Jumat, 24 Nov 2017
radarsemarang
icon featured
Radar Kedu
Bullying Diduga Terjadi di SMA Taruna Nusantara

SMA Taruna Nusantara Sesalkan Laporan Kasus Bullying

Rabu, 06 Sep 2017 06:45 | editor : Pratono

KAMPUS TN: Kampus SMA Taruna Nusantara di Kabupaten Magelang tengah jadi sorotan karena diduga terjadi aksi bullying yang menimpa salah satu siswa.

KAMPUS TN: Kampus SMA Taruna Nusantara di Kabupaten Magelang tengah jadi sorotan karena diduga terjadi aksi bullying yang menimpa salah satu siswa. (Mukhtar Lutfi/Jawa Pos Radar Kedu)

SMA Taruna Nusantara (TN) menyesalkan adanya laporan dugaan bullying dan kekerasan dari orang tua siswa kepada Polres Magelang. Kendati demikian, pihak SMA TN berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut.

Kepala Humas SMA Taruna Nusantara, Drs Cecep Iskandar, M.Pd.

Kepala Humas SMA Taruna Nusantara, Drs Cecep Iskandar, M.Pd. (Istimewa)

"Kami menyesalkan mengapa pihak orangtua langsung melaporkan hal ini ke pihak kepolisian. Artinya, orangtua tidak menempuh langkah melaporkan hal tersebut ke pihak sekolah terlebih dahulu secara berjenjang. Mulai dari waligraha (wali asrama) yaitu pamong (guru) yang bertanggung jawab kepada siswa dalam satu asrama (graha)," jelas Kepala Humas SMA Taruna Nusantara, Drs Cecep Iskandar, M.Pd, Selasa (5/9/2017) kemarin.

Cecep mengatakan, seandainya dugaan bullying dilaporkan ke pihak sekolah, maka masalah tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Jika laporan tidak bisa diatasi atau orangtua siswa tidak puas, lanjut Cecep, bisa dilaporkan kepada pemangku kebijakan tertinggi di SMA TN.

Masih menurut Cecep, seharusnya dugaan pemukulan siswa oleh teman sekelas yang saat ini sedang didalami pihak sekolah, bisa diselesaikan secara internal di sekolah. "Namun, hak orangtua untuk mengambil langkah tersebut, meski bagi SMA Taruna Nusantara ini kali pertama pelaporan suatu kasus perselisihan antarsiswa ke pihak kepolisian. Kami menghargai langkah orangtua siswa tersebut.”

Di sekolah manapun, menurut Cecep, hubungan siswa dengan siswa lain, tidak selalu mulus. Kerap terjadi konflik dan perselisihan. Sejauh ini, kasus-kasus perselisihan antarsiswa di SMA TN, selalu dikelola dan dijadikan bagian dari proses pembelajaran. Tujuannya, untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial dan pematangan kepribadian dengan pendampingan penuh para pamong.

Sebagai sekolah pembentukan dan kader, lanjut Cecep, SMA TN siap bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus tersebut. Pihak sekolah saat ini belum bisa mencari keterangan dari siswa pelapor. Sebab, siswa yang bersangkutan sedang mendapatkan izin bermalam bersama orangtuanya untuk kepentingan pemeriksaan kesehatan sejak Sabtu (2/9) lalu.

Cecep memastikan, SMA TN tidak pernah menoleransi tindak kekerasan yang dilakukan siswa terhadap siswa lain, apapun alasannya. Juga oleh pihak lain kepada siswa, termasuk oleh guru (pamong). Cecep mengakui, ada siswa berinisial MIH yang kini duduk di kelas XI. Siswa dimaksud beberapa kali mengalami kendala dalam berhubungan (interaksi sosial) dengan teman-teman sekelas atau seasramanya.

"Masalah ini sudah beberapa kali dikomunikasikan dengan orang tuanya dan sudah menjadi perhatian BPBK (konselor) SMA Taruna Nusantara untuk diberikan bantuan agar siswa yang bersangkutan mampu mengatasi masalah psikologis ini.”

Kepala SMA Taruna Nusantara, Drs Usdiyanto M.Hum menegaskan, pihaknya meminta kasus tersebut diusut tuntas, mengacu peraturan perundang-undangan dan hukum yang berlaku. Antara lain, UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. "Tadi malam (kemarin, red) pihak sekolah sudah mencari keterangan kepada siswa-siswa seasrama dengan siswa pelapor, baik secara individu atau kelompok. Keterangan yang didapat, tentu saja isinya sangat berbeda dengan keterangan versi pelapor.”

Meski begitu, Usdiyanto memastikan pencarian keterangan tetap berpedoman pada asas pendidikan. Sehingga siswa akan tetap terjaga kondisi psikologisnya. Termasuk, siswa pelapor pasca kasus ini selesai.

"SMA Taruna Nusantara akan dan terus menindaklanjuti kasus ini dengan cara seksama dan adil, sehingga kasus serupa yang merugikan semua pihak, tidak terulang lagi. Siapapun yang bersalah, harus mendapatkan sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Termasuk, dikeluarkan dari sekolah atau bahkan hukuman pidana.”

(sm/cr3/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia