Rabu, 20 Sep 2017
radarsemarang
Radar Kedu
Lokasi Bersejarah Magelang Terancam Hilang

Komunitas Kota Toea Magelang Minta Pemkot Tanggap

Senin, 28 Aug 2017 18:35 | editor : Pratono

FOR SALE: Rumah bersejarah yang dulu dijadikan sebagai dapur umum perjuangan rakyat dan tentara di Kampung Tulung kondisinya kurang terawat. Oleh ahli waris, rumah ini akan dijual.

FOR SALE: Rumah bersejarah yang dulu dijadikan sebagai dapur umum perjuangan rakyat dan tentara di Kampung Tulung kondisinya kurang terawat. Oleh ahli waris, rumah ini akan dijual. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

RENCANA keluarga Woro Indarti menjual rumah dan tanah yang menjadi saksi bisu tragedi Kampung Tulung, menjadi perhatian serius Komunitas Kota Toea Magelang (KKTM). Komunitas yang aktivitasnya fokus pada napak tilas dan penyelamatan aset bersejarah ini meminta kepada Pemkot Magelang untuk menerima tawaran dari pihak ahli waris. Tujuannya, untuk menyelamatkan nilai sejarah yang ada di rumah tersebut.

Komunitas Kota Toea Magelang bahkan pernah menyampaikan hal itu kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dalam rangka pembuatan master plan kebudayaan Kota Magelang. “Berkaitan dengan rencana penjualan rumah, Pemkot harusnya tanggap dan sigap dari penawaran pihak pemilik rumah. Jangan sampai jatuh atau terjual ke orang-orang yang tidak peduli dengan sejarah. Takutnya nilai sejarah akan hilang karena dibongkar, diubah. Dapur umum sudah terbukti memiliki nilai sejarah tinggi, meski belum masuk sebagai benda cagar budaya,” kata Ketua Kota Toea Magelang, Bagus Priyana.

Rumah Lurah Atmo Prawiro yang dijadikan sebagai dapur umum, sambung Bagus, bernilai sejarah tinggi. Rumah itu menjadi bagian sejarah yang tidak terpisahkan di Kota Magelang. Terlebih, tambah Bagus, rumah yang dimaksud pernah didatangi oleh Presiden Sukarno dan Jenderal Ahmad Yani. “Apalagi dapur umum juga pernah menjadi tempat mengatur strategi dalam penyerangan sekutu di Kota Magelang dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.”

Upaya yang ditempuh Komunitas Kota Toea Magelang, menurut Bagus, sudah dilakukan pada 9 Agustus 2017. Ketika itu, pihaknya diundang oleh Bappeda terkait pembuatan master plan kebudayaan Kota Magelang. “Kami sampaikan bahwa dapur umum lebih baik dialih-tangankan kepada Pemkot, agar nilai sejarahnya tetap terjaga. Jangan memandang nilai rupiah yang diajukan. Nilai rumah itu seperti menyebut mahar keris, di mana keris bukan masalah harga, tapi nilai filosofi di dalamnya yang bernilai. Nah, sama seperti rumah dapur umum inilah,” kata Bagus.

Bagus mengakui, selama ini perhatian Pemkot terhadap bangunan bersejarah dalam posisi warning atau kurang. Bahkan, Bagus berani menilai, upaya Pemkot dalam menginventarisasi jumlah bangunan bersejarah, tidak lengkap. “Kalau saya tidak ingat, Pemkot mengklaim bahwa hanya ada 35 bangunan cagar budaya saja di Kota Magelang. Sedangkan hasil inventarisasi kami, ada sekitar 500 bangunan bersejarah di Kota Magelang yang perlu dimasukan sebagai benda cagar budaya dan wajib dipertahankan,” beber Bagus.

(sm/put/ton/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia