Kamis, 18 Jan 2018
radarsemarang
Cover Story

Menjelajah Istanbul, Kota Dua Benua Kaya Sejarah (3-Habis)

Berbelanja di Tempat Syuting James Bond

Kamis, 04 May 2017 09:50

Menjelajah Istanbul, Kota Dua Benua Kaya Sejarah (3-Habis)

WARNA-WARNI: Salah seorang pedagang menjaga toko lampu hias khas Turki miliknya di Grand Bazaar, pasar tradisional yang menjadi tempat syuting film ”Skyfall”. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

Dari sekitar 95 juta penduduk Turki, 15 juta di antaranya tinggal di Istanbul. Sebanyak 95 persen penduduk Turki beragama Islam. Meski beberapa kali didera teror dan pemerintahannya sempat dikudeta, pariwisata Turki seakan tak pernah mati.

RICKY FITRIYANTO

SAAT berkunjung ke Istanbul, saya beberapa kali bertemu dengan rombongan wisatawan asal Indonesia. Sebagian besar adalah jamaah umrah yang mengambil paket plus Turki. Negara tersebut memang cocok dijadikan destinasi tambahan usai ibadah umrah. Selain letaknya relatif dekat dari Tanah Suci, penduduk yang mayoritas Islam membuat Turki dijadikan tujuan wisata halal. Setidaknya para pelancong tidak kesulitan menemukan tempat ibadah dan makanan halal.

Hari terakhir di Turki kami gunakan hanya untuk berkunjung ke Grand Bazaar. Waktu tak banyak, sebab siangnya kami harus langsung menuju bandara untuk terbang meninggalkan Istanbul, transit di Abu Dhabi, kemudian pulang ke Tanah Air.

Grand Bazaar tak hanya menawarkan sensasi berbelanja. Pasar kuno ini kaya sejarah karena dibangun oleh Sultan Mehmet II pada 1455 setelah penaklukkan Konstantinopel. Pada abad ke-17, Grand Bazaar menjadi pasar terbesar di Eropa. Banyak referensi menyebutkan tempat ini merupakan mal pertama di dunia.

Grand Bazaar yang dalam bahasa Turki disebut Kapali Carsi ini terdiri atas 3.000 toko dan dikunjungi 250-400 ribu orang per hari. Berada di dalamnya seperti masuk ke dalam labirin. Lorongnya bercabang-cabang dan bisa membuat tersesat. Saya berusaha menghafal pintu masuk dan keluar lagi di pintu yang sama agar tak kesasar.

Lagi-lagi, tempat ini juga menjadi syuting film box office. Bagi yang sudah menonton Skyfall, ada adegan saat James Bond (Daniel Craig) mengejar musuh menggunakan motor trail, naik ke atap rumah-rumah, menabrak kaca, dan tembus ke dalam bangunan pasar yang ramai. Nah, tempat itu adalah Grand Bazaar.

Meski jumlah tokonya ribuan, barang yang dijual rata-rata hampir sama. Ada karpet khas Turki, jilbab Turki, lampu hias, kaus, hingga makanan seperti cokelat, kacang, rempah, dan lokum atau Turkish Delight, manisan khas Turki yang terbuat dari madu.

Para pedagang di Grand Bazaar ini juga jago merayu pembeli. Sapaan Merhaba (halo dalam bahasa Turki) dan brother menjadi andalan mereka untuk mulai menawarkan barang dagangannya.

Mereka juga menguasai sejumlah kosakata bahasa Indonesia yang langsung digunakan saat melihat calon pembeli berwajah Melayu lewat. Sapaan ”Indonesia..,”, ”Malaysia...,”, ”Apa kabar?”, ”Kabar baik,”, ”Terima kasih,” dan ”Sama-sama,” berulangkali dilontarkan.

Saat pembeli masuk ke toko dan melihat-lihat, tak segan mereka menawarkan teh apel yang disajikan dalam gelas kecil berbentuk bunga tulip. Tentu pembeli jadi sungkan jika tak berbelanja. Tak hanya itu, mereka juga mengajak ngobrol tentang Indonesia. Salah seorang pedagang bercerita ke saya sambil menunjukkan bendera Indonesia yang tercetak di MMT tokonya. Dia bilang pernah ke Manado menemui saudaranya.

Sayang, kami tak bisa berlama-lama di situ. Setelah membeli sejumlah barang untuk oleh-oleh, kami langsung menuju Bandara Attaturk untuk mengejar pesawat. Meski hanya 3 hari di Istanbul, kenangan menjelajahi kota penuh sejarah tersebut tak akan hilang.

Direktur PT Ar-Bani Madinah Wisata, Bayu Jalar Prayogo, mengatakan, Turki menjadi destinasi favorit jamaah umrah plus. Jumlah jamaah umrah plus ini semakin tahun juga kian meningkat.

PT Ar-Bani Madinah Wisata lah yang kali pertama membuka paket umrah plus Turki di Semarang. ”Di Semarang, kami sudah menawarkan paket umrah plus Turki sejak dua tahun lalu dan responsnya cukup bagus,” katanya.

Peminatnya pun semakin banyak. Tahun pertama dibuka, pihaknya hanya memberangkatkan satu rombongan ke Turki. Tahun kedua meningkat jadi dua rombongan, dan tahun ini tiga rombongan. Satu rombongan terdiri atas 8 hingga 12 jamaah umrah.

Menurut Bayu, Turki disukai karena wisatawan bisa melihat sejarah perkembangan Islam di sana. Negara dengan bendera bergambar bulan bintang itu di masa lalu menjadi pusat peradaban Islam. Hanya saja, karena pertimbangan waktu, paket tur yang dibuka baru sebatas di Istanbul dengan durasi waktu maksimal 3 hari.

”Ada yang satu hari, hanya city tour saja. Ada yang tiga hari,” ungkapnya.

Durasi waktu maksimal tersebut menjadi pertimbangan karena jamaah sebelumnya sudah melakukan ibadah umrah 7 hari dan 2 hari lagi habis untuk perjalanan.

Sebenarnya Turki memiliki banyak destinasi apik lainnya, namun lokasinya di luar Kota Istanbul dan cukup jauh. Dia mencontohkan Cappadocia harus ditempuh 12 jam perjalanan darat dari Istanbul dan Pamukkale 8 jam perjalanan.

Destinasi lain yang menjadi pilihan adalah Dubai, Uni Emirat Arab. Kota tersebut menawarkan kemegahan landscape gedung-gedung modern yang indah. Tahun depan pihaknya berencana membuka paket umrah plus mengunjungi Masjidil Aqsa dan Jordania. Dengan begitu, jamaah bisa mengunjungi tiga masjid suci bagi umat Islam. Yakni, Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjidil Aqsa di Jerusalem. ”Market-nya mulai ada, sehingga kami tinggal meng-create. Baru dibuka tahun depan, karena kami juga harus mempertimbangkan faktor keamanan di sana,” ujarnya.

Selain umrah dan haji, tahun depan PT Ar-Bani Madinah Wisata juga akan membuka paket Moslem Halal Tour ke Eropa. Pelancong akan diajak keliling 8 negara di Eropa.

Bayu mengatakan sudah ada beberapa orang yang berminat. ”Moslem Halal Tour menawarkan wisata ke destinasi ternama dengan pilihan makanan halal, petunjuk waktu salat dan ketersediaan tempat salat,” tandasnya.

Agung Prayitno, salah seorang jamaah umrah plus PT Ar-Bani Madinah Wisata mengatakan, ia dan istri tertarik mengunjungi Turki karena kaya akan sejarah. ”Saya suka dengan sejarah dan penasaran dengan Istanbul yang menjadi pusat sejumlah peradaban,” katanya.

Setelah berwisata ke Istanbul, dia mengaku puas. ”Tidak rugi rasanya ke Turki, negerinya memang indah,” ujar distributor alat-alat kesehatan ini.

Milasari Dewi, jamaah umrah plus Ar-Bani menambahkan, berwisata ke Istanbul melebihi ekspektasinya saat akan berangkat. ”Kota Istanbul keren. Di setiap sudut tidak ada spot yang jelek. Semua bagus untuk foto-foto, cuacanya sejuk dan sejarahnya kuat,” ujar perempuan yang hobi fotografi ini.

Objek wisata di Istanbul, lanjutnya, memiliki sejarah yang kuat tentang perkembangan Islam. ”Turki bisa mengemas sejarah dengan apik. Kalau di Arab Saudi, banyak peninggalan sejarah yang dihancurkan karena takut dikultuskan, di Turki justru dirawat dengan baik, dan bisa menjadi saran pembelajaran sejarah. Ini melebihi ekspektasi saya,” tuturnya. (*/aro/ce1)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia