Selasa, 21 Nov 2017
radarsemarang
icon featured
Radar Kedu
Lokasi Bersejarah Magelang Terancam Hilang

Mendesak, Keberadaan Tim Ahli Cagar Budaya di Magelang

Selasa, 29 Aug 2017 09:50 | editor : Pratono

MONUMEN: Tugu Kampung Tulung di pintu masuk Kampung Tulung, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.

MONUMEN: Tugu Kampung Tulung di pintu masuk Kampung Tulung, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

PENETAPAN status cagar budaya pada bangunan bersejarah, kerap menemui kendala. Salah satunya, belum adanya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) di tingkat kabupaten/kota yang bertugas mengkaji layak tidaknya penentuan cagar budaya. Kota Magelang, termasuk salah satu daerah yang belum memiliki TACB.

LOKASI BERSEJARAH: Bekas lokasi kantor Kelurahan Kampung Tulung. Di tempat ini (dulu berbentuk joglo, sekaligus sebagai dapur umum), pada 29 Oktober 1945 warga dan TKR dibantai tentara Jepang.

LOKASI BERSEJARAH: Bekas lokasi kantor Kelurahan Kampung Tulung. Di tempat ini (dulu berbentuk joglo, sekaligus sebagai dapur umum), pada 29 Oktober 1945 warga dan TKR dibantai tentara Jepang. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

Berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya, ada 4 kriteria untuk benda, bangunan atau struktur agar bisa dikaji untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Pertama, berusia 50 tahun atau lebih. Kedua, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun. Ketiga, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Keempat, memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Jika melihat kriteria ini, setidaknya Kampung Tulung memenuhi kriteria poin pertama dan ketiga.

Pegiat sejarah dan cagar budaya, Tri Subekso berpendapat, keberadaan TACB di tiap kabupaten/kota, sangat dibutuhkan untuk mengkaji dugaan cagar budaya. TACB bisa mengeluarkan rekomendasi kepada wali kota untuk menetapkan status cagar budaya atau bukan berdasarkan hasil kajian bersama.

“Sayangnya, masih banyak kabupaten/kota yang belum memiliki TACB,” ujar alumni Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang saat ini sedang menempuh pendidikan Magister (S2) Arkeologi Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Tri meneruskan, seandainya di kabupaten/kota belum memiliki TACB, maka dinas yang mengurusi kebudayaan bisa berkoordinasi dengan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah untuk mengkaji nilai sejarahnya. “Bila dinas tidak bergerak, maka komunitas atau individu juga bisa melaporkan keberadaan benda diduga cagar budaya ke BPCB,” jelasnya.

Tri juga berharap komunitas atau individu yang peduli dengan cagar budaya, ikut melaporkan temuan-temuan diduga cagar budaya ke BPCB atau instansi terkait. Laporan tersebut bisa dilengkapi dengan data awal seperti rangkuman nilai sejarah, referensi dan lainnya, untuk mempermudah kajian yang akan dilakukan.

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Rabith Jihan Amaruli menjelaskan, perlu ada kajian menyeluruh terhadap bangunan yang diduga cagar budaya seperti Kampung Tulung. Seandainya dalam kajian TACB ditetapkan bahwa bangunan tersebut layak sebagai cagar budaya, maka diharapkan bisa tetap dipertahankan. “Agar nilai sejarah dan budaya tetap ada, bangunan tersebut harus difungsikan kembali, misalnya dijadikan sebagai museum. Hal ini penting untuk menjaga nilai estetis bangunan juga,” jelasnya.

Ketua Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana menyampaikan, jumlah bangunan bersejarah di Kota Magelang yang terancam hilang semakin banyak, karena kepentingan ekonomi semata. Bagus mencontohkan, di kawasan Kwarasan dulu banyak berdiri rumah-rumah Belanda. Bangunan-bangunan di sana diarsiteki oleh Thomas Karsten pada 1937. Ironisnya, bangunan-bangunan itu pada akhirnya dibongkar.

“Kemudian, depan GKJ Bayeman Jalan Tentara Pelajar, bangunan rumah tinggal yang dibangun tahun 1924, akhirnya berubah bentuk karena diubah. Ada lagi bangunan rumah yang dulu menjadi bekas markas tentara Jepang di Jalan Kartini di mana dulu tentara Jepang di bawah Jenderal Nakamura menyerahkan wilayah Magelang kepada republik, kini bangunan tersebut sangat parah dan tidak terawat.”

Untuk itu, Bagus mengingatkan Pemkot Magelang agar tanggap dan lebih memperhatikan bangunan bersejarah di Kota Magelang sebagai upaya merekonstruksi sejarah.

“Jangan sampai hanya hangar-bingar memperingati ulang tahun Kota Magelang saja yang berusia seribuan tahun, namun bukti sejarah dalam bentuk bangunan semakin lenyap. Jika bukan kita dan pemerintah Kota Magelang, lalu siapa lagi yang mampu menceritakan sejarah bangsa ini,” tutup Bagus.

(sm/cr3/ton/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia