Selasa, 21 Nov 2017
radarsemarang
icon featured
Ekonomi

Industri Keuangan Minim Aktuaris

Jumat, 20 Oct 2017 15:19 | editor : Arif Riyanto

BERI PENJELASAN: Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jawa Tengah & Daerah Istimewa Jogyakarta, Bambang Kiswono menyampaikan materi seputar inklusi keuangan, kemarin.

BERI PENJELASAN: Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3 Jawa Tengah & Daerah Istimewa Jogyakarta, Bambang Kiswono menyampaikan materi seputar inklusi keuangan, kemarin. (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Profesi aktuaris belakangan makin dicari seiring dengan pertumbuhan industri keuangan di Indonesia. Sayangnya, jumlah yang ada saat ini masih jauh dari kebutuhan.

Chief Corporate Affairs Officer AXA Indonesia, Benny Waworuntu mengatakan, berdasarkan data Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), saat ini jumlah aktuaris di Indonesia yang terdaftar ada sekitar 400 orang. Jumlah tersebut dinilai tidak sebanding dengan pertumbuhan industri keuangan yang ada saat ini.

“Bila dihitung dari sektor asuransi saja, asuransi jiwa ada sekitar 60 perusahaan, asuransi umum lebih dari 80, belum sektor-sektor lainnya,” ujar Benny disela Kegiatan Peningkatan Literasi Keuangan dan Pengenalan Profesi Aktuaris di SMA Negeri 3 Semarang.

Padahal, berdasarkan Undang-Undang, aktuaris menjadi profesi yang wajib ada dalam sebuah perusahaan asuransi. Kemudian secara teknis, dalam satu perusahaan bisa jadi membutuhkan lebih dari satu aktuaris.

“Aktuaris ini nantinya tidak hanya bekerja di satu bidang saja, bisa ke product development, menghitung dana cadangan dan lain-lain sesuai kebutuhan pengembangan perusahaan. Bila dihitung satu perusahaan membutuhkan empat aktuaris, setidaknya kita saat ini butuh sekitar 1000. Belum lagi kalau industri keuangan terus meningkat,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya bersama sejumlah pihak terkait terus mendorong pertumbuhan profesi tersebut. Diantaranya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Universitas Gadjah Mada. Dosen Departemen Matematika FMIPA UGM, Danardono mengatakan, aktuaria merupakan bidang ilmu yang menggunakan teori probabilitas, matematika, statistika, dan ekonomi untuk mengukur dan menghitung dampak finansial atas kejadian tak tentu di masa yang akan datang.

Menurutnya, profesi ini di Indonesia belum sepopuler akuntan, insinyur, pengacara dan lainnya, meskipun profesi ini sebetulnya sudah cukup lama ada. Mereka bekerja di berbagai lembaga yang memerlukan pengelolaan risiko.

“Kami juga akhirnya membuka program studi S1 Aktuaria, karena baik regulator maupun kondisi saat ini mendukung hal tersebut seiring dengan pertumbuhan industri keuangan,” ujarnya.

(sm/dna/aro/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia