Sabtu, 23 Sep 2017
radarsemarang
Sosok
Jitet Koestana

Dibuatkan Warung Buku Bekas Supaya Tidak Nakal

Senin, 07 Aug 2017 14:05 | editor : Pratono

MELUKIS DI RUMAH : Jitet Koestana saat menyelesaikan lukisan di kediamannya. Jalan hidup membawanya menekuni bidang seni sebagai kartunis.

MELUKIS DI RUMAH : Jitet Koestana saat menyelesaikan lukisan di kediamannya. Jalan hidup membawanya menekuni bidang seni sebagai kartunis. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

Siapa yang tidak kenal dengan Jitet Koestana. Di dunia kartun, sosok kelahiran Semarang, 4 Januari 1967 ini, adalah salah satu kartunis senior Kota Semarang dan boleh dikatakan sebagai legenda hidup. Tak hanya di Indonesia, para kartunis internasional pun mengakui hal tersebut. Sebab, sudah ratusan penghargaan ia dapatkan dari berbagai lomba di kancah internasional. 

PENUH IDE : Jitet dengan lukisannya berjudul perang.

PENUH IDE : Jitet dengan lukisannya berjudul perang. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

Terbaru, Jitet juga menyabet sejumlah penghargaan dalam waktu yang berdekatan. Yaitu peraih Silver Medal Winners of 2017 Philosopher Wang Yangming Caricature & Ancient China in the Eyes of Artists International Competition & Exhibition, Special Prize 37th International Nasreddin Hodja Cartoon Contest-Turkey 2017, Special prizes Libo International Children Animation and Comics Festival 2017 dan masih banyak lainnya.

Jitet menceritakan, profesi menjadi kartunis seperti sekarang adalah sesuatu yang kebetulan. Sebab, ketika masih bersekolah di STM, Jitet termasuk siswa nakal alias suka tawuran. Bahkan, karena kenakalan itu juga ia memutuskan untuk keluar dari sekolah. “Orang tua saya pusing sekali pada waktu itu. Beruntung, meskipun berprofesi sebagai pedagang pakaian bekas, orangtua saya orangnya care. Saya dibuatkan warung buku bekas supaya tidak nakal,” kata salah seorang kartunis senior Semarang Cartoon Club (Secac) ini.

Dari keprihatinan orangtua itu, Jitet mulai berkutat dengan banyak buku bacaan di warung buku bekasnya itu. Mulai dari buku filsafat, teologi dan macam-macam lainnya. Asal ia suka, buku itu akan dibaca. Menariknya lagi, Jitet tak segan-segan berburu buku ke Pasar Johar. “Sejak itu mulai berkarya. Satu media saya kirim 30 dan tidak dimuat, kirim 50 diambil satu. Nah, dari situ mulai ada harapan. Lanjut dan mulai intens ikut kompetisi internasional,”katanya.

Diakuinya, ada nama-nama besar kartunis Indonesia di balik kesuksesannnya itu. Seperti, Jaya Suprana, GM Sudarta, Dwi Koendoro, Pramono R. Pramoedjo, Yehana SR, Darmito M Sudarmo, Goenawan Pranyoto, Prie GS, hingga Koesnan Hoesi. “Saya lihat karya mereka di berbagai media cetak, semakin dilihat semakin termotivasi hingga muncul kata-kata saya pasti bisa melampaui mereka. Dan itu terbukti sekarang. Kira-kira butuh setahun sebelum akhirnya menang di Jepang tahun 1990,” katanya sambil tertawa.

Berprofesi sebagai kartunis susah-susah gampang. Susahnya terletak dalam mencari ide atau gagasan apa yang hendak disampaikan melalui gambar kartun. Gampangnya bahwa semua orang bisa menggambar jadi kartunis tidak terpaku pada bakat. “Makin banyak baca karya itu makin kaya dan semakin dalam. Misalnya, ada tema holocaust kalau kita nggak paham, pasti hanya diartikan dangkal yakni penyiksaan tentara Yahudi di Jerman,” ungkapnya.

Menurutnya, pengalaman dan ketekunan berbanding lurus dengan hasil. Contoh kecil, sekarang dalam menciptakan 1 karya seni, ayah empat anak ini hanya butuh waktu 3-7 jam. Padahal, jauh sebelum itu, Jitet muda butuh berhari-hari untuk menyelesaikan satu gambar kartun. Sedangkan, ada dua jenis cat yang digunakan tergantung media apa yang hendak dipakai. Media kertas cukup dengan cat air sedangkan media kanvas harus menggunakan cat akrilik . “Satu gambar saja dulunya butuh waktu setidaknya satu minggu. Ya, itu alasannya, menemukan ide dan gagasan yang paling susah kalau ngomong tentang kartun. Beda dengan sekarang, cukup buka internet sudah bisa memunculkan ide,” ungkapnya.

Raih 132 Penghargaan Internasional

Sederet prestasi sudah ditorehkan oleh Jitet. Saking banyaknya, Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) mencatat lelaki yang kini mempunyai dua cucu itu sebagai penerima penghargaan internasional terbanyak pada 1998. Uniknya, jumlah saat itu baru sekitar 36 penghargaan.

“Sekarang jumlahnya belum di update mas, yang jelas sudah seratusan lebih,” katanya sambil bercanda. Saat koran ini melakukan wawancara dan mencoba menghitung, diperoleh data bahwa ada sekitar 132 penghargaan internasional sudah ditorehkan oleh Jitet. Dan jumlah itu dipastikan akan terus bertambah mengingat lelaki yang berusia setengah abad ini belum ada tanda-tanda untuk berhenti berkarya. “Masih tetap konsisten berkarya. Ini sudah seperti bagian dari hidup,” kekehnya.

Namun prestasi tersebut tak lantas dijadikan patokan untuk ditularkan kepada anak-anaknya. Ia mempersilahkan keempat anaknya untuk memilih passion masing-masing. “Menggambar itu adalah hal yang gila, dibutuhkan mental kuat. Intinya, mereka tidak nyolong, tidak negatif, tidak narkoba itu yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak. Setidaknya mereka bisa bermanfaat kepada orang lain, itu sudah cukup,” katanya.

Mungkin hal itu tidak berlebihan. Sebab dari empat anaknya itu belum ada satupun yang mengikuti jejak menjadi seorang kartunis. Ada yang kini menjadi guru, bekerja di pelayaran dan masih menyelesaikan tugas kuliah. “Belum ada yang ikut, masih pelan-pelan. Kemarin saya coba dorong tapi lewat. Maklum masih pemula beda dengan kompetitor yang sudah profesional. Karikatur itu berat ya karena tadi, tak sekedar gambar. Tak kuat mental bisa gila. Tidak saya paksakan toh saya bisa menjadi seperti ini pun tidak dipaksakan oleh orang tua,” ungkapnya.

(sm/aaw/ton/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia