Selasa, 26 Sep 2017
radarsemarang
Cover Story

Belajar Menari, Tak Harus Berbakat

Minggu, 30 Apr 2017 06:00

Belajar Menari, Tak Harus Berbakat

BERLATIH : Endang Pregiwo bersama anak-anak Sanggar Tari Puspo Budoyo yang latihan menari untuk menyambut Hari Tari Dunia yang jatuh pada Sabtu (29/4) kemarin, (AFIATI TSALITSATI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

ANIMO masyarakat pada tari tradisional, sebenarnya saat ini sudah semakin meningkat. Bahkan, secara perlahan semakin bertambah. "Peminatnya cenderung naik. Meski awalnya diwajibkan, namun akhir-akhir ini minat tersebut tumbuh dari keinginan masing-masing untuk benar-benar belajar dan mendalami tari tradisional," kata Dyah Pregiwati, putri dari Wiyono pemilik Sanggar Tari Puspo Budoyo yang beralamat di Jalan Kumudasmoro Utara Nomor 36A, Bongsari, Semarang Barat ini.

Ia mencontohkan, anak-anak sekolah yang berusaha berlatih tari untuk memenuhi tugas pelajaran seni tari di sekolahnya, semula berlatih dengan terpaksa, karena belum pernah mengenal tari. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka justru menikmati dan mulai memahami betapa indah dan berharganya karya tari tradisional.

"Memang tidak semuanya merasa benar-benar tertarik. Paling tidak, kita sebagai guru dan pelatih telah berupaya menanamkan cinta mereka terhadap tari tradisional," ujarnya.

Pelatih dan guru pun, imbuhnya, dituntut memutar otak memunculkan inovasi seperti salah satunya dengan memberikan tugas untuk tampil menari. Dengan cara itu, anak didik mau tidak mau akan mencari pelatih bahkan masuk sanggar untuk bisa belajar menari. Hal ini sangat menguntungkan dan membantu sanggar tari dan para pelatih tari untuk mendapatkan anak didik.

Selain itu, berbagai tawaran untuk mementaskan anak didik juga sangat ampuh membuat mereka mantap dan bersemangat masuk sanggar tari. Ia bersyukur dengan adanya perayaan Hari Tari Dunia baru-baru ini dan dukungan program dari pemerintah maupun instansi terkait dengan pentas tari tradisional, mampu menghidupkan sanggar tari di Kota Semarang.

Dyah menuturkan, anak-anak cenderung tertarik masuk sanggar tari, karena sebelumnya datang untuk menyewa busana tari. Kemudian merasa tertarik, puas dan nyaman dengan pelayanan sanggar, sehingga mereka jadi tertarik latihan. Dari situlah Dyah menyadari bahwa persewaan busana bisa sebagai alat promosi ampuh untuk menarik anak didik.

Selama ini banyak yang berpendapat bahwa belajar seni tari tradisional harus memiliki bakat. Namun yang ia benarkan adalah belajar menari harus punya minat dan niat yang kuat. "Ada bakat tanpa ada minat, tetap bisa menari namun tak ada rasa. Ada minat tanpa ada bakat, tetap bisa dilatih dan perlahan kemampuan menari akan terasah. Jika ada bakat ada minat, bisa menari dengan rasa," imbuhnya.

Sanggar Tari Puspo Budoyo memang belum lama aktif, namun kegiatan latihan selalu dihadiri oleh puluhan siswanya yang berlatih setiap Minggu mulai pukul 10.00 hingga 12.00. Dyah mengakui, anak-anak lebih menyukai tarian nusantara, karena ragam geraknya lebih mudah dan musiknya menarik. Namun dirinya selalu mengupayakan agar anak didiknya menarikan tari-tarian tradisional dengan baik.

Dirinya optimistis bahwa sanggar tari akan tetap diminati oleh masyarakat luas. Kiat untuk mempertahankan seni tradisional, yaitu menanamkan rasa ketertarikan terhadap tari tradisional pada setiap anak didik. Kemudian menumbuhkan minat serta mengolah bakat mereka hingga menjadi sebuah bentuk seni yang dapat diapresiasi masyakarat umum. "Kami selalu menarik para peminat seni untuk ikut berlatih tari. Begitu seterusnya," tegasnya.

Lebih lanjut, Dyah mengatakan bahwa belajar menari bukan hanya untuk yang berbakat, namun sanggarnya membuka tangan untuk merangkul siapapun yang mencintai seni tari dan ingin belajar bersama. Ia memiliki harapan yang besar agar tari tradisional tetap terjaga dan berkembang semakin baik.

"Saya berharap, berbagai media televisi disisipkan tayangan tari tradisional walau sebentar. Setidaknya seluruh masyarakat Indonesia dapat mengapresiasi seni budaya mereka sendiri," tandasnya.

Saat ini, Sanggar Tari Puspo Budoyo memiliki dua orang pelatih, salah satunya dia sendiri. Pentas yang sering diikuti sanggarnya antara lain Hari Tari Dunia, lomba tari tradisional dan lainnya. Sedangkan untuk usia anak didiknya rata-rata 9 tahun dengan biaya kursus Rp 50 ribu dengan 4 kali pertemuan tiap bulannya. (tsa/ida)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia