Kamis, 18 Jan 2018
radarsemarang
Feature

Belajar dari sang Ayah, Tahun Ini Pesanan Meningkat

Arif Rahman, Perajin Warak Ngendog yang Masih Bertahan

Selasa, 16 May 2017 07:00

Belajar dari sang Ayah, Tahun Ini Pesanan Meningkat

BANYAK PESANAN: Arif Rahman dan warak ngendog hasil karyanya. ((DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG))

Jelang Ramadan, biasanya digelar arak-arakan warak ngendog sebagai puncak tradisi dugderan. Arif Rahman adalah salah satu perajin warak ngendog yang masih bertahan.

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

WARAK ngendog merupakan makhluk rekaan dengan kepala menyerupai kepala naga khas kebudayaan dari etnis Tiongkok, tubuhnya berbentuk layaknya unta khas kebudayaan dari etnis Arab, serta keempat kakinya menyerupai kaki kambing khas kebudayaan dari etnis Jawa. Ini merupakan simbol akulturasi dari berbagai golongan etnis di Semarang, yakni etnis Tiongkok, Arab dan Jawa.

Biasanya jelang Ramadan, permintaan mainan berbentuk warak ngendog meningkat. Salah satu perajinnya, Arif Rahman, warga Purwodinatan RT 2 RW 2, Semarang Tengah. Di rumah dua lantai yang dihuninya sekarang, Arif dibantu dua pekerja sibuk membuat warak ngendog. Pria 41 tahun itu dengan terampil menempel hiasan kertas minyak warna merah, kuning dan putih di tubuh warak ngendog. Sedangkan dua pekerjanya membantu menggunting kertas minyak sebelum diolesi lem pati dan ditempelkan ke tubuh warak ngendog.

Arif mengaku, sejak beberapa pekan terakhir, sudah membuat warak ngendog hampir 200 buah. Warak ngendog itu pesanan dari sejumlah pihak. Ada tiga ukuran yang sedang dikerjakan, yakni ukuran kecil 20x30x30 cm, ukuran sedang 50x70x100 cm dan ukuran besar menyesuaikan pesanan.

”Sudah ada 200 pesanan dari berbagai macam ukuran, kira-kira sudah sebulan terakhir pesanan ini. Untuk harga bervariasi, mulai yang kecil Rp 50 ribu sampai Rp 1 juta. Tergantung pelanggan mintanya apa. Saya pernah mengerjakan seukuran bak mobil pikap,” kata ayah dua anak ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Paling banyak pesanan, kata dia, datang dari instansi pemerintah seperti dinas dan kelurahan. Selain itu, pesanan dari sekolah. Salah satunya dari SDN Gisikdrono.

”Untuk tahun ini pesanan lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu, kira-kira hanya 100-an. Tahun ini sudah 200 lebih. Mungkin karena saya tinggal satu-satunya, jadi mau nggak mau pesannya ke saya,” paparnya.

Ia mengaku tidak sulit mengerjakannya, lantaran sudah dipersiapkan sebelumnya. Karena sifatnya pekerjaan musiman, ia sudah menyiapkan segala bahan-bahan dan membuat rangka ukuran kecil dan sedang. Baik rangka kayu, kertas karton, kertas minyak dan cat. Adapun cara merangkai menggunakan bahan lain sebagai leher dan ekor menggunakan rangka plat agar lebih kuat. Sejauh ini, ia hanya kesulitan bahan kertas minyak.

”Kerja saya mulai jam 08.00 pagi, selesainya selelahnya, kadang sampai malam kadang sampai pagi lagi. Yang paling sulit membuat bagian kepala. Karena yang pesan kan penginnya bikin variasi-variasi, jadi ya gitu bentuknya aneh-aneh,” katanya sambil tertawa.

Pria kelahiran 9 November 1976 ini mengklaim, dirinya satu-satunya perajin warak ngendog di Purwodinatan. Ia mewarisi keterampilan membuat warak ngendog sejak kecil dari ayahnya, almarhum Rohani Hidayat. Sejak sang ayah meninggal pada 2010, praktis ia satu-satunya perajin warak ngendog. Karena satu perajin yang merupakan tetangganya juga sudah berhenti membuat warak ngendog sejak tahun lalu.

”Kalau saya sudah dari kecil ikut ayah bantu-bantu ngerjain. Kalau ditanya saya generasi ke berapa, saya nggak bisa menjelaskan, karena ini turun-temurun,” ucapnya.

Sejak mengerjakan sendiri pada 2010 lalu, ia mengaku sempat berhenti pada 2014. Alasannya, karena perayaan warak ngendog pada saat itu ditiadakan, sehingga praktis tidak ada pesanan sama sekali. Ia pun menyayangkan jika tradisi yang hanya ada di Kota Semarang ini ditiadakan.

Ya, jelas sayang sekali kalau budaya milik kita ini dihilangkan. Ini kan adanya cuma di Semarang. Kalau saya nggak bikin ini ya bisa-bisa aja, wong saya bisa kerja lain. Kebetulan saya punya bengkel mobil. Tapi kan masalahnya sayang kalau harus hilang,” katanya.

Ia mengakui, tradisi dugderan dengan warak ngendog ini semakin ke depan semakin luntur. Ia mengingat pada 1990-an, ada tradisi lomba membuat warak ngendog dari para perajin. Sehingga euforianya sangat tinggi pada masa itu. Namun kondisi saat itu sangat bertolak belakang dengan saat ini.

”Dulu ada lomba warak ngendog untuk perajin, sekarang tidak ada. Kan sayang. Terakhir tahun 1990-an. Harapan saya lomba itu diadakan lagi, supaya bisa jadi ajang bagi para perajin untuk lebih berkreativitas,” harapnya.

Untuk saat ini, kata dia, salah satu anaknya yang masih duduk di bangku TK, yakni Dakka Ainur Ridho, 6, memiliki kecenderungan tertarik dengan kerajinan warak ngendog. ”Semoga anak saya ini bisa meneruskan, karena saya lihat dia aktif, suka bantu-bantu saya mengerjakan pesanan warak ngendog. Ya, semoga saja,” pungkasnya. (*/aro/ce1)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia