Rabu, 17 Jan 2018
radarsemarang
Feature

Habib Sholeh, Layani Terapi Kay Khas Yaman yang Langka

Telapak Kaki Pasien Disundut Besi Membara

Sabtu, 13 May 2017 07:30

Habib Sholeh, Layani Terapi Kay Khas Yaman yang Langka

HAMPIR PUNAH: Habib Sholeh Bin Ali Bin Yahya saat menempelkan telur ayam kampung di telapak kaki pasien. (kanan) Besi membara yang disundutkan di telapak kaki. (ABDUL MUSGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Habib Sholeh Bin Ali Bin Yahya dikenal sebagai seorang tabib. Dia menggunakan metode pengobatan unik asal negeri Yaman. Namanya Terapi Kay. Kenapa unik? Karena metode pengobatannya menggunakan telur dan besi membara. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS
 

MINGGU siang kemarin, Masjid Safinatun Najah atau dikenal dengan Masjid Kapal di Kampung Padaan, Kelurahan Podorejo, Ngaliyan, Semarang tampak ramai pengunjung. Mereka yang datang rata-rata penasaran dengan bangunan unik berbentuk mirip kapal Nabi Nuh tersebut.

 

Di lantai bawah masjid tersebut, tepatnya di sisi kiri, tampak seorang pria paro bayo tengah melakukan terapi seorang pasien yang terbaring tengkurap di atas ranjang. Pria tersebut menempelkan telur ayam kampung di telapak kaki si pasien. Sebelumnya, dia juga menyundutkan besi membara di titik-titik saraf di telapak kaki.

 

Ya, begitulah Habib Sholeh Bin Ali Bin Yahya saat melakukan pengobatan alternatif menggunakan metode Terapi Kay. Metode ini terbilang langka di Indonesia. Metode asal negeri Yaman ini menggunakan media telur dan menyundut bara besi di telapak kaki pasien.  Konon, metode ini dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Habib sendiri melayani pengobatan alternatif secara gratis alias tanpa dipungut biaya. 

 

Terapi Kay sendiri kurang populer, karena tak banyak yang mempelajarinya. Kebanyakan hanya orang ketururan Arab yang masih merawat tradisi pengobatan ini. ”Jenis pengobatan menggunakan bara besi ini namanya Terapi Kay dari Yaman. Ini salah satu pengobatan yang dianjurkan oleh Rasullullah Muhammad SAW,” kata Habib Sholeh Bin Ali Bin Yahya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, kemarin. 

 

Dijelaskan, media telur itu ditempelkan di titik-titik saraf tubuh pasien. Sedangkan bara besi seukuran jari tangan yang menganga usai dibakar itu disundutkan di kulit telapak kaki dalam waktu beberapa detik. ”Bisa untuk mengobati berbagai macam penyakit, bahkan semua penyakit,” ujarnya. 

 

Dikatakan, dalam pengobatan metode tersebut, dia menggunakan telur untuk merangsang sel-sel saraf. ”Metode telur ini untuk menetralisir sirkulasi darah dan melancarkan darah di saraf. Sedangkan bara besi usai dibakar, untuk memperlancar metabolisme tubuh dan membunuh kuman-kuman sel di dalam tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia itu pasti ada kuman. Metode besi bakar ini bisa untuk membunuh sel-sel kuman,” katanya. 


Termasuk juga dipercaya untuk menstimulasi sel-sel urat saraf, urat otot, dan memperlancar peredaran darah dalam tubuh pasien. ”Telur ditempelkan dalam posisi miring tanpa memerlukan tekanan. Disentuhkan ke saraf langsung terasa. Tadi ada pasien yang terkena stroke,” ujarnya. 

 

Bahkan pasien stroke yang datang didorong menggunakan kursi roda, tapi setelah dilakukan Terapi Kay, pulangnya bisa berjalan kaki dengan mendorong kursi rodanya sendiri. ”Kalau stroke, begitu diobati, bisa langsung dirasakan perubahannya. Tapi kalau seperti bapak satunya ini sakit hernia. Hernia tidak bisa langsung dirasakan perubahannya. Karena hernia ini butuh perawatan dalam kurun waktu tertentu,” terangnya. 

 

Termasuk apabila seseorang terkena penyakit sesak napas, kata Habib Sholeh, bisa langsung dirasakan hasilnya. ”Ditarik bisa langsung longgar napasnya,” katanya. 

 

Setiap hari, di Masjid Kapal yang pembangunannya belum sepenuhnya selesai itu, ada pasien berobat antara 30 hingga 100-an orang. Mereka berdatangan baik dari dalam kota maupun luar Kota Semarang dengan keluhan berbagai penyakit yang sulit disembuhkan. 

 

Salah satu warga, Sri Mulyani, 40, mengaku menerima manfaat pengobatan alternatif gratis tersebut. Bahkan ia sempat tak percaya bila Terapi Kay begitu bisa dirasakan perubahannya.

 

”Saya sakit asam urat sejak Desember tahun lalu. Sudah berobat di berbagai tempat. Mulai periksa secara medis di dokter, hingga pengobatan alternatif. Tapi selama ini tidak ada perubahan. Dulu pernah berobat alternatif dengan cara dipijat. Di tubuh memang enak, tapi kondisi penyakitnya malah tambah parah. Nggak tahu kenapa, setelah diterapi di sini, ada perubahan yang sangat terasa,” ujar warga Wonosari, Ngaliyan ini. 


Ia mengaku, awalnya takut mengingat media pengobatan itu menggunakan besi dibakar yang merah membara. ”Memang tadi sakit banget. Panasnya seperti terasa sampai daerah pinggang. Tapi hanya sebentar, kemudian terasa enak,” katanya. (*/aro/ce1)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia