Kamis, 18 Jan 2018
radarsemarang
Cover Story

Menjelajah Istanbul, Kota Dua Benua Kaya Sejarah (1)

Terpana Lihat Gigi dan Pedang Nabi di Topkapi

Selasa, 02 May 2017 09:00

Menjelajah Istanbul, Kota Dua Benua Kaya Sejarah (1)

DESTINASI BERSEJARAH: Jamaah umrah plus Turki berfoto di depan Masjid Ayyub di Istanbul. Di kompleks ini terdapat Makam Abu Ayub Al Anshari, salah satu sahabat Rasulullah. (Jawa pos Radar semarang photo)

Istanbul, kota terbesar di Turki sejak dulu memiliki daya tarik yang kuat. Di masa lalu, posisinya yang strategis di antara benua Asia dan Eropa menjadi rebutan untuk dikuasai. Kota ini pernah menjadi ibukota empat kekaisaran. Hingga kini, daya pikat Istanbul tak hilang. Peninggalan sejarah dinasti yang pernah berkuasa merupakan kekuatan utama pariwisata.

RICKY FITRIYANTO

USAI menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci bersama Ar-Bani Tour and Travel 19-27 Maret lalu, saya dan beberapa jamaah melanjutkan perjalanan ke Istanbul, Turki. Dari 31 jamaah yang diberangkatkan biro umrah yang berkantor di Jalan Pamularsih Raya 104 Semarang itu, 8 di antaranya lanjut ke Turki, dan 4 jamaah ke Dubai, Uni Emirat Arab. Selebihnya para jamaah pulang ke Tanah Air.

Suhu 7 derajat celcius menyambut kami saat tiba di Ataturk International Airport, Istanbul. Persis seperti yang tertera pada aplikasi pengukur suhu di smartphone. Saya sempat membukanya di Prince Mohammed bin Abdulaziz International Airport, Madinah. Perjalanan Madinah-Istanbul menempuh waktu 4 jam.

Meski memasuki musim semi dan salju sudah mencair, cuaca tetap dingin. Jaket tebal yang sudah disiapkan pun buru-buru dipakai. Di bandara, Ibrahim, guide lokal berbahasa Indonesia menjemput. Pria yang akrab disapa Baim tersebut lantas mengajak kami naik ke minibus Mercy Sprinter untuk menuju kota.

Sambil tersenyum melihat kami yang menggigil kedinginan, dia menjelaskan cuaca hari itu memang cukup dingin karena sinar matahari tak muncul. Tapi itu belum seberapa. ”Jika kalian datang pada Januari lalu, Istanbul diguyur hujan salju selama 20 hari. Suhu udara mencapai minus 20 derajat celcius,” kata guide berwajah bule ini.

Kami langsung ngilu membayangkannya. Dia menambahkan, saat itu tebal lapisan salju mencapai 60 sentimeter. Warga pun tak bisa beraktivitas karena jalan raya tertutup salju. Sekolah juga diliburkan.

Sambil mendengarkan penjelasan Baim, kami menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Baim mengatakan kami sedang berada di Istanbul bagian Eropa. Kota yang dulu bernama Konstantinopel ini memang sekilas mirip kota-kota lain di Eropa. Seperti London atau Paris. Setidaknya dilihat dari tata kotanya yang rapi, transportasi umum yang canggih dengan armada baru, hingga mobil-mobil keluaran Eropa yang berseliweran.

Baru beberapa menit berada di Istanbul, kami sudah terpesona. Di tengah kota, di antara bangunan-bangunan modern, ada tembok benteng pertahanan Konstantinopel. Tembok untuk menahan gempuran musuh tersebut masih berdiri kokoh sepanjang 22 km. Mobil berjalan lagi dan Selat Bosphorus terlihat di sisi kanan. Selat inilah yang memisahkan Istanbul bagian Eropa dan Asia.

Destinasi pertama kami adalah Masjid Ayyub atau Eyup Sultan Camii. Tak sekadar masjid, di kompleks ini terdapat Makam Abu Ayub Al Anshari, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Bangunan di daerah Golden Horn ini merupakan Masjid Ottoman pertama yang dibangun di Istanbul oleh Sultan Mehmet II pada 1458. Sultan membangun masjid itu sebagai penghormatan kepada Abu Ayub Al Anshari yang datang dalam rangka penaklukan Konstantinopel yang pertama.

Sultan Mehmet II yang bergelar Muhammad Al Fatih menaklukkan Istanbul yang saat itu dikuasai Kekaisaran Romawi Timur dengan membawa 80 ribu prajurit.

Baim mengatakan mereka datang ke Istanbul salah satunya karena sabda Nabi Muhammad SAW. Yaitu ”Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam, pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin, pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan” (HR Ahmad bin Hanbal Al Musnad).

Baim yang juga menguasai bahasa Inggris dan Spanyol tersebut lantas mempersilakan kami untuk salat Duhur di masjid ini. Saat mengambil air wudu, wow, dinginnya bukan main. ”Harus kumpulkan tenaga dulu untuk menahan dinginnya air,” ujar Lea Milisia, salah seorang anggota rombongan kami sambil mengusap-usapkan kedua telapak tangannya.

Di kompleks Makam Abu Ayub Al Anshari, banyak pengunjung yang berziarah. Keistimewaan lainnya, masjid ini menjadi tempat penobatan semua Sultan Ottoman.

Destinasi berikutnya Blue Mosque. Lokasinya berada di kawasan Kota Tua yang menjadi pusat turisme. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Ahmet I (1603-1617) dengan arsitektur yang terinspirasi Hagia Sophia, bangunan di seberangnya.

Disebut Blue Mosque karena interiornya banyak dihiasi keramik warna biru. Orang bilang warna birunya berkilauan seperti air laut yang tertimpa sinar matahari. ”Keramik-keramik ini cukup mahal. Kalau tidak percaya, coba lepas satu dan dijual di pasar Eropa, pasti dihargai mahal sekali,” jelas Baim.

Selain interior yang mewah dengan lampu gantung ukuran besar, bagian luar masjid juga istimewa. Kubah-kubah besar dengan 6 menara tinggi berujung lancip. Blue Mosque menjadi salah satu ikon pariwisata Istanbul.

Masih di kawasan Kota Tua, rombongan bergeser ke Hippodrome of Constantinople. Jejak sejarah era Bizantium ini dulunya area balap kuda dan gladiator. Tempat menonton pertarungan antara manusia lawan manusia atau melawan binatang buas. Persis seperti di film ”Gladiator” yang dibintangi Russell Crowe.

Pada masa lalu, area ini berkapasitas 1.000 penonton dan dipenuhi patung dewa dan kaisar. Kini yang tersisa hanya 3 monumen. Yaitu pilar Serpentine Column dari kuil Apollo di Delphi, Yunani, Obelisk Thutmosis III dari kuil Karnak, Mesir, dan Obelisk Constantine. Obelisk Thutmosis III terpaksa dipotong karena panjangnya melebihi panjang kapal saat akan dibawa dari Mesir ke Istanbul.

Perjalanan kami sore itu diakhiri dengan kunjungan ke Topkapi Palace. Topkapi merupakan Istana Kesultanan Ottoman yang dibangun sejak penaklukan Konstantinopel pada 1453. Dari total masa kekuasaan Dinasti Utsmaniyah selama 624 tahun, Topkapi menjadi pusat pemerintahan dan istana para sultan selama 380 tahun.

Yang istimewa dari tempat ini, selain saksi sejarah kejayaan Dinasti Ottoman, di dalamnya terdapat amanat suci alias benda-benda peninggalan para nabi yang disimpan. Ya, Topkapi menjadi museum dari barang-barang yang jarang ditemukan di tempat lain tersebut.

Koleksi berharga tersebut ada di balik pintu lapisan ketiga Istana Topkapi yang di atasnya terukir kaligrafi kalimat syahadat. Saya terpana melihat koleksinya. Di antaranya gigi Nabi Muhammad SAW yang tanggal saat Perang Uhud. Ada juga janggut, pedang, panah, stempel, dan surat Rasulullah.

Di ruangan lain, ada pedang Nabi Daud AS, dan tongkat Nabi Musa AS yang digunakan untuk membelah laut saat dikejar pasukan Firaun. Ada pula kunci Kabah, pintu lama Kabah, dan penutup Hajar Aswad yang terbuat dari emas.

Semua barang berharga tersebut sebagian besar dibawa dari Arab Saudi ke Istanbul. Sebab Istanbul di masa lalu merupakan ibu kota wilayah kekuasaan Dinasti Ottoman. Kekhalifahan Islam terakhir tersebut di puncak kejayaannya memiliki wilayah kekuasaan separo dunia.

Sayang, pengunjung tidak diperbolehkan memotret seluruh koleksi di dalam museum. Setiap ruangan dijaga polisi. Mereka memastikan keamanan benda-benda tersebut selama 24 jam. Kamera CCTV juga di mana-mana. Wisatawan yang berniat mencuri-curi foto pun dijamin nyalinya ciut. Yang menambah syahdu suasana adalah lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan langsung oleh qari secara bergantian. Tradisi tersebut sudah dilakukan sejak zaman dulu. (*/aro/bersambung/ce1)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia