Kamis, 21 Sep 2017
radarsemarang
Radar Kedu
Festival Lima Gunung, Festival Hati

Pentaskan Pagi dari Telompak

Sabtu, 29 Jul 2017 13:42 | editor : Pratono

BERCERITA TENTANG CAHAYA ALAM: Tarian Tlompak yang menceritakan perlambang kejadian yang berlatar pada alam, ditampilkan oleh tujuh penari dari Katon Art Keron Sawangan Magelang. Tarian ini sekaligus membuka gelaran Festival Lima Gunung XVI di Dusun Gejay

BERCERITA TENTANG CAHAYA ALAM: Tarian Tlompak yang menceritakan perlambang kejadian yang berlatar pada alam, ditampilkan oleh tujuh penari dari Katon Art Keron Sawangan Magelang. Tarian ini sekaligus membuka gelaran Festival Lima Gunung XVI di Dusun Gejay (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

BAHAN ALAM: Patung Garuda raksasa di panggung utama yang dibuat seniman Dusun Gejayan Desa Banyusidi.

BAHAN ALAM: Patung Garuda raksasa di panggung utama yang dibuat seniman Dusun Gejayan Desa Banyusidi. (Mukhtar Lutfi/Jawa Pos Radar Kedu)

FESTIVAL Lima Gunung yang berlangsung selama tiga hari (28-30 Juli 2017) di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jumat (28/7) kemarin, dibuka dengan tarian Telompak. Tarian ini menggambarkan perlambang kejadian yang berlatar pada alam, dengan tujuh penari yang melenggok gemulai. Performance diberi judul Pagi dari Telompak.

Para penampil tari berasal dari Katon Art Keron Sawangan Magelang. Tujuh penari yang terlibat pementasan adalah Anton Prabowo (koreografer), N. Subagya, Mutiara F, Valentina Ambarwati, Galuh Kusuma, Rahajeng N, dan Lariska V. Mereka mahasiswa Jurusan Kerawitan dan Tari ISI Yogyakarta. “Pagi dari Telompak menceritakan tentang cahaya alam menjadi sebuah harapan untuk kehidupan. Cahaya alam memberi kehidupan,” kata Anton.

Adapun sumber air Tlompak, kata Anton, konon ceritanya warga sekitar pernah mengalami paceklik. Nah, pada saat itu, warga bisa mengambil air dari mata air Telompak yang menjadi setting lokasi pementasan. Ya, Pagi dari Telompak, kemarin, resmi mengawali dimulai Festival Lima Gunung XVI 2017.

Ketua Panitia Festival Lima Gunung, Riyadi, mengatakan panggung utama burung Garuda raksasa berbahan alam dan dedaunan. Dibuat oleh seniman Dusun Gejayan, Desa Banyusidi. Kerangka burung terbuat dari bambu. Sedangkan menutup kerangka menggunakan jerami, janggel, klobot, bunga pinus, simbar, maupun bunga pakis. Butuh waktu selama satu bulan mengerjakan Garuda raksasa.

“Kami ingin Festival Lima Gunung kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu, kami membuat panggung yang multi tinggi dan bisa dijadikan selfie bagi penonton dengan latar belakang burung Garuda. Garuda kan simbol kegagahan maupun kekuatan. Kami memanfaatkan bahan-bahan alam yang ada di sekitar sini.”

Festival Lima Gunung XVI 2017 akan menampilkan sekitar 60 grup kesenian. Baik para penampil seniman lima gunung serta dari seniman-seniman lainnya. Mereka dari Yogyakarta, Semarang, Salatiga, Temanggung, Wonosobo, Banten, Lumajang, Kupang (NTT), Kediri dan Sampit (Kalteng).

“Kami berterima kasih Festival Lima Gunung hingga kini masih menggelar festival. Tema ini sebagai kritik sosial atas perkembangan situasi yang terjadi untuk diperbaiki secara cerdas,” sentil Riyadi.

 

Sejumlah penonton yang datang menyaksikan pergelaran kebudayaan dan kesenian pada Festival Lima Gunung XVI mengapresiasi kegiatan tahunan tersebut. Dimas Prasetyo, 25, warga Semarang yang datang dari jauh untuk menyaksikan festival tersebut berpendapar, Festival Lima Gunung merupakan tradisi pesta komunitas seniman yang layak ditiru oleh seniman lainnya di negeri ini.

“Ini festival keren. Keren sekali. Meski sederhana, tapi yang terlibat merupakan seniman, budayawan yang betul-betul menjunjung tinggi hakikat berkesenian dan berkebudayaan yang sebenarnya.”

Jaring Anggotanya Sekeluarga

Padepokan Wargo Budoyo, Dusun Gejayan, Desa Banyusidi Pakis, Kabupaten Magelang, yang saat ini menjadi tuan rumah Festival Lima Gunung XVI, menyimpan kesenian yang berbeda.

Padepokan Wargo Budoyo berdiri pada 2000 silam. Awalnya, hanya sebatas mengenalkan Tari Soreng, yang sudah berkembang sejak 1970-an di lereng Merbabu, Kecamatan Pakis. Tari Soreng adalah tarian rakyat yang mengambil kisah dari Aryo Penangsang. Sedangkan Soreng merupakan prajurit pilihan Aryo Penangsang.

“Sebenarnya sejarah Tari Soreng sendiri tidak begitu jelas, karena sebetulnya Aryo Penangsang ada di wilayah pesisir pantura dan seharusnya Tari Soreng muncul di sana. Mungkin saja, prajurit dari Aryo Panangsang ada yang lari ke lereng Merbabu dan akhirnya menetap hingga saat ini menjadi budaya,” kata Ketua Padepokan Wargo Budoyo, Riyadi.

Riyadi menjelaskan, Tari Soreng sebenarnya bermakna menggambarkan keperkasaan, kegagahan, dan keprajuritan. Tari Soreng yang selama ini dilestarikan oleh seniman di lereng Merbabu, menurut Riyadi, selalu dibawakan oleh orang-orang dewasa. “Ternyata, anak-anak dan ibu-ibu di lereng Merbabu ingin ikut menari. Nah, dalam perkembangannya, Wargo Budoyo lantas menciptakan tari Gecolan Bocah, tari Gupolo Gunung, Kipas Mega, dan Topeng Ireng.”

Tari Gecolan Bocah, lahir ketika kesenian warok, dibawakan oleh anak kecil usia sekolah dasar, justru terkesan lucu dan menyenangkan. Bukan malah menyeramkan, karena selama ini pakemnya dibawakan oleh orang dewasa.

Sedangkan Kipas Mega, dibawakan oleh ibu-ibu yang membawa kipas dengan berlenggak-lenggok. Maknanya, ibu-ibu menjadi pejuang, dengan memakai kipas untuk mengipasi dapur agar terus mengebul.

“Jadi begini, bapak yang menjadi penari Tari Soreng, anaknya menjadi penari Gecolan Bocah dan ibunya menjadi penari Kipas Mega. Jadi, satu keluarga bisa menjadi satu seniman.”

Musik pengiring tarian pun, lanjut Riyadi, hampir sama yang dipukul oleh sepuluh pemain musik. “Yang membedakan hanya Tari Soreng, Kipas Mega ada bende, jedor, trunthung. Sedangkan Gejolan Bocah ada tambahan kendang saja. Untuk personel musik, orangnya sama.”

Padepokan Wargo Budoyo sendiri kerap pentas di luar Magelang. Antara lain, di Jakarta, Semarang, Surakarta, Bandung hingga Surabaya.

(sm/cr3/ton/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia