Rabu, 20 Sep 2017
radarsemarang
Features
Travelling ala Keluarga Gol A Gong

Bertemu Komunitas, Baca Puisi Kampanyekan Literasi

Rabu, 02 Aug 2017 09:04 | editor : Pratono

LITERASI : Gol A Gong (kedua dari kanan) mengampanyekan gerakan literasi di halaman kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Wonosobo.

LITERASI : Gol A Gong (kedua dari kanan) mengampanyekan gerakan literasi di halaman kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Wonosobo. (Sumali Ibnu Chamid/Jawa Pos Radar Kedu)

Dulu dikenal dengan Gola Gong. Sekarang saja berbeda penulisannya menjadi: Gol A Gong. Tapi orangnya sama. Novelis yang memiliki tangan tidak sempurna. Karyanya yang terkenal pada 1990-an adalah Balada Si Roy. Kini, memasuki usia 50 tahun, Gol A Gong, bersama keluarganya, rajin mengkampanyekan gerakan literasi dari kota ke kota. Seperti apa?

SORE itu, berbagai komunitas di Wonosobo, tengah berkumpul di halaman kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda). Tepatnya, di sebelah selatan Alun-Alun. Kegiatan yang dimaksud, dihelat oleh Komunitas Kata Bicara. Sebuah komunitas berbagai latarbelakang; musik, puisi, beat box, musik rock, penari, juga pelukis.

Ada yang ditunggu oleh mereka. Yakni, keluarga Gol A Gong. Pukul 16.00, Gol A Gong bersama istrinya, Tias Tantaka dan tiga anaknya: Gabriel Firmansyah, Harris Jordy Alghifari Harri, Natasha Azka Noorsyamsa Harris, datang ke lokasi.

“Saya di Wonosobo punya kenangan. Saat masih SMA pernah melakukan perjalanan sampai sini saat menulis Balada Si Roy. Waktu itu masih sendiri. Nah, hari ini (kemarin) saya datang lagi bersama istri dan anak-anakku,” kata Gol A Gong kepada Jawa Pos Radar Kedu.

Gol A Gong berkisah, Wonosobo merupakan kota ke-17 yang ia kunjungi. Gong berangkat dari Taman Bacanya Rumah Dunia di Serang, Banten, sejak 30 Juni lalu. Beberapa kota lain yang disinggahi adalah Cirebon, Tegal, Pekalongan, Solo, Ngawi, Jombang, Surabaya, Bojonegoro, Rembang, Jepara, dan Semarang. Kota lain yang akan disinggahi adalah Purwokerto, kemudian Bandung.

“Saya di Wonosobo rencananya tiga hari. Selain bertemu komunitas penulis, juga akan ngobrol soal bagaimana membuat film,” kata pria yang pernah menjadi produser sebuah acara di stasiun TV swasta itu.

Selain dikenal sebagai penulis Balada Si Roy, Gong pernah sibuk menjadi produser salah satu acara di televisi swasta. Nah, sejak mengundurkan diri dari dunia pertelevisian, Gong menjadi sosok yang peduli terhadap dunia literasi di Indonesia. Pada 2006, wartawan koran ini pernah berkunjung ke rumahnya: Rumah Dunia.

Melalui Rumah Dunia, Gong mengajak warga Banten peduli membaca. Di rumahnya, tersedia berbagai koleksi buku, termasuk panggung untuk ajang ekpresi anak; berpuisi dan bersastra. Di bagian lain, juga ada galeri lukisan dan foto. Rumah Dunia berdiri sejak 2000. Setiap tahun, memiliki agenda Ode Kampung Dunia; sebuah acara pertemuan sastrawan nasional.

“Awalnya lingkup Banten, sekarang kampanye literasi nasional. Saya bahkan pernah ke beberapa negara,” kata pria bernama asli Heri Hendrayana Harris itu. Gong menyebut, perjalanan kali ini bersama keluarganya, bernama Gempa Literasi Generasi Jaguar. Gempa Literasi merupakan kampanye kesadaran membaca melawan kebodohan.

Sedangkan generasi Jaguar, akronim dari Jantan berarti berani-benar, Andal membantu kebaikan, Gagah sehat jiwa dan raga, Unik menumbuhkan potensi , inovatif, Aktif penuh ide dan kreatif, terakhir Responsif peduli, empati dan toleransi. “Selama perjalanan, kami ajak budaya membaca, sharing pengalaman, dan tidak kalah penting membaca puisi,” kata Gong.

Momentum perjalanan ini, kata Gong, selain sebagai liburan keluarga, juga menjadi bagian salam membangun budaya baca yang semakin hari makin menurun. Apalagi modernisasi teknologi yang belum secara tepat dimanfaatkan. Tidak hanya itu, perjalanan literasi dibarengkan dengan Hari Puisi, 27 Juli. “Jadi, di setiap kota saya membaca puisi, bersama istri dan anak-anak saya.”

Dalam perjalanan ini, kekompakan keluarga juga sangat tampak. Gong tidak pernah memaksa anaknya untuk membaca puisi. Misalnya saja Natasha, si bungsu saat berada di Wonosobo, pilih merekam semua proses menggunakan videonya ketimbang naik panggung.

Sedangkan Jordy ikut membaca puisi bersama Gong. Gabriel pilih ngerap, berkolaborasi dengan ibunya: Tias Tantaka. Selain ajakan budaya literasi, Gong juga tetap mengajak keluarga ke sejumlah objek wisata. Di antaranya, Dieng dan melongok sunrise Si Kunir. “Satu anak kami yang sulung, Nabila kebetulan tidak ikut, masih sekolah di Tiongkok,” katanya.

Selain ngerap, Gabriel juga berbagi ilmu. Anak kedua Gong yang saat ini sekolah di Dhubai, berkisah tentang tips diterima beasiswa di luar negeri. Beberapa remaja Wonosobo tampak terpikat dan terlibat obrolan dengan Gabriel. Sedangkan Tias Tantaka melalui forum-forum diskusi, lebih mengangkat tema tentang keluarga.

“Jadi kami berbagi peran. Kalau memang anak-anak ada yang lagi malas naik panggung, ya ambil bagian lain. Tidak ada paksaan,” kata Gong.

Untuk modal perjalanan, Gong berkisah, mereka menggunakan mobil putihnya. Sepanjang perjalanan disopiri sendiri. Jika capek, gantian dengan Tias. Total duit yang sudah dihabiskan untuk membeli pertamax mobilnya sekitar Rp 1,5 juta. Menariknya, modal untuk membeli bensin, berasal dari jual buku karyanya berupa kumpulan puisi. Dari buku itu pula, persembahan puisi di setiap kota dibacakan. “Bukunya sudah habis, kami cetak sendiri sekitar 200 eksemplar dan sudah habis. Sebagian buat modal bahan bakar mobil selama perjalanan.”

Setelah Wonosobo, keluarga Gong masih menyisikan dua kota: Purwokerto dan Bandung. Di dua kota itu, mereka akan bertemu Komunitas Taman Baca Masyarakat (TBM).

Intinya, Gong dan keluarga mengajak berbagai komunitas untuk menghidupkan budaya literasi demi melawan kebodohan. Perjalanan serupa juga pernah dilakukan Gong ke luar negeri berlabel Gempa Literasi Asia. Tahun lalu, Gong mengunjungi Singapura, Malaysia, Thailand, India, UEA, Qatar, dan Arab Saudi. Pada 2012, Gempa Literasi menyasar semua wilayah Banten.

“Gempa literasi untuk tahun ini, awalnya berasal dari ide kecil. Saat itu saya diundang Unisa, kemudian saya lempar di media social. Ternyata banyak kota yang minta dikunjungi. Jadilah Gempa Literasi Generasi Jaguar,” jelasnya.

(sm/ale/ton/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia