Sabtu, 25 Nov 2017
radarsemarang
icon featured
Radar Kedu
Festival Lima Gunung, Festival Hati

Mari Goblok Bareng

Sabtu, 29 Jul 2017 13:38 | editor : Pratono

AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU BERCERITA TENTANG CAHAYA ALAM: Tarian Tlompak yang menceritakan perlambang kejadian yang berlatar pada alam, ditampilkan oleh tujuh penari dari Katon Art Keron Sawangan Magelang. Tarian ini sekaligus membuka gelaran Festi

AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU BERCERITA TENTANG CAHAYA ALAM: Tarian Tlompak yang menceritakan perlambang kejadian yang berlatar pada alam, ditampilkan oleh tujuh penari dari Katon Art Keron Sawangan Magelang. Tarian ini sekaligus membuka gelaran Festi (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

Festival Lima Gunung yang rutin digelar di wilayah pegunungan Kabupaten Magelang, selalu menarik untuk disimak. Tidak hanya dari sisi pementasan kesenian, tapi juga dari segi tema. Nah, pada gelaran Festival Lima Gunung (28-30 Juli 2017) kali ini, tema yang diangkat cukup menggelitik: Mari Goblok Bareng.

“MARI Goblok Bareng adalah sebuah upaya untuk membedah entitas bahwa zaman sekarang banyak orang yang merasa pintar, tahu info sedikit saja langsung disebar dan seolah-olah paling tahu dibanding yang lain, hingga akhirnya menggoblok-goblokan orang lain,” jelas budayawan Riyadi, Ketua Padepokan Wargo Budoyo sebagai wakil gunung Merbabu kepada koran ini, Jumat (28/7/2017) malam.

Menurut Riyadi, setiap pelaksanaan Festival Lima Gunung, mempunyai tema-tema yang berbeda. Lebih tepatnya, menyesuaikan makna yang sedang terjadi di bumi Indonesia. “Maka dari itu, untuk tema yang sekarang, adalah Mari Goblok Bareng.”

Sang Nanang pada blognya sangnanang.com menguraikan, tema Mari Goblok Bareng memang menggelitik. Orang yang sedikit ilmu pengetahuannya dibilang goblok. Orang yang tidak begitu mengikuti tren perkembangan disebut goblok. Pun, orang yang melakukan kecerobohan, juga dikatakan goblok.

Orang jujur yang tidak mau diajak oleh teman-teman di sekitar kantornya, juga dikatakan goblok oleh beberapa kelompok orang lain. “Ternyata uraian dan ungkapan tenteng kegoblokan, tidaklah sesempit yang kita pikirkan selama ini. Kata goblok memiliki dimensi yang sangat luas maknanya, terlebih lagi jika dilihat dari berbagai disiplin analisis, mulai bahasa, sosial-budaya, psikologi, sosiologi, bahkan sekedar ilmu othak-athik gathuk,” tulisnya.

Sang Nanang juga menulis, seiring dengan wolak-waliking zaman edan, terminologi goblok juga bisa jadi kebolak-balik dalam penerapannya. Profesor yang jujur dan tidak mau korupsi, bisa saja dikatakan goblok oleh para kroni koruptor di lingkungannya. Anggota dewan yang tidak benar-benar secara tulus mewakili kepentingan rakyat, sah saja bagi rakyat untuk menyebutnya goblok.

“Aparatur pemerintah yang tidak menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya juga sangat harus kita katakan goblok. Bahkan kita tidak jarang mengatakan seseorang sebagai “pintar sekali”, padahal yang kita maksudkan justru “sangat goblok.”

Nanang menulis, pemilihan tema Mari Goblok Bareng tentu bukan tanpa sebuah alasan yang mendalam. Ontran-ontran kehidupan berbangsa dan bernegara di Tanah Air, tidak pernah berkesudahan. Lucunya lagi, bagi para petani desa yang menjadi penggagas Festival Lima Gunung XVI, yang menjadi penyebab ontran-ontran tak berkesudahan, justru orang-orang berpendidikan tinggi. Para pejabat teras atas, para pemuka masyarakat, para pemimpin umat, dan sederetan orang-orang yang harusnya menyandang kualitas tinggi.

“Manusia goblok masih berpeluang untuk belajar menjadi manusia pintar. Manusia goblok jauh lebih baik dibandingkan manusia serakah, manusia korup. Untuk berendah hati dalam memperbaiki diri, kita perlu merasa goblok terlebih dahulu.”

Nanang menyampaikan, menggoblokkan diri adalah metode pengosongan diri. Kesadaran mengaku lemah, mengaku rendah, mengaku belum baik, mengaku kotor adalah modal utama untuk menjadi orang baik. Orang harus lebih bisa rumangsa, daripada rumangsa bisa. Bisa merasa daripada merasa bisa. “Intinya ya mari goblok bareng terlebih dahulu!”

Menurut Nanang, Festival Lima Gunung adalah hajatannya para petani dusun yang sekaligus seniman desa yang ada di seputaran wilayah gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Sebagai sebuah hajatan bersama, segala kebutuhan festival disangga dengan semangat gotong royong. Tahun ini, Festival Lima Gunung memasuki usia ke-16. Kali ini, digelar di Padepokan Wargo Budoyo Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang.

Nah, berbicara mengenai Festival Lima Gunung, harus pula berbicara mengenai Komunitas Lima Gunung. Ini merupakan komunitas warga desa penggiat kesenian dan kebudayaan di sekitar Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tepatnya, di kawasan gunung Merapi (Sitras Anjilin), Merbabu (Riyadi), Andong (Supadi Haryanto), Gunung Sumbing (Ipang), dan pegunungan Menoreh (Tanto Mendut).

Ketua Padepokan Wargo Budoyo, Riyadi, mengatakan, Festival Lima Gunung adalah media upaya menelaah tentang hakikat alam dan keseimbangannya, di mana manusia menjadi sebuah pusat penggerak. “Seniman yang ada di Lima Gunung adalah basic-nya petani yang laku hidupnya secara langsung bergelut dengan alam. Sedangkan tiap-tiap seniman di Lima Gunung tersebut, mempunyai kesenian budaya berbeda-beda,” ucap Riyadi.

Riyadi menjelaskan, awal Festival Lima Gunung pada Agustus 2002, di Dusun Warangan, Kecamatan Pakis, sebagai upaya untuk silaturahmi dan mempertemukan kesenian daerah di lima gunung. Sebab, kesenian di lima gunung, menurut Riyadi, berbeda-beda. Merbabu, misalnya, Tari Soreng, Merapi (Wayang Uwong), Sumbing (Tari Lengger), Andong (Kuda Lumping), dan Menoreh (Topeng Ireng. “Pemrakarsanya adalah Mas Tanto Mendut dari pegunungan Menoreh.”

Saa itu, sambung Riyadi, baru lima Komunitas Lima Gunung yang tampil. Yaitu, gunung Merapi (Sitras Anjilin Padepokan Cipto Budaya), Merbabu (Riyadi), Andong (Supadi Haryanto), Sumbing (Marno), dan Pegunungan Menoreh (Tanto Mendut).”

Festival Lima Gunung, menurut Riyadi, secara tidak tertulis, dalam pelaksanaannya memakai ornamen-ornamen dari limbah alam pertanian yang ramah lingkungan. Ini sekaligus sebagai pembelajaran pendidikan alam. Selain itu, pelaksanaan Festival Lima Gunung, pada akhirnya kembali dalam pengelolaan, pelaksanaannya dikelola mandiri, tanpa sponsor.

“Makna dikelola sendiri adalah setiap komunitas yang menjadi tuan ramah, akan secara bergotong-royong menyediakan segala prasarana dan sarana, termasuk ornamen serta instalasi. Hakikat inilah yang dimunculkan bahwa gotong-royong merupakan budaya yang harus terus ada.” Karena memang sejatinya, lanjut Riyadi, Festival Lima Gunung merupakan Festival Hati. “Di mana semua dilakukan dengan senang, disiapkan secara bersama-sama.”

(sm/cr3/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia