Kamis, 18 Jan 2018
radarsemarang
Feature

Atasi Kemacetan Kota, Ajak Pekerja Budayakan Naik Sepeda Onthel

Jumat, 19 May 2017 07:40

Atasi Kemacetan Kota, Ajak Pekerja Budayakan Naik Sepeda Onthel

Ariyanto Raharjo, Bike to Work Community Semarang ()

Di tengah kota yang sibuk, pria satu ini konsisten mengajak masyarakat untuk membudayakan naik sepeda onthel. Tentunya agar mengurangi potensi kemacetan arus lalu lintas kota. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

PRIA sederhana itu Ariyanto Raharjo, warga Jalan Ngesrep Timur V No 36 Semarang. Selain hobi, budaya naik sepeda onthel dimanfaatkan sebagai upaya untuk peduli hidup sehat. Sepeda baginya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cerita hidupnya.

Melalui budaya bersepeda, ia mengajak masyarakat peduli lingkungan, mengurangi polusi udara, kemacetan, dan menyehatkan. Tetapi budaya naik sepeda ini justru kian ditinggalkan oleh kebanyakan masyarakat. Nyaris semua orang di perkotaan naik motor dan mobil, sehingga jalan raya berjubal kendaraan baik motor maupun kemacetan.

Ia bersama komunitasnya, Bike to Work Semarang, mengajak generasi muda sekarang agar tetap membudayakan naik sepeda onthel. Anggota komunitas ini memang didominasi para pekerja di Kota Semarang yang tetap naik sepeda onthel, meski kebanyakan mereka memiliki motor dan mobil.

”Saya termasuk orang yang menggunakan sepeda tidak hanya untuk berolahraga. Tapi untuk beraktivitas. Bike to Work, bahwa sepeda buat aktivitas sehari-hari. Baik untuk bekerja, ke sekolah, maupun aktivitas lain,” kata Ariyanto saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dikatakan, banyak orang yang memiliki sepeda onthel. Tetapi mereka kebanyakan menggunakan sepeda hanya untuk olahraga pagi, terutama weekend. ”Saya pernah bikin survei kecil-kecilan, ada berapa orang yang punya sepeda tapi yang benar-benar bike to work di Kota Semarang. Ternyata hanya kurang lebih 20-30 persen yang Bike to Work di Kota Semarang. Itu pun tidak setiap hari,” katanya.

Di Kota Semarang, kata dia, orang tidak menggunakan sepeda dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya faktor geografis, karena wilayah di Kota Semarang berbukit dan banyak tanjakan. Selain itu juga faktor cuaca panas. Sehingga orang lebih memilih naik motor dan mobil.

”Anak-anak sekolah yang naik sepeda itu hanya sampai di tingkat SMP saja. Begitu menginjak SMA, rata-rata mereka sudah tidak naik sepeda lagi. Karena trennya sudah naik motor,” katanya.

Atas kondisi ini, kata Ariyanto, kalau mau menggerakkan masyarakat untuk menjaga budaya bersepeda, maka perlu dimulai sejak usia dini. ”Orang bersepeda itu pilihan. Sebenarnya sudah punya motor dan punya mobil, tapi ada yang tetap ingin menggunakan sepeda. Itu kategori ber-bike to work karena pilihan,” terangnya.

Tapi ada juga bersepeda karena memang tidak punya pilihan. Misalnya tidak punya alat transportasi lain selain sepeda onthel. Maka dia ke mana-mana akan naik sepeda. ”Tapi kalau orang kategori tidak punya pilihan, maka pada saat dia mendapat rezeki banyak, pasti dia beli motor. Hilanglah semangat untuk berbudaya bersepeda,” ungkapnya.

Ariyanto menginginkan agar generasi muda mampu merawat budaya bersepeda. Generasi yang peduli terhadap lingkungan. ”Meskipun punya motor, kalau kondisi memungkinkan untuk bersepeda ya bersepedalah. Tetapi kalau memang kondisi kantornya jauh dan tidak mungkin ditempuh dengan sepeda ya naik motor wae lah,” ujarnya sembari bercanda.

Menurutnya, budaya bersepeda memiliki tujuan mulia. Mulai tentang kepedulian lingkungan karena tidak mengakibatkan polusi udara, hidup sehat, hingga mengurangi potensi kemacetan. Kesadaran masyarakat di Kota Semarang untuk merawat budaya bersepeda saat ini terbilang cukup bagus.

”Meski faktor geografis Semarang yang berbukit dan banyak tanjakan, tapi tidak menyurutkan masyarakat Kota Semarang untuk bersepeda. Bahkan ada juga orang yang suka bersepeda naik turun melintasi bukit dengan medan yang ekstrem,” katanya.

Dia memiliki jargon, punya sepeda itu pasti, dan naik sepeda itu pilihan. Maka Ariyanto selalu menyarankan agar orang punya sepeda. ”Kalau sudah punya sepeda itu pilihan apakah hendak digunakan atau tidak. Banyak cara untuk hidup sehat, salah satunya bersepeda. Lantas kenapa kita enggak membudayakan bersepeda. Apalagi jalan bersepeda sudah dibikinkan oleh pemkot, daripada malah digunakan untuk parkir,” katanya.

Saking cintanya terhadap sepeda, Ariyanto memilih keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan bank pada 2011 silam. Ia kemudian mendirikan usaha bengkel sepeda sekaligus toko sepeda yang diberi nama Bjo’s Pit.

”Saya dulu kerja di bank, kalau secara posisi atau jabatan bisa dibilang lumayan. Mungkin ini namanya Tuhan sudah menentukan jalan. Saya merasa kurang nyaman bekerja di kantor saat itu. Sehingga berinisiatif untuk membuka usaha. Ndilalah kok saya punya hobi sepeda, akhirnya keluar dan nekat bikin bengkel dan toko sepeda. Saat ini sudah tahun kelima,” katanya.

Ia mengaku hobi sepeda sejak 2008. Saat itu masih bekerja kantor di sebuah bank tersebut. ”Memang pengin buka usaha sesuai hobi, kemudian saya buka bengkel sepeda sekaligus toko sepeda di Jalan Bukit Umbul Tembalang. Mikirnya dulu belum banyak bengkel sepeda. Eh, berlanjut sampai sekarang. Tapi sekarang bengkel saya pindah di Jalan Ngesrep Timur dekat Patung Kuda,” katanya.

Saat ini, ia menjadi bengkel spesialis modifikasi berbagai jenis sepeda. Mulai dari modifikasi sepeda balap, sepeda lipat, maupun sepeda touring. ”Modifikasi sepeda sesuai dengan selera customer. Misalnya modelnya ingin berbeda saya bantu sesuai maunya dia. Kalau sekarang paling banyak menangani modifikasi sepeda lipat dan balap. Meski menangani semua jenis sepeda, tapi bagi saya, modifikasi sepeda lipat itu lebih menantang, saya tidak bilang lebih sulit,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, banyak orang juga lebih memilih memanfaatkan barang-barang bekas. Misalnya ada barang bagus tapi bekas itu untuk digunakan modifikasi. ”Spare part sekarang cukup mudah didapatkan. Apalagi sejak adanya fenomena jual beli online,” katanya.

Selain sebagai tempat berkumpul komunitas sepeda, bengkel miliknya menjadi tempat diskusi dan tukar pengalaman. ”Kami memang suka kumpul sama teman-teman, banyak komunitas sepeda, berbagai aliran sepeda dan jenis sepeda,” katanya. (*/zal/ce1)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia