Selasa, 16 Jan 2018
radarsemarang
Life Style

Rempah dan Santan Perkaya Citarasa Soto Melayu

Minggu, 14 May 2017 09:00

Rempah dan Santan Perkaya Citarasa Soto Melayu

TERINSPIRASI KULINER MEDAN : Executive Chef Hotel Horison NJ, Apit Zen, menunjukkan Soto Melayu kreasinya yang diperkuat dengan santan dan bumbu rempah kering dari bumi Indonesia. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SOTO Melayu, masakan berkuah ini menjadi andalan baru bagi Hotel NJ Horison yang terletak di Jalan MT Haryono nomor 32-38 Semarang. Sajian kuliner yang terinspirasi dari Kota Medan ini, kaya akan rasa rempah kering dan santannya yang kental.

Executive Chef Hotel Horison NJ, Apit Zen, menjelaskan bahwa santan yang digunakan, untuk menonjolkan kekhasan orang Melayu yang menjadikan santan sebagai bahan pokok dalam setiap menunya. “Yang kami tonjolkan adalah masakan nusantara. Sebab di Semarang, sedikit yang mengangkat kuliner nusantara. Padahal sangat banyak yang bisa disajikan," ujar Chef Apit kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Warna kekuningan dipadu dengan potongan telur dan pemanis makanan lainnya, semakin menggugah selera. Berbeda dengan soto yang lain, penggunaan bihun sebagai isi di dalam Soto Melayu menambah keistimewaan citarasanya. "Kalau soto yang lain, biasanya memakai soun. Tapi, Soto Melayu berbeda. Bihun yang digunakan memiliki tingkat kelenturan dan kelembutan yang memberikan sensasi renyah saat dimakan," kata chef keturunan Padang ini.

Selain itu, kata Chef Apit, penggunaan rempah kering pilihan menjadi pembeda soto lain. Meskipun kuahnya menggunakan santan kental, tetapi rasa rempah tidak kalah. "Rempahnya yang dipakai rempah kering, yang meliputi cengkeh, polo, dan wijen. Sehingga memiliki rasa yang kuat, tetapi tidak mengurangi kemewahan rasa santannya," terangnya.

Chef Apit mengklaim, selama dirinya berada di Semarang belum ada satupun yang menyajikan soto dengan santan seperti Soto Melayu kreasinya. Oleh karena itu, ia yakin inovasi Soto Melayu, sangat cocok bagi lidah orang Jawa.

Tak hanya berkreasi dengan Soto Melayu, Chef Apit juga mengkreasikan Sop Buntut yang digemari oleh masyarakat luas. Sop Buntut yang biasanya disajikan dengan kuah bening, di tangan dinginnya, jadi berkuah merah menyala. Namanya pun menjadi Sop Buntut Garangganas. “Sop Buntut ini dibuat dengan perpaduan antara rempah-rempah kering seperti cengkeh, buah pala, merica dengan rempah basah, seperti daun jeruk, kunyit, dan sereh," bebernya.

Meski berwarna merah menyala, Sop Buntut Garangganas tidak memiliki rasa yang begitu pedas. Bahkan, Chef Apit mengklaim rasanya sangat cocok bagi lidah orang Jawa. "Rasanya pedas, campur manis dan sedikit masam, yang dihasilkan dari rempah basah dan campuran kaldu dari rebusan tulang buntutnya," imbuhnya.

Selain rempah pilihan, sop buntut juga dibuat dengan beberapa jenis cabai di antaranya cabai teropong merah, teropong hijau dan rawit setan. Buntut segar yang digunakan sebagai bahan utama masakan ini diolah selama kurang lebih dua jam sehingga menghasilkan daging yang empuk dengan tekstur lembut.

”Buntutnya tidak dipresto. Jadi, kami betul-betul ingin menyajikan cita rasa makanan nusantara yang melegenda dengan cara yang lama juga alias manual dengan direbus dan diskim (membuang buih dari rebusan) jadi murni air kaldu," jelasnya.

Soto Melayu dan Sop Buntut Garangganas ini disajikan dalam satu paket nasi, emping, acar dan sambal. Emping dipilih sebagai penetral rasa sehingga membuat orang yang memakannya tidak mudah kenyang justru ingin terus memakannya. (tsa/ida)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia