Kamis, 21 Sep 2017
radarsemarang
Radar Semarang
Praktik “Bilik Asmara” di Lembaga Pemasyarakatan

Tarif Hari Biasa Rp 300 Ribu, Lebaran Bisa Rp 700 Ribu

Senin, 31 Jul 2017 11:03 | editor : Pratono

Ilustrasi

Ilustrasi (Hartantio Kurniawan/Jawa Pos Radar Semarang)

Keberadaan 'bilik asmara' bagi narapidana (napi) ternyata memang ada. Meski tidak resmi, ruangan untuk melampiaskan kebutuhan syahwat ini kerap dimanfaatkan para napi, khususnya yang berduit. Seperti apa?

DI lapas terbesar di Kota Semarang, keberadaan bilik asmara ini sudah bukan rahasia umum lagi. Sudah banyak napi yang mengetahuinya, termasuk mantan napi yang sudah menghirup udara bebas. Salah satunya nantan napi kasus korupsi berinisial AM.

Menurut AM, secara aturan memang tidak diperbolehkan adanya bilik asmara di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) maupun Rumah Tahanan (Rutan), termasuk untuk pasangan suami istri (pasutri) sah. Namun faktanya, keberadaan tempat memadu kasih sesaat ini sangat dibutuhkan. Apalagi bagi napi yang sudah bersuami atau beristri.

Saat masih menjadi tahanan lapas, AM mengaku dalam setahun mendapat kesempatan satu kali melakukan hubungan badan dengan istrinya di salah satu ruang kosong yang disulap menjadi bilik asmara. Hal itu dialami saat lebaran atau Idul Fitri. “Ya, syaratnya ‘tahu sama tahu’ dengan petugas. Sudah paham maksudnya kan?” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakui, selama ini praktik bilik asmara ini masih dilakukan ‘kucing-kucingan’ oleh oknum petugas lapas dan rutan. Biasanya untuk bisa memboking bilik asmara di lapas, setiap napi bisa lewat perantara Tamping atau Kurve yang bertugas di bagian pemeriksaan. Sehingga transaksi yang dilakukan tidak langsung dengan oknum petugas lapas. 

Tamping adalah napi yang membantu petugas untuk menjaga dan mengatur warga binaan yang lain.  Syarat untuk menjadi Tamping ini di antaranya harus berdedikasi, memiliki kemampuan memimpin, berkelakuan baik, dan bisa berlaku adil. Kepada mereka diberi kebebasan tertentu, yakni dapat dengan leluasa bergerak dan menghirup udara segar, keluar masuk sel, tidak seperti tahanan lainnya yang sangat dibatasi.  

Karenanya ada rumor di rutan untuk menjadi Tamping ini kadang tidak lagi berdasar aturan, tapi sudah menjurus ke "bisnis" di rutan, serta bersedia menjadi kaki tangan petugas mengatur pemungutan "upeti" di kalangan napi, termasuk dalam ‘transaksi’ penggunaan bilik asmara.

“Jadi, kepala lapas, kabag, dan petugas-petugas yang punya jabatan di lapas memiliki tangan kanan sendiri dari napi yang dipercaya jadi Tamping maupun Kurve. Sehingga masalah kencan biasanya dilakukan melalui mereka, bukan ke petugas langsung,”katanya.

AM mengatakan, tarif yang dipatok untuk sekali kencan di bilik asmara bervariasi. Mulai Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu sekali pakai. Sedangkan saat lebaran, menurut AM, tarifnya lebih mahal, mulai Rp 400 ribu hingga Rp 700 ribu. Selain dengan pasangan sah, lanjut AM, tak sedikit napi yang memboking wanita dari luar. Adapun ruang yang digunakan juga sembarangan. Bisa ruang kosong dan terkadang cuma kamar mandi dengan alas tikar. Namun khusus lebaran yang rata-rata dibanjiri pembesuk, disediakan bilik khusus lengkap dengan kasurnya di dalam kamar. Hanya saja, bilik asmara khusus ini hanya untuk “kencan” dengan pasangan yang sah.

“Memang nggak semua napi bisa memanfaatkan bilik asmara ini, hanya napi yang punya duit dan yang bisa dipercaya yang bisa pakai. Karena praktik bilik asmara kan tidak resmi,” tandasnya.

AM sendiri menilai keberadaan bilik asmara di lapas sangat penting. Sebab, hampir semua napi yang sudah berkeluarga butuh tempat menyalurkan hasrat biologis. Jika napi tidak  diberikan kesempatan menyalurkan kebutuhan seksual, kata AM, justru akan berdampak negatif. Misalnya, terjadinya praktik sodomi sesama jenis, oral seks, dan perilaku negatif lainnya.

“Jadi, baiknya memang ada (bilik asmara). Harapan saya sebagai mantan napi diberikan kesempatan khusus pasutri menuntaskan kebutuhan biologis tersebut, sehingga bisa mencegah terjadinya perselingkuhan. Yang terpenting, setiap napi yang akan memanfaatkan bilik asmara harus bisa menunjukkan KTP, buku nikah dan sebagainya,”beber AM.

Ketua Paguyuban Narapidana dan Mantan Narapidana, Rahadi Ramelan, sebelumnya mengatakan, para napi kerap melanggar aturan demi memuaskan hasrat biologis mereka. Salah satunya dengan memanipulasi izin berobat ke dokter agar bisa keluar sementara dari lapas dan bisa berkencan dengan istri atau wanita lain.

Ia mengakui, banyak napi yang kerap memanfaatkan celah di penjara sekadar untuk berhubungan intim.  Karena itu, pihaknya meminta agar aturan ruangan khusus bercinta segera direalisasikan. Namun tentunya, dengan pengawasan yang ketat agar tidak terjadi praktik prostitusi.

"Kalau kita nggak menyediakan ruang khusus akan terjadi pelanggaran. Masalahnya kan cuma satu, kalau disediakan ruang khusus apa betul itu istrinya? Jangan sampai dipakai prostitusi,”tandasnya.

Hal senada diungkapkan pengacara Novel Al Bakri yang juga pernah mendekam di sel lapas. Menurutnya, banyaknya kejadian kekerasan antarnapi di dalam lapas boleh jadi karena ada hasrat biologis yang tak terpuaskan. Terutama para napi yang sudah punya suami atau istri. Pengaruh psikologis orang yang tidak bisa menyalurkan hasrat seksual bisa bermacam. Salah satunya sulit mengontrol luapan emosi, sehingga jadi mudah marah.  "Para napi yang punya karakter keras, punya potensi untuk bertindak arogan di dalam lapas. Itu dipicu dari tidak tersalurkan syahwat mereka," terang Novel Al Bakri kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menerangkan, salah satu penyebab adanya kasus sodomi di balik jeruji besi adalah karena tidak adanya 'bilik asmara'. Mereka jadi menghalalkan segala cara untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Kalau tidak segera dipikirkan solusi, lanjutnya, akan berdampak pada semakin luas tindak kejahatan atas hukuman napi. "Ini sudah masuk dalam kejahatan kemanusiaan," katanya.

Para napi pun kesulitan jika terpaksa harus melakukan self service  alias –maaf—masturbasi (onani). Nyaris tidak ada kesempatan untuk melakukannya. Kamar mandi pun bukan tempat ideal, karena tempatnya kurang nyaman. Kesempatan yang ada biasanya malam hari ketika teman satu sel sudah pada tidur.  "Itu pun kadang masih ketahuan sama temannya karena ternyata belum tidur. Lagipula menurut saya self service bukan solusi karena tidak dianjurkan agama," ucapnya.

Tak hanya di dalam lapas, dampak negatifnya juga merambat ke keluarga napi. Terutama suami atau istrinya. Mereka yang tidak melakukan kesalahan, ikut menanggung hukuman. Terpaksa menahan birahi. Hal itu jelas merentankan keutuhan rumah tangga.

"Kalau istri yang di rumah digoda pria lain bagaimana? Kondisi tidak pernah disentuh laki-laki, eh ada yang menggoda. Karena ini bukan bicara minggu atau bulan. Tapi tahunan," bebernya.

Dia mengakui, ada banyak cerita rumah tangga hancur gara-gara permasalahan tersebut. Pernah ada napi yang gantung diri gara-gara dicerai istrinya yang memilih menerima lamaran dari pria lain. "Jadi gara-gara aturan tidak boleh berhubungan suami istri, banyak napi yang setelah keluar dari lapas, malah hancur rumah tangganya. Ya, gara-gara itu. Yang di luar lapas ikut menahan syahwat. Kalau yang di dalam penjara, mungkin rela menahan, karena merasa itu konsekuensi dari tindak kejahatan mereka," paparnya.

Dari pengalamannya selama di lapas, hanya napi pemilik power dan uang saja yang bisa melampiaskan hasrat mereka. Bisa keluar lapas atau mengondisikan ruangan di lapas untuk berhubungan suami istri dengan pasangan masing-masing. Yang tidak punya uang atau tidak pengaruh di dalam lapas, terpaksa harus menahan. Bahkan ada yang jadi korban. Korban sodomi, atau disuruh mengoral napi lain yang punya 'kekuasaan'. "Lama-lama itu malah bisa jadi penyimpangan seksual. Karena itu, ruangan untuk memfasilitasi hubungan suami istri harus segera disediakan," harapnya.

Bilik asmara, lanjutnya, tidak perlu melulu untuk berhubungan suami istri. Napi juga bisa bercengrama dengan anak-anak mereka untuk menjaga ikatan emosional keluarga. "Nanti teknisnya, napi dibebani biaya sekian untuk uang kebersihan misalnya," katanya.

Hanya saja, Novel menegaskan, penjaga lapas harus disiplin jika bilik asmara benar-benar disediakan. Jangan sampai bilik asmara justru jadi praktik prostitusi. Menjadi tempat pelampiasan seksual dengan lawan jenis yang belum sah berstatus suami istri.

"Kalau bilik asmara tidak disediakan, berarti pemerintah tidak punya hati," tegasnya.

Di lain pihak, mantan napi yang enggan disebutkan namanya mengaku pernah menjadi korban seksual sesama napi. Pria yang dipidana karena mencuri sepeda motor ini pernah disodomi satu kali oleh napi yang 'berkuasa' di lapas. "Saya tidak bisa apa-apa karena selalu di-bully. Kejadiannya malam hari. Saya juga malu mau lapor petugas," ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai cara melampiaskan hasrat seksualnya, bujangan ini mengaku hanya melakukan self service di kamar mandi. Itu pun kalau benar-benar kepingin. "Soalnya memang nggak nyaman. Kalau ketahuan teman malah makin di-bully," tegasnya.

Terpisah, Kepala Lapas Kedungpane Semarang Taufiqurahman mengatakan, terkait usulan bilik asmara memang belum ada payung hukum maupun regulasinya. Sehingga di lapasnya tidak disediakan. “Belum ada regulasi yang mengatur tentang itu (bilik asmara, Red). Termasuk wacana sampai saat ini memang tidak ada,” kata Taufiqurahman singkat.

Humas Lapas Kedungpane, Fajar Sodiq, membantah adanya bilik asmara maupun sejenisnya di Lapas Kelas I Kedungpane Semarang.

(sm/jks/mha/ton/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia