Kamis, 18 Jan 2018
radarsemarang
Cahaya Ramadan

Islam dan Pengetahuan

Rabu, 29 Jun 2016 12:50

Islam dan Pengetahuan

M. Najibur Rohman (HumasforRadarSemarang/JawaPos.com)

Pada 15 November 1257 pasukan Hulagu Khan berhasil mengepung Baghdad setelah menghancurkan wilayah sekelilingnya. Sekira tiga bulan kemudian perang benar-benar terjadi antara pasukan Hulagu dan Khalifah Al Mustasim yang merenggut ribuan nyawa. Hasilnya, Baghdad jatuh. Hulagu memenangi peperangan dan membantai keluarga kerajaan.

Dalam tragedi ini ada peristiwa lain yang tak kalah mengenaskan: dilenyapkannya naskah-naskah perpustakaan di kota Baghdad. Pasukan Hulagu membuang warisan literer yang kaya itu ke sungai Tigris dan bercampur dengan darah manusia. Kata Fernando Baez (2013) yang menulis tentang peristiwa ini, aksi penghancuran itu dimaksudkan untuk “menghancurkan kebanggaan intelektual rakyat Baghdad”.

Sebagaimana kita tahu bahwa salah satu pusat kekuatan keilmuan pada abad keemasan Islam (the golden age of Islam) adalah Baghdad. Pada masa-masa itu umat Islam menjadi kiblat bagi perkembangan pengetahuan. Pemerintahan Umayyah dan Abbasiyah membangun pusat-pusat ilmu pengetahuan dan mengembangkan secara positif keberagaman kultural yang dimiliki.

Sebagai misal, pada tahun 830 Al Makmun dari dinasti Abbasiyah membangun Baitul Hikmah yang menjadi semacam pusat penelitian dan penerjemahan berbagai karya dari tradisi lain. Kebijakan yang progresif ini memberikan peluang bagi umat Islam untuk mengembangkan pengetahuan secara maksimal. Pada abad-abad berikutnya kebijakan yang pro-pengetahuan ini terbukti berhasil menempatkan umat Islam menjadi pemain kunci dalam membangun peradaban tinggi di masanya.

Dari masa lalu itu agaknya kita perlu mengambil satu poin penting bagi kehidupan kita hari ini. Refleksi beberapa cendekiawan menyatakan bahwa kemunduran muslim hari ini, salah satunya, dipicu oleh faktor kurang dihargainya pengetahuan.Padahal al-Qur’an meneguhkan pentingnya kehadiran pengetahuan dalam kehidupan setiap muslim. Dalam kacamata Asghar Ali Engineer (2000), al-Qur’an menyerukan manusia untuk menjadi pribadi yang ulul albab, manusia yang berpikir (basr/dapat melihat) dan bukan manusia yang kolot (a’am/buta).   

Dalam pernyataan yang lain juga ditegaskan bahwa Allah SWT akan meninggikan derajat orang-orang yang berpengetahuan (QS 58: 11). Bahkan dari pengetahuan itulah manusia akan menemukan jalan menuju keadilan (QS 3:18).Di sisi lain, al-Qur’an menyinggung bahwa manusia yang tidak berpengetahuan akan mudah berprasangka, dan lebih lanjut, prasangka tidak menuntun pada kebenaran (QS. 53: 28).

Kita tentu senantiasa berdoa supaya umat Islam dijauhkan dari kehidupan yang berakar pada prasangka. Karena sebagaimana umumnya, prasangka selalu berimbas pada permusuhan dan konflik—bahkan secara internal—yang sangat merugikan. Kita sepatutnya berusaha untuk menjadi muslim yang jauh dari prasangka dan mencari pengetahuan. Dengan begitu keberagaman kultural juga akan mampu diolah secara positif demi kemajuan dimana perbedaan-perbedaan dalam tubuh umat Islam akan menjadi kekuatan, bukan kelemahan.

Untuk mencapai semua itu tentu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Tetapi pada prinsipnya, kejayaan hanya akan dicapai ketika proses pencarian terhadap pengetahuan tidak terhenti. Masa lalu akan kebesaran peradaban muslim perlu dipahami dalam konteks “bagaimana prosesnya” bukan semata “bagaimana hasilnya”.

Kekurangtepatan dalam melihat masa lalu ini kerap mengakibatkan sebagian umat Islam terlalu romantis sembari berharap bahwa kejayaan itu dapat diulang kembali tanpa melihat bagaimana perkembangan zaman ini. Seolah-olah waktu yang terentang dari abad ke-11 hingga abad ke-21 tidak ada artinya dan bumi dapat berputar balik.

Sampai di sini ada baiknya mengutip pepatah laysal fata man yaqulu ka na abi, walakin alfata man yaqulu ha ana dza. Seorang pemuda adalah mereka yang tidak melulu membanggakan “siapa bapak”nya, tetapi “inilah aku”—dirinya sendiri. Pepatah ini memberikan makna bahwa pemuda, atau kita yang hidup hari ini, adalah anak zaman ini. Sementara bapak kita, apa yang mereka miliki dan kesuksesan yang mereka capai, adalah hasil mereka pada zamannya.

Kita boleh saja mewarisi hasilnya, tetapi tanpa warisan semangat dan menyadari bagaimana proses bapak-bapak kita mencapai kesuksesan, hal itu memicu kegagalan kita di kemudian hari.Bahwa kebesaran muslim di masa lalu merupakan buah proses dari pencarian tanpa lelah akan pengetahuan. Dan pengetahuan itu sendiri bisa datang dari mana saja karena apa yang ada di seluruh dunia ini berasal dari Allah SWT.

Akhirnya inti dari ajaran Islam untuk berpengetahuan adalah upaya memaksimalkan setiap potensi dari manusia yang merupakan anugerah dari Allah SWTuntuk pembangunan kehidupan yang berkualitas. Semua itu tidak lain dalam kerangka beribadah kepada Allah SWT. (*/zal)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia