Senin, 25 Sep 2017
radarsemarang
Radar Kedu

Boleh Diterbangkan, Balon Udara Wajib Ditambatkan

Senin, 21 Aug 2017 19:51 | editor : Pratono

UJICOBA: Dua balon udara yang diujicobakan terbang tanpa mengganggu aktivitas penerbangan di alun-alun Wonosobo, Sabtu (19/8/2017).

UJICOBA: Dua balon udara yang diujicobakan terbang tanpa mengganggu aktivitas penerbangan di alun-alun Wonosobo, Sabtu (19/8/2017). (Istimewa)

WONOSOBO–Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia, Sabtu (19/8/2017), menginisiasi uji coba penerbangan balon udara tradisional dengan metode ditambatkan di Wonosobo.

Kegiatan ini merangkul sejumlah komunitas balon udara setempat. Hasilnya, balon-balon udara tradisional yang ditambatkan, berhasil mengudara dengan aman dan terkendali, sesuai peraturan penerbangan sipil.

Sekretaris Perusahaan AirNav Indonesia, Didiet K. S. Radityo, menjelaskan, keberhasilan uji coba ini hasil kerja sama luar biasa antara AirNav Indonesia, Pemkab Wonosobo dan masyarakat Wonosobo. “Kami merumuskan standar penerbangan balon udara yang ditambatkan ini bersama-sama, berdasarkan best practice yang dilakukan komunitas balon udara Wonosobo, diselaraskan dengan peraturan penerbangan sipil yang berlaku di domestik maupun internasional.”

Soal balon udara, kata Didiet, sangat penting diatur penerbangannya. Sebab, penerbangan balon udara tradisional menjadi perhatian serius dunia penerbangan.

“Pada periode angkutan Lebaran tahun ini, laporan pilot kepada kami mengenai balon udara naik 450 persen, dari 14 laporan pada 2016 menjadi 63 laporan pada 2017. 44 persen laporan mengatakan melihat balon udara pada ketinggian di atas 25 ribu kaki, ini sangat berbahaya bagi keselamatan penerbangan,” papar Didiet.



Sebab, lanjut Didiet, balon udara dapat menimbulkan gangguan, bahkan kerusakan pada kinerja pesawat udara. “Jika balon udara terhisap mesin pesawat, maka bisa merusak. Bahkan, mengakibatkan mesin mati. Bila tersangkut di sayap, sirip atau moncong pesawat, maka akan mengganggu fungsi kendali dan sensor pesawat. Saat kami menjelaskan hal ini kepada masyarakat, ternyata mereka memang baru mengetahui bahaya menerbangkan balon udara yang tidak ditambatkan,” terangnya.


Sebagai satu-satunya operator penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di ruang udara Indonesia, AirNav Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap isu ini.

“Pemberitaannya sangat luar biasa pada angkutan Lebaran lalu. Bahkan, media internasional turut mengulas mengenai hal ini. Maka dari itu, penerbangan balon udara tradisional ini perlu kita standarkan selaras dengan aturan penerbangan sipil, karena menyangkut citra Indonesia di mata internasional,” ucap Didiet.


Sebelumnya, AirNav Indonesia bersama dengan Pemkab Wonosobo dan seluruh pemangku kepentingan lain, telah mencapai kesepakatan dengan komunitas balon udara Wonosobo pada 13 Juli 2017 lalu. “Berdasarkan MoU tersebut, kami tindak lanjuti dengan merumuskan standar penerbangan balon udara tradisional dengan cara ditambatkan. Mulai dari bahan, jenis, ukuran balon udara maupun tali, dan mekanisme penambatannya. Hasilnya bisa dilihat tadi bahwa dua balon udara dapat terbang dengan aman dan turun lagi dengan aman pula tanpa mengakibatkan gangguan apapun. Masyarakat juga dapat menikmatinya lebih lama.”

Didiet berharap, uji coba di Wonosobo dapat menjadi referensi bagi daerah-daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang memiliki tradisi menerbangkan balon udara. (cr2/isk)

(sm/cr2/ton/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia