Kamis, 18 Jan 2018
radarsemarang
Cover Story

Tak Ada Akses Publik, Pasar Tanah Mas Ditinggal

Senin, 15 May 2017 08:50

Tak Ada Akses Publik, Pasar Tanah Mas Ditinggal

()

PASAR Tanah Mas yang dulu menjadi pusat perdagangan warga setempat, kini sudah ditinggalkan. Padahal kondisi kios-kios di sana masih prima meski bangunan itu direvitalisasi Pemkot Semarang pada 2000 silam. Tiang penyangga utamanya pun masih tampak kokoh. Hanya ada satu tiang yang bagian bawahnya sedikit rusak.

Pasar tersebut sebenarnya masih tegolong nyaman untuk dihuni. Tapi kenyataannya, dari 54 kios, hanya sekitar 15 pedagang yang masih bertahan. Itu pun kebanyakan anget-angetan berjualan di sana. Yang buka saban hari hanya 5 kios saja. Yaitu dua penjual sayur, satu penjual onde-onde, satu penjual ikan laut, serta satu penjual buah dan sayur.

Salah satu penjual di Pasar Tanah Mas, Mbah Tumi mengaku tidak punya rencana meninggalkan kiosnya. Pasalnya, masih banyak pelanggan yang nyaris setiap hari datang membeli dagangannya. ”Saya nggak mau pindah. Wong sudah punya langganan, kok. Kalau pindah ke tempat lain, malah nggak ada yang beli,” ucap penjual onde-onde ini.

Dia merasa ada kenikmatan tersendiri berjualan di pasar yang sepi penjual. Selain bebas gesekan antar pedagang, dia bisa menempati kios lain yang masih kosong. ”Sebenarnya jatah kios saya di depan sana. Tapi saya pindah di dalam sini karena memang tidak ada yang menempati. Sudah izin sama yang punya kios, kok,” ucapnya.

Baca Juga : Pasar Banyumanik Jadi Tempat Hunian, Pasar Manyaran Tutup

Untuk bisa terus berjualan di sana, setiap hari Mbah Tumi yang menempati kios selebar 4 meter, harus membayar Rp 2.400 sebagai biaya retribusi pasar. Angka itu tidak dianggap memberatkan karena hasil jualannya terbilang lumayan. Apalagi, Mbah Tumi juga tinggal di sana. Setiap malam, nenek yang mengaku berusia 70 tahun ini tidur di musala pasar.

Dia sudah menyiapkan sejumlah pakaian yang ditata rapi di dalam kiosnya. Soal mencuci pakaian, dia memanfaatkan air bersih yang biasa digunakan bersih-bersih pegawai toko material yang tidak jauh dari pasar. ”Soalnya kalau pulang, jauh. Rumah saya di Kulonprogo. Yang nginep sini cuma saya thok,” terangnya.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, Mbah Tumi bercerita, kios-kios di bagian pinggir pasar tidak ditinggal pemilik begitu saja. Kios tembok dengan rolling door itu masih dimanfaatkan sebagai gudang penyimpanan. Rata-rata untuk menyimpan bahan material. Seperti semen, paralon, dan lain sebagainya.

Sementara itu, pedagang lain, Gito mengaku alasan bertahan di pasar tersebut karena hanya dianggap sebagai kerja sambilan. Sebab di pagi hari, dia berjualan sayur dan buah keliling kampung menggunakan sepeda motor. Setelah siang, sekitar pukul 11, dia baru buka dasar di Pasar Tanah Mas. ”Memang hasilnya di sini tidak seberapa. Masih kalah jauh sama jual kelilingan. Tapi daripada di rumah, mau ngapain. Di sini kan bisa menghabiskan dagangan sisa jualan keliling,” terangnya.

Dia menilai, sepinya Pasar Tanah Mas dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya adalah akses jalan yang kurang ramai. Pemerintah belum mengarahkan pengguna jalan untuk lewat di jalan di depan Pasar. ”Akses publiknya memang kurang. Coba kalau jalannya dibikin searah. Di kanan sungai arah ke Kokrosono, yang depan situ, arah ke Jalan Hassanudin. Jadi kan ramai. Soalnya dulu di depan pasar sudah disediakan kios permanen yang bagus. Gratis pula. Tapi banyak yang tidak mau karena jalannya memang sepi,” paparnya.

Selain itu, sepinya pasar disebabkan karena banyak pedagang dari kalangan Tionghoa yang sudah tidak berjualan di sini. Diceritakan, dulu pembeli yang sering datang ke pasar juga orang-orang Tionghoa. ”Langganan mereka ya penjual Tionghoa. Ketika penjual Tionghoa itu pergi, pelanggannya ya ikut pergi. Nggak pernah ke sini lagi,” tegasnya.

Demikian halnya dengan Pasar Hewan Tlogosari atau Pasar Kalicari di Jalan Supriyadi tepatnya depan SDN Kalicari 1 Supriyadi. Kompleks bangunan memang masih memiliki ciri bangunan pasar, tetapi hanya ada satu dua aktivitas jual beli.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lapangan, sudah tak terlihat lagi transaksi jual beli di sana. Apalagi lebih dari belasan tahun pasar hewan ini ditinggal oleh pedagangnya. Bangunan pasar yang dulu merupakan pasar hewan yang cukup ramai ini juga sempat menjadi pasar sembako sebelum akhirnya berubah fungsi menjadi tempat kos atau tempat tinggal warga.

Dari 16 kios yang ada, terhitung hanya lima kios yang masih dipakai berjualan. Sementara kios lainnya tutup dan ada yang beralih fungsi menjadi hunian dengan sekat tripleks. ”Padahal lokasinya sangat strategis karena dekat perumahan dan keramaian. Sayang jika tidak dimanfaatkan,” ujar Agus warga setempat yang sering nongkrong di pasar tersebut.

Mangkraknya Pasar Kalicari ini sudah berlangsung sejak 1980-an, dan warga setempat tidak mendapatkan informasi yang jelas, apakah pasar itu akan diaktifkan kembali atau tidak. ”Saya sudah punya dua di sini, satu untuk hunian satunya untuk jualan jajanan dan minuman ini. Kalau mau pindah dan kontrak tempat lain juga gak ada modalnya,” ungkap Wati, pemilik kios yang masih bertahan dan berjualan di Pasar Kalicari.

Ia mengungkapkan, Pasar Kalicari sudah lama ditinggalkan oleh konsumen. Namun ia tidak tahu pasti apa yang menjadi penyebabnya, ia hanya tahu pasar itu telah berubah dua kali sebelum akhirnya sepi. ”Sini kalau malam ramai, biasanya pada minum congyang di pojokan situ, karena memang ada warungnya,” kata dia menunjuk salah satu kios di bagian dalam pasar kalicari.

Bangunan pasar yang sudah lama tidak difungsikan ini, memang tidak terlihat kumuh bahkan cukup terawat. Menurut Wati, ini juga karena warganya yang juga pemilik kios enggan untuk meninggalkan. ”Jadi mau tidak mau kan dirawat dan dijaga, biar enak ditinggali,” imbuhnya.
Wati berharap, pemerintah Kota Semarang lebih memperhatikan lagi pasar-pasar yang mangkrak. Ia menginginkan agar pasar tersebut bisa dihidupkan lagi tanpa harus ada gusuran atau relokasi. (amh/tsa/ida/ce1)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia