Jumat, 15 Dec 2017
radarsemarang
icon featured
EVENTS

Gubernur Ganjar Minta Sesepuh Ceritakan Sejarah Kyai Ageng Gribig

Jumat, 03 Nov 2017 16:38 | editor : Arif Riyanto

REBUTAN APEM: Ribuan warga berebut apem dalam prosesi Yaaqowiyyu di kompleks Makam Kyai Ageng Gribig, Jatinom, Kabupaten Klaten, Jumat (3/11) pagi tadi.

REBUTAN APEM: Ribuan warga berebut apem dalam prosesi Yaaqowiyyu di kompleks Makam Kyai Ageng Gribig, Jatinom, Kabupaten Klaten, Jumat (3/11) pagi tadi. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 RADARSEMARANG.ID-Tradisi budaya sebar apem 'Yaaqowiyyu' di kompleks makam Kyai Ageng Gribig, Jatinom, Kabupaten Klaten selalu dinanti warga. Ribuan orang datang ke sana untuk berebut gunungan apem.

Sayang, belakangan tradisi berebut apem itu hanya sekadar sebagai budaya. Sejarah mengenai Kyai Ageng Gribig justru tenggelam. Parahnya, sebagian masyarakat kini menilai tradisi Yaaqowiyyu sebagai prosesi syirik.

"Tadi sebelum saya ke sini, di medsos (media sosial) ada yang komentar, hati-hati jangan sampai syirik. Lho, belum-belum kok dikatakan syirik, dulu para Walisongo kan juga menyebar Islam menggunakan kebudayaan," ujar Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, saat menghadiri acara budaya dan tradisi sebar Apem Yaqowiyu Kyai Ageng Gribig Jatinom, di Desa Kajen, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jumat (3/11) pagi tadi.

Dijelaskan, di Jateng banyak tokoh penyebar agama Islam yang hingga kini namanya masih dikenang. Dia berharap, nama-nama itu tak hanya nama yang dikenang, namun perjuangannya juga perlu diceritakan ke generasi saat ini.

Dikatakannya, dahulu di masa kekuasaan kerajaan Mataram di Jawa yang semula Hindu berubah menjadi Islam, dan masyarakat sampai saat ini pun bisa hidup rukun.

Maka, kegiatan-kegiatan kebudayaan yang di dalamnya terdapat nilai-nilai ajaran agama, menurut Ganjar, perlu diceritakan secara lengkap pada generasi muda. Sehingga pemahaman mereka bisa utuh.

“Para kasepuhan ini mesti bisa menceritakan, jangan sampai hilang cerita itu (Perjuangan Kyai Gribig), sebab dulu masuknya kan tentu tidak tiba-tiba, menggunakan cara halus, baik, dan semua ada filosofinya,” katanya.

Cerita-cerita tersebut, bisa disampaikan pula melalui teknologi informasi, yakni media sosial. Misalnya, siapakah Kyai Ageng Gribig, bagaimana bisa datang ke Jatinom, dan dahulu apa yang diajarkan dan seterusnya.

Selain itu, menurut Ganjar, cerita-cerita itu juga perlu disampaikan supaya tidak salah paham. Dicontohkannya, di Gunung Kemukus di Kabupaten Sragen, terdapat makam seorang pejuang Islam, yaitu Pangeran Samudro, yang saat ini masih terus dikunjungi para peziarah.

“Tapi sampai saat ini ceritanya berbeda. Dan saya ke sana, kok jadinya seperti itu, ternyata ceritanya berbeda. Misalnya, kalau ingin dapat pangkat dan rezeki datang ke sini dan begini, kumpul dengan istri orang lain, ini kan sesat,” ungkapnya.

Dalam acara tahunan ini, dihadiri ribuan warga di sekitar Makam Kyai Ageng Gribug dan Sendang Klampeyan, tempat di mana apem sebanyak 6 ton dibagikan ke warga. Hadir pula Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto yang pernah tinggal di Jatinom.

(sm/amh/aro/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia