari Semarang, Jogjakarta, Kendal, Purwokerto bahkan ada yang dari luar Jawa.

Callista, yang merupakan Pengurus Komunitas Spedagi (Sepeda Pagi) yang selama ini melakukan pendampingan kepada warga Ngadiprono tersebut mengatakan, banyaknya pengunjung juga karena gethok tular alias dari mulut ke mulut.

Para pedagang adalah warga Dusun Ngadiprono. Mereka diberdayakan dengan membuat berbagai olahan makanan dan kerajinan dari bambu. “Dari sekitar 110 keluarga di Dusun Ngadiprono ini, ada 70 hingga 80 keluarga yang berjualan di Pasar Papringan ini. Hampir semuanya berjualan makanan tradisional yang dibuat sendiri,” tutur lulusan Institut Teknologi Bandung Jurusan Desain Produk dan peraih gelar master bidang desain budaya dari Chiba Univeristy Jepang itu.

Callista menceritakan tujuan utama penyelenggaraan Pasar Papringan bukan motif ekonomi melainkan untuk konservasi tanaman bambu.

“Motif utama mengadakan Pasar Papringan ini untuk menjaga dan melestarikan pohon bambu. Kalau ada keuntungan lain, itu bonus,”ujar gadis asal Banjar, Jawa Barat, tersebut.

Melakukan konservasi pohon bambu dinilai penting. Sebab pohon bambu merupakan penghasil oksigen tertinggi, memberikan kesejukan bagi orang yang di dekatnya. Memiliki nilai visual yang indah. Siklus panennya lebih cepat dibandingkan pohon kayu, serta merupakan material bangunan masa depan sebagai pengganti fungsi kayu atau besi.

Lebih lanjut dikatakan, apabila papringan berdampak keuntungan ekonomi warga, diharapkan akan memberikan motivasi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan pohon bambu.

“Pemilik lahan ini, juga akan termotivasi, karena biasanya hanya bisa menjual pohon bambu Rp 10.000 per batang. Saat ini, setiap penjual yang menempati lahannya menyewa Rp 10.000 setiap kali pasaran,” tuturnya.

Melalui penyelenggaraan pasar papringan, yang dikelola Komunitas Spedagi dan Komunitas Mata Air desa setempat, pihaknya berkeinginan pula memberi edukasi mengenai makanan sehat yang tidak terkontaminasi bahan-bahan kimia. Sehingga, semua makanan yang dijual di pasar papringan dilarang menggunakan bahan kimia. Termasuk piring yang digunakan dari bambu dan daun.

“Kami boleh membuat dan menjual makanan tradisional apapun, hanya tak boleh menggunakan micin, penyedap rasa, bahan pewarna, dan bahan-bahan kimia lainnya. Semuanya menggunakan bahan alami, dan jika memakai daging ayam, harus ayam kampung,” aku Nurhayati, pedagang grontol jagung.

Salah seorang pengunjung, Yayuk dari Kendal mengaku tertarik dengan Pasar Papringan karena diberitahu saudaranya. Setelah mengunjungi Pasar Papringan ia mengaku terkesan. Anak-anak dapat bermain permainan egrang, bakiak dan ayunan dari bambu.

“Makanan yang dijual mengingatkan masa kecil saya,” tutur Yayuk yang datang bersama suami dan dua anaknya sambil mengantre gablok pecel yang ramai pembeli.

Sementara itu, Yanti, pedagang aneka makanan godok, mengaku sebelum ada pasar ini ia hanya ibu rumah tangga biasa. Penghasilan hanya dari bertani. Kini ia memiliki pendapatan tambahan dengan berjualan di Pasar Papringan. Setiap kali jualan bisa mendapatkan uang sekitar Rp 300 ribu setelah dipotong 15 persen untuk pengembangan sarana prasarana pasar tersebut.

Fasilitas Pasar Papringan tergolong lengkap. Ada area untuk merokok, juga bilik menyusui dan tempat sampah. Bahkan ada perpustakaan mini. Para penari kuda lumping pun siap melayani permintaan foto bersama pengunjung.

(sm/lis/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia