Senin, 20 Nov 2017
radarsemarang
Semarang

Menengok Rumah Singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia

Kamar Terbatas, Orangtua Terpaksa Tidur di Lantai

Sabtu, 18 Mar 2017 09:50

Menengok Rumah Singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia

BERJUANG UNTUK SEMBUH: Anak-anak penderita kanker bersama orangtuanya di rumah singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia. (kanan) Syuting film pendek yang melibatkan anak penderita kanker. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Puluhan anak penderita Leukimia atau kanker darah berjuang untuk melawan penyakit mematikan yang menyerang tubuhnya. Mereka tetap optimistis dan bersemangat untuk menggapai masa depan yang ceria. Bermain, tertawa, hingga terlibat dalam pembuatan film pendek. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS 

 

SEBANYAK 44 anak penderita kanker, 8 di antaranya telah dijemput oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Anak-anak penderita kanker yang masih tersisa tetap optimistis berjuang untuk sembuh dari penyakit tersebut.  Selain menjalani terapi pengobatan, kesehariannya mereka melakukan aktivitas dan menikmati hari-hari dengan ceria, bermain bersama, tertawa riang gembira, hingga bermain film pendek. Itulah di antaranya aktivitas di Rumah Singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia di Jalan Kedungjati Nomor 6,  Semarang, tak jauh dari RSUP dr Kariadi Semarang.

Mereka bermain layaknya balita normal. Namun siapa sangka mereka sama-sama menderita kanker darah. Para orang tua anak penderita kanker ini juga sabar tinggal di rumah singgah tersebut. Meski fasilitas untuk kebutuhan perawatan penderita kanker masih terbilang minim. Sebab, rumah singgah ini mengandalkan pendanaan dari donatur. Pengobatan untuk anak penderita kanker ini gratis alias tidak dipungut biaya.

Namun demikian, untuk fasilitas tidur bagi para orangtua penderita terlibat sangat minim. Tak jarang mereka sekadar menggelar tikar untuk tidur bersama.

Salah satu orangtua penderita, Eka Puspita Sari, 21, warga Brebes, mengaku tinggal di rumah tersebut demi anak tercinta, Muhammad Fatan Al Haidad, berumur 2,5 tahun, agar segera sembuh dari penyakitnya.

"Kami tinggal di rumah singgah ini sejak Juni 2016," kata Eka kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia mengaku, sudah tinggal sebelum rumah singgah tersebut diresmikan pada September 2016. Dia ditemani suaminya berusaha keras untuk memperjuangkan anaknya agar bisa sembuh. "Awalnya, kami ngekos, setiap kali memeriksakan anak di RSUP dr Kariadi.  Kami sempat putus asa karena tidak memiliki biaya untuk membayar uang kos dan bolak-balik Semarang - Brebes," ujarnya.

Beruntung, saat melakukan pemeriksaan anak di RSUP dr Kariadi, ia disarankan oleh salah seorang perawat untuk mendatangi rumah singgah tersebut. "Saat itu, rumah singgah ini belum diresmikan," katanya.

Dia memenuhi saran dari perawat. Dia bersama suami akhirnya memutuskan untuk menitipkan anaknya, Fatan, di Rumah Singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia itu. Bahkan suaminya yang semula harus bolak-balik karena memiliki pekerjaan di Brebes, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar kerja dan mencari pekerjaan di Kota Semarang.  "Sampai sekarang saya bersama suami tinggal di rumah singgah ini," ungkapnya.

Mengenai penyakit Fatan, lanjut Eka, diketahui mengidap Leukimia sejak usia 14 bulan. Awalnya diketahui adanya pembengkakan di leher dan di bagian perut. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata Fatan divonis Leukimia. "Kanker darah ini secara medis disebabkan karena jumlah sel darah putih sangat banyak dalam aliran darah dan sumsum tulang, maka sel-sel darah lainnya terganggu proses pembuatannya," katanya.

Akibatnya, sel-sel darah putih dan sel darah lainnya tidak mampu berfungsi sebagaimana seharusnya. Orang-orang dengan leukemia anemia dan rentan terhadap memar, pendarahan, dan infeksi.

Dikatakannya, sebenarnya pemeriksaan Fatan saat ini dilakukan dua bulan sekali. Namun karena stok obat saat ini sedang kosong, maka harus dilakukan perawatan rutin seminggu sekali. "Kami merasa terbantu selama tinggal di rumah singgah ini," ucapnya.

Selain Fatan, juga ada Haris, 8, yang datang dari Pangkalanbun, Kalimantan Tengah. Fatan dan Haris bahkan telah seperti saudara. Termasuk 38 penderita kanker yang tinggal di rumah singgah lainnya. Fatan bersama teman-temannya juga diajak terlibat dalam pembuatan film pendek. Meski film tersebut untuk profil rumah singgah.

Koordinator Rumah Singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), Diah Angraeni, mengatakan, rumah singgah tersebut khusus dipersembahkan bagi bagi pasien kanker. Semua kebutuhan perawatan, termasuk makan, peralatan mandi, susu, bahkan pampers, disedikan gratis. "Saat ini kami memiliki tiga kamar dengan 11 tempat tidur. Selain itu, juga ada ruang bermain untuk anak-anak penderita kanker," bebernya.

Meski demikian, pihaknya mengaku fasilitas di rumah singgah masih terbatas. Sehingga ketersediaan kamar seringkali tidak bisa menampung orangtua anak. "Saat sedang penuh, orangtua terpaksa tidur di lantai dengan menggelar tikar," katanya.

Dikatakannya, ada 44 anak penderita kanker mulai dari Leukimia, Neoroblastoma, Osteosarkoma, kanker tulang dan yang paling parah adalah kanker William."Dari jumlah itu, 8 di antaranya meninggal. Untuk operasional, kami dibantu oleh donatur," katanya. (*/aro)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia