Selasa, 21 Nov 2017
radarsemarang
icon featured
Destinasi
Desa Podosoko, Rintisan Desa Wisata Alam-Budaya

Gunungan Raksasa Warnai Festival Gunung Kuli

Senin, 21 Aug 2017 18:46 | editor : Pratono

BEREBUT GUNUNGAN: Warga Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang tengah berebut gunungan pada Festival Gunung Kuli di Desa Podosoko, Minggu (20/8/2017).

BEREBUT GUNUNGAN: Warga Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang tengah berebut gunungan pada Festival Gunung Kuli di Desa Podosoko, Minggu (20/8/2017). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

Festival Gunung Kuli, Minggu (20/8/2017) , digelar di Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Seperti apa?

 

AGUS HADIANTO

RIBUAN warga Desa Podosoko dan desa lain di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, tumplek blek di lapangan Dusun Podo, Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan, Minggu (20/8) pagi. Tua, muda, perempuan, pria, remaja, hingga anak-anak, berkerumun di dekat panggung utama.

Tampak dari kejauhan, gunungan sayur dan aneka buah—juga gunungan tumpeng raksasa—digotong ramai-ramai. Di sisi berbeda, sekelompok perempuan menawan, tengah menaiki kuda lumping, diiringi tetabuhan musik. Rupanya, perempuan-perempuan berparas elok itu dari grup kesenian Jathilan Tri Mandala 2 asal Kenongo, Desa Podosoko. Mereka tengah memeriahkan Festival Gunung Kuli 2017.

“Festival Gunung Kuli adalah festival kebudayaan dari Desa Podosoko yang rutin digelar setahun sekali. Tahun ini, bertepatan dengan HUT RI, sekaligus pengembangan Desa Podosoko sebagai Kampung Rintisan Desa Wisata Alam-Budaya-Ternak. Karena itu, festival dibuat agak berbeda,” ucap Ketua Kelompok Sadar Wisata Manunggaling Karso Desa Podosoko, Rosidin, kepada Jawa Pos Radar Kedu di sela-sela acara, Minggu (20/8) kemarin.

Rosidin bercerita, Desa Podosoko dengan landmark Gunung Kuli, memiliki sisi sejarah dan budaya sangat tinggi sejak zaman kerajaan Mataram hingga revolusi kemerdekaan. Konon, menurut tutur pinutur sesepuh desa, leluhur Desa Podosoko adalah ksatria dari kerajaan Mataram. Yaitu: Dipokusumo dan Diposakti. Keduanya bermukim serta tinggal di Gunung Kuli.

“Hingga keduanya meninggal dan disemayamkan di Gunung Kuli. Keduanya meninggalkan warisan keahlian yang hingga kini diteruskan oleh warga desa. Yaitu, membuat gula aren dan gula semut serta beternak sapi. Bahkan, keduanya juga meninggalkan tradisi sinatan manggar. tradisi panen manggar (bunga kelapa) untuk membuat gula aren atau gula semut,” kata mantan kepala dusun itu, sembari membenarkan letak blangkonnya.

Tradisi sinatan manggar, menurut Rosidin, sudah menjadi ciri khas Kecamatan Sawangan. Biasanya, diselenggarakan pada festival budaya, bersamaan dengan sedekah bumi serta pengajian pada bulan Sapar. Kirab Budaya Desa Podosoko, diisi kegiatan berupa pementasan kesenian lokal. “Festival dipusatkan di daerah sekitar Gunung Kuli yang selama ini sudah dikenal sebagai wisata religi,” kata Rosidin yang juga Kasi Pemerintahan Desa Podosoko.

Konon, tutur Rosidin, Gunung Kuli mempunyai cerita yang hingga kini dipercaya oleh warga setempat. “Konon, Gunung Kuli pada zaman penjajahan Belanda hingga Jepang, ketika penduduk Podosoko berjuang dan dibombardir serta ditembaki pesawat musuh, penduduk desa bersembunyi di Gunung Kuli. Semua warga selamat dan bom pesawat musuh tidak bisa menyentuh Gunung Kuli,” papar Rosidin.

Cerita lain yang juga dipercaya, ketika Merapi akan meletus, Gunung Kuli memperlihatkan tanda-tanda peringatan kepada penduduk sekitar. “Ketika Merapi dulu meletus, banyak warga yang mengungsi ke Gunung Kuli.”

Untuk diketahui, asal nama Gunung Kuli adalah Ngungkuli atau melebihi atau lebih tinggi. Tinggi Gunung Kuli sekitar 700 mdpl. Hanya berjarak kurang lebih 15 km dari puncak Merapi. “Entah Gunung Kuli menyimpan misteri apa, namun bagian misteri tersebut, ikut membangun akar budaya masyarakat Desa Podosoko.”

Pada Festival Gunung Kuli tahun ini, sebut Rosidin, pihaknya membuat rangkaian acara dengan atraksi budaya. Di antaranya, Topeng Ireng Jagad Kawedar, Seni Campur Krido Utomo, Jathilan, dan Kubro. Juga Kirab Budaya yang diikuti warga dan instansi di Desa Podosoko.

“Kami merangkai tiga gunungan. Dua gunungan tumpeng raksasa, berukuran diameter tumpeng 1,5 meter, tinggi 3 meter berbahan beras 1 kuintal; serta ayam 50 ekor. Juga satu gunungan, buah dan sayur tinggi 4 meter, diameter 3 meter. Semua gunungan nantinya akan direbut oleh warga sebagai wujud syukur warga desa,” beber Rosidin.

Untuk itu, pihak desa mengapresiasi usaha Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip Semarang yang berupaya keras mengembangkan potensi Desa Podosoko, baik wisata, budaya, maupun peternakan. “Kami berterimakasih kepada Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip yang membimbing, mengawal bahkan membuat rintisan Desa Podosoko sebagai rintisan Desa Wisata Alam-Budaya-Ternak.”

Dosen Fakultas Peternakan Undip sekaligus Pendamping Himpunan Mahasiswa S1 Peternakan di Desa Podosoko, Daud Samsudewa menjelaskan, Podosoko memiliki budaya serta kegiatan ekonomi yang potensial untuk dikembangkan, sesuai teknologi peternakan.

“Podosoko punya banyak potensi wisata. Contohnya di sini sudah ada sentra peternakan rakyat Tri Mulyo. Yakni, peternakan sapi potong di Dusun Sobowono. Di sini ada kandang komunal atau kandang berkelompok yang sudah terbukti bagus dalam pengembangan peternakan sapi. Ini bisa menjadi salah satu wisata. Juga ada wisata religi, dan wisata selfie pemandangan yang sedang dikembangkan.”

Kades Podosoko Edi Susila sangat setuju dan mengapresiasi langkah pengembangan Desa Podosoko. “Harapannya dengan usaha rintisan Desa Wisata, ke depan akan semakin berkembang. Dulu, kehidupan masyarakat di sini stagnan. Padahal, kami punya indrustri rumah tangga gula aren dan gula semut yang belum dikembangkan.”

Camat Sawangan, Drs Wisnu Argo Budiono MM, menilai kegiatan yang dilakukan Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip sangat positif. Pihaknya mendukung kegiatan pengenalan potensi Desa Podosoko. Harapannya, bisa mengangkat potensi alam. Petani juga bisa berkembang. Ke depan, ketika Desa Podosoko sudah siap 100 persen menjadi desa wisata, akan dikomunikasikan dengan Pemkab Magelang.

Ketua Departemen Peternakan Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip, Bambang Waluyo Hadi Eko Prasetiyono mengatakan, pengembangan Desa Podosoko integrasi antara potensi wisata dan peternakan. Utamanya, di dalam pengembangan teknologi peternakan.

“Ke depan, melalui potensi peternakan akan kita kembangkan kandang wisata, wisata pengolahan pupuk, dan wisata lain. Kami juga membantu peternak untuk menciptakan pakan ternak yang berkualitas agar nantinya meningkatkan kesejahteraan peternak. Yang pasti, teknologi bisa diterapkan di desa wisata.”

(sm/cr3/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia