Senin, 25 Sep 2017
radarsemarang
Gambang Semarang
Gambang Semarang

Halalbihalal Kebangsaan

Senin, 10 Jul 2017 21:29 | editor : Agus Purwahyudi

Ahmad Rofiq

Ahmad Rofiq

MINGGU-minggu ini sampai akhir Juli 2017 merupakan ”musim” halalbihalal (HBH) dari kampung ke kampung, kantor ke kantor, dan dari komunitas ke komunitas yang lain. Meskipun tradisi HBH ini secara fomal tidak memiliki referensi dari nash Alquran dan Alsunnah, akan tetapi substansi dan pesan filosofinya atau dalam bahasa pemikiran hukum Islamnya, maqashidasy-syariah-nya adalah nilai, spirit, dan semangat persaudaraan kebangsaan, yakni saling menyadari kesalahan masing-masing dan silaturahmi untuk dapat menghapus dosa-dosa sosial antara sesama warga dan anak bangsa.

Apabila dirunut atau ditelusuri sejarahnya, HBH merupakan kreasi dan inovasi dari para tokoh bangsa Indonesia ini yang sangat arif dan bijaksana di dalam menyikapi konflik antar pimpinan dan mencarikan solusi demi persatuan dan kekompakan sesama bangsa Indonesia. Karena para leluhur kita itu, memiliki kearifan dan keluhuran kreasi dan inovasi yang cerdas.

Dalam laman nu.or.id disebutkan, pada saat pertengahan Ramadan pada 1948, Presiden pertama RI, Bung Karno meminta pendapat KH Wahab Chasbullah untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kiai Wahab memberi saran pada Bung Karno agar mengadakan acara silaturahmi. Sebab, Hari Raya Idul Fitri akan tiba dan seluruh umat Islam disunahkan bersilaturahmi. Mendengar saran tersebut, Bung Karno tidak kemudian meyakininya. Bung Karno pun sempat mengatakan bahwa silaturahmi itu merupakan istilah biasa di negara ini. Tampaknya, Bung Karno ingin ada istilah lain yang lebih memiliki greget dan antusiasme dari warga bangsa.

Kiai Wahab kemudian menjelaskan tujuan menyelenggarakan silaturahmi. ”Begini, para elite politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kandosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Dalam silaturahim nanti kita menggunakan istilah ”halalbihalal”,” jelas Kiai Wahab kepada Bung Karno. Atas saran KH Wahab Chasbullahitulah, Bung Karno kemudian mengajak seluruh instansi pemerintah untuk menghadiri acara halalbihalal.

Dalam versi lain, tradisi halalbihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I (lahir 8 April 1725), yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halalbihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halalbihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.”

(bahasakita2.com/2009/08/23/halalbihalal2).

Tampaknya perlu penelitian yang lebih valid dan reliable tentang asal-usul HBH. Terlepas dari kontroversi tersebut, pesan substantif dan makna HBH adalah saling memaafkan antara sesama manusia untuk menghalus dendam, iri hati, dengki, fitnah, caci maki, ghibah, dan lain sebagainya. Sikap dan perbuatan memaafkan adalah indikator penting ketakwaan seseorang (QS. Ali Imran: 134). Seseorang yang suka menyimpan dendam, iri hati, hasut, dan tidak mudah memaafkan orang lain, berarti kualitas ketaqwaannya perlu dipertanyakan. Terus bagaimana orang yang menyoal bahwa HBH itu adalah bid’ah? Jawabannya, biar Allah saja yang menilai dan menghukumi serta menghakiminya. Kalau kita berdebat terus, bisa-bisa tidak saling memaafkan, akan tetapi ”berbuat dosa lagi” karena yang muncul pasti adalah sifat dan sikap ananiyah atau egoisme kelompok kita. Yang jelas, tidak semua bid’ah atau kreasi manusia itu sesat dan tidak baik. Handphone, smartphone, gadget, speaker, bahkan pesawat terbang, adalah hasil bid’ah dalam makna bahasa. Tetapi jika speaker itu untuk digunakan imam salat di Masjid al-Haram Mekah atau Masjid Nabawi Madinah, agar jamaah yang di belakang mendengar, apakah juga akan dikatakan sesat, dan nanti akan ditempatkan di neraka? Allaha’lam bi sh-shawab.

Yang jelas, HBH merupakan inisiatif arif dan bijak dilihat dari misi dan tujuannya, yang mentradisi dan membudaya di masyarakat kita. Mulai dari HBH di lingkungan keluarga dengan HBH Bani Fulan, Bani Suradi, Bani Hayat, Bani Ghazali, dan lain sebagainya. Ketika kantor sudah mulai aktif, HBH Pemprov, Pemkab, Pemkot, ada HBH Fakultas, dan Universitas. Sisi positifnya adalah makin semaraknya ”dakwah” yang sekaligus rezeki bagi para mubalig dan semua yang hadir. Setidaknya, tradisi ”lontong opor” dan sajian lainnya melengkapi acara HBH tersebut. Demikian juga tradisi HBH di lingkungan partai politik (parpol) dan di berbagai komunitas lainnya.

Lebih dari itu, tradisi HBH ini bahkan tidak hanya di kalangan muslim saja, tetapi sudah lintas agama, lintas etnis, dan lintas budaya. Dalam perspektif persaudaraan, inilah event yang meskipun secara formal tidak ada dalilnya, akan tetapi dari pesan mulianya adalah merupakan bangunan persaudaraan sesama manusia (ukhuwwah insaniyah), dan sekaligus menampakkan pesan kemanusiaan besar ajaran Islam yang rahmatan lil ’alamin.

Spirit HBH yang sarat dengan nilai dan bangunan persaudaraan sejati ini, perlu dilestarikan, di-uri–uri, dan sudah menjadi living tradition (sunah yang hidup), dirawat dan dijaga kesinambungannya. Bahwa masih ada sebagian saudara kita yang beranggapan ini adalah bid’ah, kita doakan saja, semoga jika sudah sampai pada saatnya, Allah membukakan hati dan pikiran saudara-saudaraku yang masih berpandangan seperti itu.

Kita berharap, semoga dengan HBH, kita bisa makin ”dewasa” dalam beragama dan bermasyarakat, dan setelah itu, makin tawaduk atau rendah hati dalam memosisikan diri kita. Semakin banyak belajar kita semua berharap makin bijak dan makin arif. Melalui HBH, mari kita buang jauh-jauh semua residu dan ”kotoran hati” yang telah berkarat dan membatu yang menutupi ananiyah dan keangkuhan kita, menjadi hamba Allah yang fitri.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan hamba-Nya yang bersih, saleh, dan muttaqin. Mari bersalam-salaman, secara tulus, termasuk bersalaman  ”tangan hati kita” yang sejujurnya, agar dosa sosial kita luntur dan tidak menggelayuti kehidupan kita, sehingga kerja dan kinerja kita makin baik dan lebih baik lagi.

Kearifan KH Wahab Chasbullah, kebesaran hati Bung Karno, dan berbuah ”sunah atau tradisi yang hidup” atau living tradition dalam masyarakat, akan menjadi ”pelajaran dan amaliah berharga” bagi khazanah kearifan lokal negara dan bangsa Indonesia. Inilah sejatinya halalbihalal Kebangsaan Indonesia. Allaha’lambish–shawab. (*)

Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

(sm/*/ap/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia