Kamis, 18 Jan 2018
radarsemarang
Cover Story

Kota Lama Jalur Rempah Nusantara

Selasa, 02 May 2017 09:30

Kota Lama Jalur Rempah Nusantara

LIVING HERITAGE: Kawasan Kota Lama Semarang terus dipercantik menuju Kota Warisan Budaya Dunia UNESCO. (SEMARANG DRONE COMMUNITY FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

KOTA Lama Semarang bakal disulap lebih meriah dan lebih bersahabat kepada para pengunjung. Pemerintah Kota Semarang menggandeng sejumlah stakeholder terkait untuk mengembangkan kawasan peninggalan Kolonial Belanda tersebut.

Pemerintah pusat pun turun tangan untuk membantu pengembangan Kota Lama. Rencananya, pada 5 Mei 2017 mendatang, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menunjuk Kota Lama menjadi tuan rumah Focus Group Discussion (FGD) ”Jalur Rempah Nusantara.” Gelaran akbar tersebut bakal diikuti tiga kota lain yang saat ini masuk dalam daftar sementara Warisan Budaya Dunia versi UNESCO. Yakni, DKI Jakarta, Surabaya, dan Pulau Banda Maluku.

”Itu juga untuk penyusunan Dossiers (penyusunan dokumen registrasi, Red). Jadi, memang harus paralel dengan semua pihak terkait,” kata Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu kepada Jawa Pos Radar Semarang.  

Menurut Mbak Ita—sapaan akrab wawali— Kota Lama tercatat menjadi jalur rempah nusantara, karena sejak dulu Indonesia dikenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas. Dari penghasil rempah itulah, Indonesia menempati posisi penting di dunia sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia. ”Ini menjadi magnet Kota Lama yang terus digali,” ujarnya.

Anggota Tim Percepatan Belanja dan Kuliner Kementerian Pariwisata, Tendi Naim menjelaskan, penunjukan sebagai tuan rumah Jalur Rempah Nusantara ini merupakan momentum kebangkitan Kota Lama. Rencananya, Kota Lama bakal mengangkat tema perdagangan gula. Sebab, di Semarang pernah ditinggali Raja Gula, Oei Tiong Ham. Salah satu kantornya pun ada di Kawasan Kota Lama.

”Selain itu, Kota Semarang juga menyimpan banyak sejarah. Kabarnya kereta api pertama ada di Semarang. Pelabuhan juga. Masih ada menara pandang syahbandar yang kini digunakan untuk kantor PGN (Perusahaan Gas Negara),” ujarnya. 

Dalam perhelatan Jalur Rempah Nusantara itu, rencananya juga membahas agar empat kota daftar tentative UNESCO untuk ditetapkan menjadi daftar tetap warisan budaya dunia. Sebab, jika dilakukan sendiri-sendiri, justru akan sulit. Selain biayanya menjadi mahal, pegumpulan dokumen pun banyak yang mengalami kendala.

”Dokumennya terpencar-pencar. Nanti akan kami bantu mencarinya di kementerian. Semoga saja semua bisa diakui di mata internasional sebagai destinasi wisata warisan dunia,” harapnya.

Mbak Ita menambahkan, nyaris semua dokumen Kota Lama berada di Kemendikbud. Pihaknya pun sudah coba jemput bola dengan melayangkan surat ke Kemendikbud. Sayang, surat tersebut belum dibalas.

 

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) ini bercerita, beberapa waktu lalu pihaknya terbang ke UNESCO di Paris Prancis untuk memastikan kebenaran Kota Lama masuk daftar sementara Warisan Budaya Dunia. ”Ternyata benar, tapi hanya sampai 2019 saja. Jadi kami harus cepat mengurusnya agar segera ditetapkan oleh UNESCO,” tuturnya.

Banyak hal dan tahapan yang menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemkot Semarang untuk mengegolkan agar Kota Lama Semarang sebagai Kota Pusaka bisa diakui UNESCO.

Menurut Mbak Ita –sapaan akrab wawali, itu bukan pekerjaan mudah. Dia mencontohkan Kota Tua DKI Jakarta yang juga masih berjuang di UNESCO. ”Katanya Kota Tua Jakarta sedang di-drop karena dokumennya kurang, yakni peta kawasan. Memang komunikasi dengan kementerian harus intens agar bisa segera beres,” terangnya. (amh/amu/aro/ce1)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia