Sabtu, 25 Nov 2017
radarsemarang
icon featured
Berita Daerah
Berkat Jaringan Telkomsel Hingga Pelosok Desa

Pasar Makin Luas, Petani Makin Cerdas

Kamis, 31 Aug 2017 23:35 | editor : Ida Nor Layla

PASAR SANGAT LUAS : Muhammad Ahmad Gufron Suudi dan istrinya Zumrotun Nafi menunjukkan hasil pertanian berupa sorgum yang dijual secara online sehingga memiliki pasar tak hanya di Jawa Tengah, tapi sudah sampai Jawa Barat hingga Jawa Timur.

PASAR SANGAT LUAS : Muhammad Ahmad Gufron Suudi dan istrinya Zumrotun Nafi menunjukkan hasil pertanian berupa sorgum yang dijual secara online sehingga memiliki pasar tak hanya di Jawa Tengah, tapi sudah sampai Jawa Barat hingga Jawa Timur. (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMILIR angin menerpa hamparan sawah nan hijau yang mengitari Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara dengan luas sekitar 600 hektare lebih. Desa yang memiliki jumlah penduduk sekitar 15.000 jiwa dengan total luas lahan 1.532.998 hektare ini, terletak di sebelah Timur Laut Ibu Kota Kabupaten Jepara. Jarak tempuhnya sejauh 42 km atau bisa ditempuh selama 75 menit dari ibu kota Kabupaten Jepara.

Di desa yang sebagian besar penduduknya hanya menamatkan sekolah jenjang SD (Sekolah Dasar) dan SMP (Sekolah Menengah Pertama) dengan 65 mata pencaharian petani inilah, Muhammad Ahmad Gufron Suudi , 40, merasakan manfaat adanya jaringan teknologi selular hingga ke desa. Suudi begitu biasa disapa, sebenarnya bersekolah sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) namun tidak tamat, sehingga mengikuti Kejar Paket C untuk mendapatkan ijazah setingkat SMA. Kendati begitu, hal itu tak menghalangi aktivitasnya untuk memperkenalkan orang di sekelilingnya mengenal dunia luar lewat gerbang digital.

Suudi yang saat ini dipercaya sebagai salah satu Perangkat Desa Tulakan, tepatnya sebagai Ladu atau Ulu-Ulu atau petugas yang membagi air untuk para petani atau Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Dia terbilang sangat konsen dengan berbagai hal tentang dunia pertanian. “Karena saya hanya sekolah sampai SMA, itupun tidak tamat, jadi banyak hal yang saya tidak tahu. Karena itulah, saya sering meningkatkan kualitas diri dengan belajar dari orang lain, belajar dari buku di perpustakaan Desa Tulakan, belajar lewat internet kantor dan lewat jaringan telepon selular smartphone,” tutur bapak 3 anak yang sejak tahun 2000 sudah memanfaatkan layanan selular Telkomsel ini.

Pimpinan Perpustakaan Desa Tulakan, Maftukhin mengakui sering menggelar kegiatan dengan masyarakat petani. “Kami mengajak Pak Suudi untuk meramaikan perpustakaan yang saat ini baru memiliki koleksi 4000 buku dan ada 5 unit komputer. Dan kami bersyukur, Perpustakaan Kucica (Aku Cinta Membaca) Desa Tulakan mendapatkan predikat terbaik nomor 1 se-Kabupaten Jepara,” kata Maftukhin.

Suudi yang memiliki dedikasi luar biasa untuk memajukan lingkungan sekitarnya, apa yang dia pelajari ditularkan kepada masyarakat sekitarnya. Dia mengajak para petani dan kalangan ibu rumah tangga untuk tidak berpangku tangan hanya menunggu nasib atau hasil pertanian dengan cara tradisional.

“Saya berusaha menggerakkan para petani dan kaum ibu rumah tangga membentuk kelompok tani dan kelompok wanita tani. Kami bina secara swadaya agar mengerti teknologi yang lebih maju lewat internet. Kemudian memasarkan hasil pertaniannya secara online,” tutur Suudi yang dipercaya masyarakat sebagai Penyuluh Pertanian Swadaya di Desa Tulakan.  

Kendati begitu, diakui Suudi, kali pertama mengajak masyarakat Desa Tulakan melek informasi dan teknologi, bukan perkara mudah. Tahun 2000-an, belum ada Android, dirinya memanfaatkan Short Massage Service (SMS) dan internet di kantor Desa Tulakan. Dirinya aktif melakukan sosialisasi pertanian melalui SMS dan belajar melalui internet.

Sejak tahun 2010, dirinya lebih memanfaatkan internet dan sosial media melalui smartphone Android dalam mengenal dunia luar dan mengajak masyarakat melek informasi dan teknologi. “Sempat mendapatkan penolakan berbagai pihak yang merasa kenyamanannya dengan pola tradisional terganggu,” tandas Suudi yang akhirnya ditunjuk sebagai pengurus IP3A (Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air) Kabupaten Jepara dan Pati.

Hasil belajarnya, Suudi menularkan kepada para petani untuk menanam tanaman organik. Namun, para distributor pupuk kimia merasa terganggu dengan programnya. Sempat terjadi insiden yang tidak mengenakkan. Pernah praktik membuat demplot atau percontohan tanaman organik di area 10 meter, tapi mati semua. Kemudian membuat percontohan padi dengan SRI (System Rice of Intensification) organik seluas 4 hektare dikasih roundup (obat yang mematikan tanaman atau rumput), sehingga tanaman mati semua.

“Saya bersyukur, setelah itu dari Dinas Pertanian Pemkab Jepara ada program memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik dan menanam tanaman organik. Sehingga saya bisa lebih menimba pengalaman bersama masyarakat,” kata Suudi yang lahir di Jepara 31 Juli 1976 silam ini.

Menurutnya, mengusung perubahan di tengah masyarakat tradisional memang tidak mudah. Orang yang sudah merasa nyaman dengan kondisi, kadang susah menerima perbedaan. Harus sabar dan tidak boleh putus asa. Sebab para distributor pupuk kimia yang semula pendapatannya tinggi, bisa menjual pupuk urea dalam satu musim 80 ton, menjadi berkurang. Lantaran gerakan menanam tanaman organik yang menggunakan pupuk organik. “Waktu itu, aktivitas saya sempat disorot atau dimata-matai. Bahkan, diisukan karena mau mencalonkan diri sebagai anggota DPR, padahal tidak. Saya memang konsen terhadap bidang pertanian dan teknologi informasi,” tuturnya. 

Meski begitu, Suudi bersyukur, dengan semakin lancarnya internet yang teknologinya kini 4G, hubungan dan jaringan dengan masyarakat semakin tak terbatas. Ilmu pengetahuan bisa didapat dimana-mana lewat internet. Teknologi informasi semakin canggih. Perdagangan dan bisnis, tidak harus menjajakan dagangan di toko atau showroom, semua bisa dilakukan melalui teknologi informasi yang semakin modern.

“Saat ini, masyarakat yang tadinya merasa terganggu kenyamanannya dengan cara dan pola tradisional, sekarang mulai berkurang, meski belum sepenuhnya hilang. Luasnya jaringan internet, sekarang tak ada yang bisa membendung. Di desa pelosok seperti saya, masih bisa beraktivitas dan berbisnis dengan baik. Bahkan semakin luas pertemanannya,” ungkapnya.

Semangat dan energinya untuk perubahan yang tinggi, Suudi menggawangi terbentuknya Asosiasi Petani Sorgum (Asnigum) Jepara dengan jumlah anggota sekitar 30 orang, yang membudidayakan tanaman sorgum/canttel/gandum. Kemudian membentuk Paguyuban Petani Donorojo yang konsen menanam beragam hasil tani secara organik seperti menanam beras merah, berah hitam dan lainnya. “Kami bisa menanam sorgum hingga berhasil, belajar dari internet,” tandasnya.

Kemudian membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Pelita Kartini di Desa Tulakan, KWT Sumber Rejeki di Desa Bandung, dan KWT Kalinyamat di Desa Sonder. Meski pendidikannya tidak tinggi, para wanita tani yang tergabung dalam komunitas ini sudah lumayan melek informasi dan memiliki daya baca yang baik. Sebagian KWT tersebut sudah memiliki grup di sosial media, mulai whatsapp maupun facebook. Mereka tidak hanya memanfaatkan smartphone untuk ngerumpi, tapi menjual karyanya secara online. Ada yang menjual kerupuk, menjual hasil pertanian, hingga menjual cemilan.

“Saya lebih konsen terhadap wanita tani. Mereka sangat aktif, respek dan selalu ada tindaklanjutnya. Kemajuannya pesat. Saya bersyukur, meski mereka hanya ibu rumah tangga dari para petani dan pendidikan rendah, mereka kini sudah memakai handphone Android. Sehingga memudahkan berkoordinasi, dan mengakses ilmu pengetahuan tentang pertanian lewat smartphone. Kalau sampai ada yang memanfaatkan untuk aktivitas negatif atau berita hoax, kami saling mengingatkan,” tutur Suudi yang rutin presentasi di berbagai kelompok tani tersebut.

Pihaknya juga aktif melakukan pelatihan-pelatihan bekerjasama dengan pengurus Perpustakaan Desa Tulakan, yang kemudian hasilnya dishare di facebook dan whatsapp. “Bahkan, kami mensinergikan Kelompok Wanita Tani ini dengan Dinas Pertanian Kabupaten Jepara,” tandas suami Zumrotun Nafi ini.  

Suudi yang kerap melabeli dirinya sebagai relawan ini, tidak hanya memberikan penyuluhan. Tapi juga memberikan contoh cara memanfaatkan jaringan telekomunikasi, meski berada di pelosok perdesaan, meski tingkat pendidikan tidak tinggi. Suudi melakukan jual beli hasil pertanian dan alat pertanian secara online.

“Hasil tani berupa tanaman sorgum saya posting di facebook lewat jaringan selular handphone. Dari situ, ternyata banyak yang respon. Pembelinya dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat, dan Jawa Timur. Dalam satu kali musim panen, saya mengirim hasil pertanian sorgum ke pembeli minimal 50 ton. Sering mengitim sorgum ke Subang Jawa Barat dan Jombang Jawa Timur sekitar 10-12 ton,” tutur Suudi yang didampingi istrinya.    

Tak hanya sorgum, hasil pertanian yang dijual online. Tapi juga beberapa alat pertanian, benih pertanian atau budidaya tanaman pangan holtikultura, mebel  maupun hasil karya ibu ibu tani lainnya. “Sayangnya untuk produksi krupuk, hanya bisa mencukupi di dalam desa saja. Itu sudah kewalahan,” tuturnya.  

Makanya, ketika beberapa bulan lalu jaringan Telkomsel hilang, pihaknya mengalami kerepotan. Menurut Hari, warga Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, kala itu, Base Transceiver Station (BTS) dimatikan oleh oknum tertentu yang menuntut kompensasi tertentu, sehingga jaringan Telkomsel di wilayah tersebut mati selama sebulan lebih. Sehingga ada salah satu warga yang melaporkan kondisi tersebut ke Kantor Telkomsel Jateng-DIJ, akhirnya bisa diselesaikan.

“Ketika jaringan Telkomsel mati, kami sangat terganggu. Tapi kami tidak tahu harus lapor kemana. Kami hanya bisa beralih ke selular lain. Bersyukur, sudah ada yang lapor sehingga jaringannya normal kembali. Tapi karena wilayah sini jaringan yang paling kuat Telkomsel, begitu jaringan normal kembali, kami kembali menggunakan Simpati,” jelas Suudi yang sudah loyal dengan Telkomsel ini.

Suudi yang masih ingin mendapatkan pelatihan lebih mahir lagi tentang teknologi informasi (IT) ini, telah memiliki website  ladusuudi.wordpress.com dan istrinya juga memiliki nafisuudi.wordpress.com. “Website ini masih jarang saya gunakan, karena saya masih kurang mahir dalam memposting gambar. Yang saya gunakan masih sosial media (Sosmed) facebook. Jika saya masih IT, tentu kami akan memiliki banyak ide memanfaatkan jaringan yang lebih modern,” tutur aktivis yang memiliki banyak grup whatsapp mengenai pertanian dan peternakan ini.

Menanggapi hal itu, General Manager ICT Operation Region Jateng & DIJ Telkomsel, Iswandi, menyatakan bahwa jika base transceiver station (BTS) mati, tentu tidak bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Persoalannya, kadang-kadang ada warga yang kurang menyadari hal tersebut, demi kepentingan pribadi. Tapi malah mengorbankan hak dari warga negara lain untuk bisa kerkomunikasi,” tandasnya.

Dijelaskan, Telkomsel sebagai operator merah putih berkomitmen memberikan layanan kepada seluruh lapisan masyarakat bukan saja di perkotaan, tapi sampai ke perbatasan, wilayah terluar, pulau terluar, dan lainnya. “Sewaktu ada oknum yang mengganggu BTS di Kecamatan Keling, kami berusaha melakukan pendekatan persuasi kepada masyarakat. Bersyukur, akhirnya bisa mengerti dan BTS hidup kembali. Jaringan Telkomsel yang sekarang sudah 4G telah operasioal kembali. Sehingga masyarakat bisa berkomunikasi dengan baik,” tuturnya.

Harapannya, kata Iswandi, masyarakat bisa turut menjaga BTS yang ada di sekitarnya, karena komunikasi sudah menjadi kebutuhan dasar bagi setiap warga negara. Untuk pulau Jawa kadang-kadang ada operator lain, tapi di banyak tempat yang pelosok, adanya hanya Telkomsel,” tandasnya.

(sm/ida/ida/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia