Kamis, 26 Apr 2018
radarsemarang
icon featured
Ekonomi

Sosialisasi Perdagangan Berjangka Harus Lebih Agresif

Masih Butuh Political Will Pemerintah

Selasa, 21 Nov 2017 22:54 | editor : Ida Nor Layla

Syaiful Bachri, Branch Manager PT Rifan Berjangka Cabang Semarang memotivasi masyarakat agar maju dari zero to hero melalui perdagangan berjangka.

LIQUID : Syaiful Bachri, Branch Manager PT Rifan Berjangka Cabang Semarang memotivasi masyarakat agar maju dari zero to hero melalui perdagangan berjangka. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID-Tak banyak mahasiswa di Semarang yang bergelut dengan perdagangan berjangka, meski sebenarnya memiliki ketertarikan yang sama besarnya dengan aktivitasnya di perdagangan saham. Bersyukur, di Universitas Katholik (Unika) Soegijapranata, ada komunitas yang konsen dengan perdagangan berjangka bernama Komunitas Futures Club. Memang baru bisa merangkul 10 mahasiswa yang aktif, tapi anggota komunitas tersebut sangat optimistis, 5 tahun ke depan bisa merangkul lebih banyak orang dan mahasiswa.

Salah satu punggawa Komunitas Futures Club tersebut adalah Hendy Agustinus, 21, mahasiswa Fakultas  Ekonomi Bisnis (FEB) Jurusan Akuntansi, Unika Soegijapranata. Dirinya sangat aktif mengajak mahasiswa terutama dari fakultas ekonomi, setelah FEB Unika melakukan kerjasama dengan pelaku perdagangan berjangka, PT Valbury Asia Futures pada 22 September 2017 kemarin. Sebelumnya, juga melakukan kerjasama dengan PT Fortis Asia Futures.  

Diakuinya, untuk melatih kepekaan untuk bisa memahami perdagangan berjangka, FEB Unika berkali kali menjalin kerjasama dengan pelaku perdagangan berjangka. “Memang ini menjadi jalan bagi kami, untuk belajar lebih mendalam, tentang kekurangan dan kelebihan perdagangan berjangka di Indonesia,” tutur mahasiswa yang mengambil program percepatan program SI, namun bisa mengambil jenjang program S2 sekaligus di FEB Unika.

Apalagi perdagangan berjangka tidak menjadi materi pokok perkuliahan, hanya disinggung sedikit di dalam mata kuliah Manajemen Resiko tentang lindung nilai. Kalau jurusan akuntansi, malah tidak disinggung sama sekali. Justru perdagangan saham yang banyak diajarkan. “Wajar saja, jika hanya sedikit mahasiswa ekonomi yang konsen ke perdagangan berjangka,” tandas mahasiswa asal Pekalongan yang kini semester 7 pada jenjang S1 dan semester 1 pada jenjang S2.

Dirinya, kata Hendy, bisa memahami konsep perdagangan berjangka justru dari workshop-workshop di luar jam perkuliahan. Dirinya lantas tertarik belajar menganalisis risiko pasar saat harga naik dan turun. Dari situ, dirinya mulai mengenal dan mendalami cara menganalisis tren pada perdagangan berjangka. Ada analisis teknikal, yakni menganalisis tren/pergerakan harga dengan menggunakan alat bantu aplikasi yang menampilkan indikator naik turunnya harga. Tak hanya itu, masih ada analisis fundamental, dengan memahami kebijakan pasar internasional.  “Sebenarnya prospeknya bagus, bila kita bisa menganalisis risiko pasar dan naik turunnya harga melalui analisis teknikal dan fundamental,” katanya.

Hendy merasa bersyukur melalui kerjasama antara FEB Unika dan pelaku perdagangan berjangka, ada kesempatan demo account dengan nilai transaksi Rp 6-10 juta.  “Saya memanfaatkan program tersebut dan pernah menang lomba open account,” tuturnya.

Kini, beberapa mahasiswa yang semula hanya sekadar demo account, termasuk dirinya, akhirnya tertarik dan ketagihan melakukan investasi melalui perdagangan berjangka yang sebenarnya. Kendati begitu, masih banyak yang menganggap perdagangan berjangka risikonya besar. “Tapi kalau piawai menganalisis, sebenarnya bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan menekan kerugian seminimal mungkin dari fluktuasi harga. Bahkan bisa terhindar dari gambling (berspekulasi, red),” urainya.

Baginya saat ini, perdagangan berjangka justru sudah menjadi kebutuhan agar dirinya bisa memiliki tabungan, sekaligus bisa terus melakukan investasi. Kalau tahu caranya, sebetulnya tidak ribet. Apalagi bisa melakukan trading dimanapun dan kapanpun. “Saya biasanya dengan mengamati tren melalui indikator dari 7-8 alat bantu, bisa mendapatkan keuntungan,” akunya.

Kendati begitu, Hendy menyadari untuk masyarakat yang belum terdidik sangat berisiko bila terjun ke perdagangan berjangka. Apalagi saat ini di Indonesia, lebih banyak trader yang memilih produk SPA (sistem perdagangan alternatif), khususnya perdagangan emas loco gold London dan mata uang atau Foreign Exchange (Forex). Sedangkan perdagangan berjangka sebagai sarana lindung nilai untuk beragam komoditas pertanian, perkebunan, pertambangan dan lainnya, masih belum banyak diminati.

“Selain itu, para broker bursa berjangka umumnya mengharuskan minimal deposit yang lumayan tinggi, sebesar Rp 100 juta, sehingga membenamkan minat masyarakat luas. Ini berbeda dengan saham, mahasiswa hanya dengan Rp 100 ribu sudah bisa terjun ke pasar modal. Hitung-hitung sambil belajar,” tandasnya.

Keluh kesah Hendy, selaras dengan pemahaman dosennya. Yakni, dosen Keuangan FEB Unika Soegijapranata, Yohanes Wisnu Djati Sasmito. Menurutnya, perdagangan berjangka hanya diberikan sekilas pada mata kuliah Manajemen Risiko dari sisi lindung nilai. “Terbanyak dikaji justru pasar saham. Makanya mahasiswa lebih familiar dengan bursa saham ketimbang bursa berjangka,” tandasnya.

Jika pemerintah berharap perdagangan berjangka ini maju, dosen yang konsen dengan perdagangan saham ini menegaskan perlunya political will dari pemerintah yang lebih besar lagi. Perlu lebih agresif melakukan sosialisasi sejak dini tentang perdagangan berjangka. Harus menyasar generasi muda, sedari mahasiswa sebagaimana yang dilakukan pemerintah dalam menyosialisasi pasar saham.

“Sebab, saat ini rakyat Indonesia yang jumlahnya 250 juta jiwa ini, masih belum banyak yang familiar dengan perdagangan berjangka. Masyarakat belum banyak yang tahu. Meski sebenarnya memiliki prospek yang luar biasa untuk lindung nilai hasil petanian, perkebunan dan pertambangan, agar tidak merugi,” katanya. 

Sayangnya pemahaman yang berkembang saat ini, justru ada konotasi negatif. Bahwa jual beli mata uang tersebut tak ada bedanya dengan judi. “Konotasi ini terbangun, karena masih minimnya pengetahuan masyarakat. Selain itu, perdagangan komoditi untuk lindung nilai hasil pertanian atau tambang seperti bursa berjangka di Malaysia belum banyak dilakukan para trader di Indonesia,” tuturnya.

Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip), FX Sugiyanto menambahkan bahwa hanya orang-orang tertentu yang tertarik pada perdagangan berjangka. Banyak yang kurang tertarik, perdagangan yang ada batas waktunya dengan risiko rugi sangat besar, meski menjanjikan keuntungan yang sangat besar juga. “Kendati begitu, jika ingin terjun ke perdagangan berjangka, bagi mereka yang memiliki kemampuan analisis terbatas, tentunya membutuhkan pengarah investasi yang benar. Selain itu, membutuhkan pengetahuan dan ilmu titen mengenai tren pasar berjangka,” sarannya.

Terpenting lagi, timpal Wisnu Djati Sasmito, adalah pengendalian diri. Sebab, kadang orang susah mengendalikan emosi demi bisa meraup untung besar, tapi hasilnya justru buntung alias rugi besar. “Ada teman saya yang rugi besar, gara-gara emosional ingin meraup untung besar, akhirnya rugi besar dan habis-habisan. Jadi, pengendalian emosi dan kehati-hatian ini sangat penting untuk dikedepankan. Butuh analisis dan perhitungan yang matang, agar bisa survive dan benar-benar mendapatkan keuntungan,”  kata Wisnu.

Terkait sosialisasi dan edukasi yang kurang optimal, juga diakui oleh Teddy Prasetya, Chief Business Officer PT Rifan Financindo Berjangka. Bappebti selaku regulator memang perlu lebih agresif lagi, meski saat ini sudah melakukan kerjasama dengan 20 perguruan tinggi. “Namun jumlah perguruan tinggi tersebut terbilang masih kecil. Berbeda dengan pasar modal yang sudah melakukan kerjasama dengan lebih dari 100 perguruan tinggi di Indonesia,” katanya.

Sebetulnya, kata Teddy, bursa saham dan bursa berjangka basic-nya sama. Cara menghitung dan menganalisis juga sama. Tapi karena sosialisasi dan edukasi yang kurang, perdagangan berjangka kurang begitu familiar. “Tapi saya optimistis, bursa berjangka 5 tahun ke depan akan jauh lebih dikenal dan diminati masyarakat Indonesia,” tandasnya.

Ditambahkan Branch Manager PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang, Syaiful Bachri, bahwa perdagangan berjangka ke depan enar-benar sangat prospektif. Jika dikalkulasi, dari 250 juta penduduk Indonesia, jumlah nasabah di pasar saham baru 1,2 juta account. Sedangkan pasar perdagangan berjangka baru ada 100-200 ribu account.

“Tentunya, masih besar peluang untuk menggerakkan industri berjangka. Termasuk di Kota Semarang dan sekitarnya, yang ternyata memiliki banyak orang potensial, banyak pengusaha, sehingga perputaran ekonominya sangat deras. Selain itu, banyak perusahaan dari luar Jateng yang saat ini memilih mengalihkan pabrik dan produksinya ke Jateng,” tuturnya.

Karena itu, yang perlu dilakukan perusahaan berjangka seperti PT Rifan Financindo Berjangka adalah merekrut lebih banyak karyawan agar bisa turut melakukan sosialisasi dan edukasi maksimal kepada masyarakat luas. “Sosialisasi kepada generasi muda juga sangat penting dilakukan. Makanya kami bekejasama dengan Unnes, Unika, UKSW, dan sekolah-sekolah lain,” katanya.

Sedangkan Coporate Secretary  Jakarta Futures Exchange (JFX), Tumpal Sihombing menambahkan, tidak sekedar pemerintah yang harus melakukan sosialisasi dan edukasi, tapi seluruh stakeholder juga harus melakukan hal yang sama. “Jadi pemerintah sudah memberikan back up, stakeholder juga harus terlibat,” tandasnya.

Lain halnya dengan Kadiv Sekretaris Perusahaan Kliring Berjangka Indonesia (KBI), Agung Waluyo, justru menilai Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementrian Perdagangan Indonesia, belum sukses melakukan edukasi dan sosialisasi tentang pasar berjangka. Padahal kuliah 5 bab tentang saham, mahasiswa sudah bisa menghitung nilai pasar. “Pasar berjangka masih sedikit diperlajari di bangku perkuliahan,” tuturnya.

Dijelaskan Agung, perdagangan berjangka telah berdiri 1897 di Amerika, artinya umurnya sudah lebih dari 100 tahun. Di Indonesia, sekitar tahun 1997 disahkan Undang-Undang (UU) Berjangka Komoditi. “Jadi perdagangan berjangka komoditi di Indonesia, masih tergolong baru,” tandasnya.

Kendati begitu, imbuhnya, di Malaysia terbilang sukses meramaikan pasar berjangka. Pemerintah Malaysia telah memiliki kebijakan dengan menginstruksikan kerjasama antara kementrian dan BUMN untuk melakukan trading melalui bursa berjangka. Mulai dari kelapa sawit, olien, kopi dan kakau ditradingkan melalui bursa berjangka. Wajar jika bursa berjangka Malaysia saat ini sangat dinamis dan ramai sehingga bisa menentukan harga komoditas sendiri. “Karena pasarnya aktif, maka harga terbentuk,” tandasnya.

Hal ini berbeda dengan di Indonesia. Bahkan, underline komoditi di Indonesia masih belum liquid, karena pemerintah belum total perhatiannya pada industri berjangka. Dukungan pemerintah baru sebagian, belum komprehensif. Sehingga Indonesia yang memiliki peringkat 3 dunia sebagai produsen kelapa sawit dan turunannya, tak bisa menentukan harga pasar sendiri di tingkat global, tapi harus mengikuti harga dari Malaysia.

“Sebenarnya Presiden Jokowi sangat bagus kebijakannya. Namun masih konsentrasi di pembangunan infrastruktur. Saya yakin, kalau perhatian Presiden Jokowi pada pasar berjangka besar, pasti akan sangat dinamis,” tandasnya.

Apalagi saat ini, Jasa Marga yang terdesak pembiayaan pembangunan infrastruktur yang tinggi, akhirnya memanfaatkan pasar berjangka dengan menjaminkan ke bank pendapatan 5 tahun ke depan, yakni aset back securities. Agung berharap, suatu saat PTPN juga bisa mentransaksikan komoditi seperti karet, kopi, hasil hutan dan lainnya ke bursa berjangka. Sebagaimana yang dilakukan Jasa Marga. “Saya yakin, jika BUMN masuk pasar bursa, kita bisa menentukan harga komoditi sendiri tanpa harus mengikuti Malaysia,” tuturnya.

Karena perhatian pemerintah yang belum penuh tersebut, imbuhnya, bursa berjangka juga jadi kurang familiar di masyarakat. Bahkan, fungsi pasar berjangka dalam memberikan lindung nilai pada beragam produk komoditi belum banyak diminati. Para trader lebih memanfaatkan perdagangan berjangka untuk mencari keuntungan melalui jual beli mata uang. Sangat menguntungkan memang, dengan memanfaatkan fluktuasi harga baik untuk sale maupun buy pada periode tertentu. Dan memang Forex dan komoditi emas yang memiliki fluktuasi harga paling tajam, sehingga paling dicari para trader. 

“Apalagi hanya dengan uang sedikit atau minimal 5 persen dari total nilai transaksi, bisa melakukan transaksi yang sangat besar. Meskipun peluang mendapatkan keuntungan besar dan potensi kerugian besar, tak menjadi masalah bagi yang sudah bisa menjalaninya. Para trader yang biasa piawai, akan santai dan jeli dalam upaya mendapatkan keuntungan saat melakukan trading di bursa berjangka,” tuturnya.

Terkait dengan Lembaga Kliring Berjangka Indonesia (KBI), diakuinya, sejak tahun 2015 telah menerapkan SITNA (Sistem Informasi Transaksi untuk Nasabah) untuk menjamin kebenaran transaksi yang dilakukan para trader yang telah dikliringkan melalui KBI. Hal itu didorong oleh pesatnya perdagangan berjangka. “Sudah ada 48 ribu pengunjung SITNA dari tahun 2015 hingga sekarang. Itu artinya, potensi pasar di Indonesia masih sangat besar. Kalau jumlah penduduknya sebanyak 250 juta, 10 persennya saja sebesar 25 juta aktif, tentu pasar berjangka akan ramai,” tandasnya.

Menanggapi hal tersebut Kepala Bappebti Kementrian Perdagangan RI, Bachrul Chairi menerangkan bahwa dalam financial pyramid, paling banyak dipelajari masyarakat ataupun mahasiswa adalah pasar saham. Kalau memiliki modal, bisa melakukan pembelian saham dalam jumlah tertentu, namun saat harga baik bisa langsung menjualnya, sehingga mendapatkan keuntungan.

Jika ingin lebih tinggi lagi tingkatannya, maka masuklah ke pasar reksadana atau obligasi. Jika ingin naik tingkat yang lebih tinggi lagi, bisa masuk ke pasar berjangka yang high risk high return (risiko tinggi dan peluang keuntungan juga tinggi).

“Karena itulah, kami masih terus melakukan penjajagan ke Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk melakukan penjajagan. Harapan kami, ada edukasi sejak dini kepada para mahasiswa tentang konsep-konsep industri berjangka. Sehingga tak hanya dibahas di mata kuliah manajemen risiko tentang lindung nilai saja,” jelasnya.

Pihaknya juga aktif melakukan sosialisasi dan edukasi melalui berbagai kegiatan dengan dunia usaha, asosiasi usaha, Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan lainnya. “Edukasi dan sosialisasi terus kami tingkatkan baik dengan dunia usaha maupun dengan mahasiswa,” tuturnya.

Kendati begitu, pihaknya memang lebih aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat yang memiliki kecukupan modal atau yang punya uang banyak agar langsung menginvestasikan dananya melalui bursa berjangka. Diakuinya, hingga saat ini yang paling aktif melakukan trading dalam bursa berjangka baru kalangan swasta.

Pihaknya juga sedang bekerja keras mendorong pemerintah melalui regulasi yang tepat, agar pemerintah melalui BUMN bisa meramaikan bursa berjangka, sebagaimana di Malaysia yang bisa menentukan harga komoditi sendiri. Pasalnya, selama ini peraturan di Indonesia masih membutuhkan banyak penyesuaian. Sebab peraturan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak sepenuhnya membebaskan BUMN bergerak. Memperbolehkan tapi juga mengancam penjara. Yakni, jika BUMN tersebut bisa menjalankan bisnis atau investasinya di bursa berjangka dengan kepastian dapat keuntungan atau minimal tidak mengalami kerugian, diperbolehkan. Namun jika sampai terjadi kerugian yang pada akhirnya merugikan uag negara, maka ancamannya adalah masuk penjara. “Karena itulah, kami masih terus membicarakan hal ini dengan Bank Indonesia. Kami berharap tahun 2018 sudah ada titik terang,” harapnya.

Padahal, kata Bachrul Chairi, jika BUMN diperbolehkan masuk ke bursa berjangka, Indonesia akan sangat dinamis. Apalagi banyak BUMN yang setiap hari melakukan transaksi antara rupiah dan dollar. Pertamina yang selama ini melakukan impor minyak tanah, pasti membutuhkan mata uang dollar yang nilai selalu fluktuatif dengan mata uang rupiah. Misal ada pelemahan mata uang rupiah sebesar Rp 50 saja dari harga mata uang dollar di banding hari sebelumnya, maka dengan kontrak berjangka, Pertamina sudah bisa menselaraskan keuangannya dari fluktuasi nilai mata uang tersebut dalam kerangka impor minyak. “Jika itu dilakukan Pertamina atas persetujuan pemerintah, tentu akan memberikan multiplier effect yang positif dalam perekonomian bangsa,” jelasnya.   

Sementara itu, PT Rifan Financindo Berjangka sendiri, kata Syaiful Bachri, merupakan perusahaan berjangka ketiga yang paling aktif di bulan Oktober 2017 ini. Memperdagangkan produk SPA, yakni 8 pasar alternatif. Yakni, Loco Gold London, Indeks Hanseng (Hongkong), Indek Nikei  (Jepang) dan 5 pasar mata uang. Meliputi mata uang Euro, Pundsterling, Dollar Aussie, Yen jepang dan Swiss Franch. “Masyarakat Semarang dan Indonesia umumnya, lebih mendominasi perdagangan Loco Gold London. Volume transaksinya sangat tinggi, karena mudah dianalisa. Selain itu, saat menjual atau membeli sangat liquid. Hal ini karena semua orang memakai emas,” tuturnya.

Pada bulan Oktober 2017, tuturnya, PT Rifan Financindo Perkasa membukukan transaksi 33.524 lot untuk produk SPA, namun lebih dominan prouk Loco Gold London. Sedangkan perdagangan komoditi hanya membukukan 18.210 lot saja. Dengan komoditi Gold 250, Gold 100, Olien, Olien 10, Kopi Robusta dan Kopi Arabica.

Jika dilihat bulan sebelumnya, volume transaksi di bulan September untuk produk SPA sebanyak 35.051 lot dan komoditi hanya 17.420 lot. Demikian juga volume transaksi di bulan Agustus untuk produk SPA sebanyak 56.176 lot dan komoditi lebih kecil hanya 13.886 lot. Sedangkan volume transaksi di bulan Juli untuk produk SPA hanya 28.756 lot dan komoditi lebih menurun hanya 7012 lot. “Volume transaksi dari Juli 2017 ke Oktober 2017 ini ada pergerakan dan ada pertumbuhan, meski volume transaksi komoditi masih kecil. Namun target volume transaksi PT Rifan Financindo Berjangka di seluruh Indonesia sebenarnya 500 ribu lot di tahun 2017 dario 8 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia,” tuturnya.

(sm/ida/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia