Senin, 23 Oct 2017
radarsemarang
icon featured
Radar Semarang
Lebih Dekat dengan Komunitas Tranportasi

Pecinta KA Edukasi Masyarakat, Agar Tak Lempar Batu

Minggu, 10 Sep 2017 10:31 | editor : Jatmiko

PERGI BERSAMA : Para anggota komunitas pecinta kereta api KRDE rutin naik kereta api bersama ke berbagai daerah sekaligus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang berlalulintas yang aman dan nyaman.

PERGI BERSAMA : Para anggota komunitas pecinta kereta api KRDE rutin naik kereta api bersama ke berbagai daerah sekaligus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang berlalulintas yang aman dan nyaman. (DOK KRDE FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

Komunitas pecinta transportasi memiliki peranan penting dalam membangun budaya tertib berlalulintas secara aman dan nyaman. Mereka adalah komunitas percinta kereta api, pecinta pesawat terbang maupun pecinta transportasi bus, yang eksistensinya semakin diperhitungkan. “NAIK api, tut… tut… tut… siapa hendak turut, ke Bandung Surabaya....” petikan lagu anak-anak dengan judul Naik Kereta Api ini menjadi bukti bahwa bukan hanya anak-anak yang mencintai alat transportasi kereta api (KA). Komunitas Railfans Daop Empat (KRDE) yang didirikan 20 Agustus 2011 silam di Stasiun Alastua, Semarang ini buktinya

Sebelum dibentuk menjadi sebuah komunitas, awalnya anggota KRDE merupakan kumpulan sejumlah orang yang memiliki kesamaan hobi dan kecintaan pada kereta api (KA). “Dulu kami hanya sekumpulan orang yang suka terhadap KA. Kemudian mendeklarsikan diri menjadi sebuah komnitas,” kata Penasihat KRDE, Noviar Y Prasetyo sa at ditemui Jawa Pos Radar Se marang.

Noviar menerangkan, saat ini komunitas KRDE berkembang pesat dan memiliki anggota sekitar 300 orang yang berdomisili di wilayah DAOP 4 Semarang, mulai dari Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Semarang, Grobogan, Cepu, Ambarawa sampai Salatiga. Mereka berasal dari segala lapisan masyarakat mulai dari pelajar hingga pegawai negeri sipil (PNS). “Paling kecil, anggota kami masih SMP, sementara yang paling tua berumur 50 tahunan,” jelasnya.

Bukan hanya mencintai KA, komunitas ini punya segudang aktivitas mulai dari naik kereta api bersama, hingga edukasi dan sosialiasi perkeretaapian ke masyarakat. Noviar mengungkapkan bahwa salah satu bentuk kegiatan edukasi yang dilakukan adalah turun ke lapangan dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahayanya melempar batu ke arah KA, memasang batu, sampai edukasi terkait perlintasan sebidang. “Bukan hanya cinta, kami juga merasa punya tanggung jawab terhadap KA. Apalagi kalau ada orang yang iseng melempar KA dengan batu dan memasang batu di rel KA. Sepele memang, tapi sangat membahayakan perjalanan KA dan penumpang yang ada di dalamnya,” tuturnya.

Tak hanya itu, KRDE pun kerap turun ke jalan dengan membagikan bunga kepada pengendara agar taat berlalulintas saat palang pintu perlintasaan KA tertutup. Bahkan, memasang spanduk yang berisi imbauan taat berlalu lintas di sekolah-sekolah sekaligus mengenalkan KA. “Masih banyak masyarakat yang nekat menerobos palang pintu. Tapi dengan sosialisasi ini, diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tertib ber lalulintas,” harapnya.

Kegiatan lain yang dilakukan KRDE adalah pergi bersama dengan menggunakan KA baik itu di dalam wilayah DAOP 4 Semarang dengan menggunakan KA lokal, atau ke luar wilayah dengan menggunakan KA jarak jauh yang dilakukan setahun sekali. Untuk kegiatan tersebut, anggota KRDE harus merogoh kocek pribadi atau biaya sendiri. “Menikmati perjalanan KA bisa menggunakan KA lokal misal Kaligung atau Kedungsepur. Sebelumnya kami melakukan rapat untuk pergi ke stasiun mana, napak tilas kemana dan menggunakan KA jenis apa, diambil menurut suara terbanyak. Jika kaluar lintas DAOP 4, diagendakan setahun sekali agar anggota bisa menabung dulu,” katanya.

Sebagai pencinta KA, Noviar mengaku punya berbagai pengalaman suka maupun duka. Sukanya adalah ketika bertemu pencinta KA dari daerah lain. Se dangkan dukanya, ketika terlantar karena kehabisan tiket KA sehingga perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan transportasi lainnya. “Kalau itu (kehabisan tiket, red) biasanya kalau antusiasme yang ikut banyak dan dibarengi dengan okupansi yang tinggi. Tapi hal itu biasanya insidentil. Intinya, sebelum berangkat pasti dilakukan planning KA pergi ataupun pulang,” bebernya.

(sm/den/ida/mik/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia