Senin, 20 Nov 2017
radarsemarang
Semarang

Beri Edukasi Deteksi dan Atasi TB

Senin, 20 Mar 2017 09:10

Beri Edukasi Deteksi dan Atasi TB

LAYANAN GRATIS: Salah seorang warga memanfaatkan fasilitas pemeriksaan gratis Tuberkulosis di area CFD Jalan Pahlawan, Minggu (19/3). (Nur Chamim/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Beri Edukasi Deteksi dan Atasi TB

SEMARANG - Memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia yang jatuh pada 24 Maret, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Balai Kesehatan Mayarakat Wilayah Semarang menyelenggarakan sosialisasi, konsultasi, edukasi serta pelayanan kesehatan gratis kepada pengunjung Car Free Day (CFD) di Jalan Pahlawan, Minggu (19/3).

Dalam acara yang bertajuk Menuju Indonesia Bebas Tuberkosulis, mendapat sosialisasi seputar penyakit TB, cara penularan, pencegahan hingga penyembuhan penyakit tersebut. Selain itu, juga diadakan bagi-bagi masker.

”Kita sosialisasi serta mengadakan pemeriksaan kesehatan paru secara gratis, khususnya dengan spirometri dan smoker test. Kegiatan ini memberikan pengetahuan mengenai penyakit TB yang bisa disembuhkan jika penderita rajin minum obat. Karena banyak masyarakat yang masih menganggap, TB adalah penyakit keturunan,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Riptieni.

Menurut Riptieni, TB memiliki gejala awal yaitu batuk berdahak selama kurang lebih 2 minggu. Terkadang disertai dengan sesak napas, selera makan berkurang hingga keluarnya keringat pada malam hari tanpa melakukan aktivitas fisik. Jika gejala-gejala tersebut muncul, penderita diimbau segera melakukan pemeriksaan di pelayanan kesehatan terdekat seperti rumah sakit, balai kesehatan maupun puseksmas.

Ada etika khusus dalam mencegah penyakit menular ini, seperti menutup mulut menggunakan tangan maupun tisu secara rapat saat penderita batuk. Setelah itu, tisu harus dibuang ke tempat sampah. Hal tersebut untuk mengantisipasi virus Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan penyakit TB. Selain itu, perilaku hidup sehat seperti makan yang teratur, istirahat cukup, berolahraga rutin, juga penting untuk menjaga daya tahan tubuh.

”Kita ada tim khusus namanya PMO (Pengawas Minum Obat) yang bertugas mengawasi penderita untuk patuh mengonsumsi obat selama 6 bulan. Kalau tidak patuh, yang rugi penderita karena pengobatannya bisa semakin lama sampai 2 tahun,” imbuhnya.

Menurutnya, kunci kesembuhan penyakit TB adalah minum obat secara rutin sampai penderita dinyatakan sembuh. Selain itu, selama 6 bulan pengobatan, penderita harus rajin kontrol. Jika tidak rutin akan berimbas pada permasalahan kesehatan yang serius seperti kebal obat atau resisten terhadap penyakit.

”Penyakit TB terus meningkat sepeti fenomena gunung es. Sebetulnya banyak yang terdeteksi tapi karena minimnya informasi tentang TB, maka banyak yang belum berobat. Oleh sebab itu, kita gencarkan terus informasi tentang TB dengan cara ketuk pintu. Harapannya, kita menemukan secara aktif ke masyarakat kalau ada yang bergejala ya langsung disarankan segera ke pelayanan kesehatan,” jelasnya. (mg29/zal/ce1)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia