Kamis, 18 Jan 2018
radarsemarang
Artikel

Kembali Kepada Al-Quran dan As-Sunnah

Selasa, 28 Jun 2016 13:40

Kembali Kepada Al-Quran dan As-Sunnah

Ahmad Musyafiq (Istimewa)

Oleh:

Ahmad Musyafiq *)

KEMBALI kepada al-Quran dan as-Sunnah sebagai sebuah slogan mula-mula dikumandangkan oleh sejumlah muslim reformis. Sebagai salah satu usulan bagi penyelesaian masalah keterbelakangan, untuk tidak mengatakan kemunduran, umat Islam memasuki era modern.

Sebenarnya slogan ini secara eksplisit dinyatakan dalam al-Quran dan al-Hadis. Misalnya QS. al-Nisa: 59 (artinya): “Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (as-Sunnah).” Dan sabda Nabi Muhammad saw. (artinya): “Aku tinggalkan ke dalam diri kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama kalian mau berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR al-Bukhari). Karena itu, kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah penting bukan hanya dalam situasi menghadapi keterbelakangan dan dalam situasi konflik, tetapi dalam situasi apapun. Kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah adalah kewajiban setiap muslim, bukan hanya milik orang atau kelompok tertentu.

Meski makna slogan itu sangat jelas, tetapi prakteknya tidaklah mudah, yakni terkait bagaimana cara kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah itu. Dalam sejarahnya, ada dua golongan di kalangan ulama dengan kecenderungan berbeda. Pertama, kelompok Ahlul Hadis, yaitu mereka yang memahami al-Quran dan al-Sunnah berdasarkan teks-teks yang ada. Mereka tidak mau beranjak dari makna teks kepada makna substantif di balik teks.

Karena itulah mereka juga disebut sebagai kaum tekstualis. Cirinya adalah rendahnya, untuk tidak mengatakan tidak adanya, porsi penggunaan akal sebagai sumber kebenaran. Kedua, kelompok Ahlur Ra’yi, yaitu mereka yang memahami al-Quran dan as-Sunnah tidak hanya terbatas pada teks, tetapi juga menyeberang di balik teks dan menjangkau ide moralnya, untuk digunakan sebagai dasar bagi implementasi yang secara tekstual bisa saja berbeda dari yang termaktub di dalam teks. Sebagai contoh, potong tangan, bagi kelompok pertama maknanya adalah benar-benar potong tangan. Tetapi bagi kelompok kedua, dimungkinkan meski tidak selalu, ada makna lain, misalnya upaya menghentikan tindakan pencurian, sehingga bentuk hukumannya bisa saja berbeda.

Itulah dua kecenderungan ulama (kaum khawwash) dalam mengimplementasikan slogan kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah. Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara yang seyogyanya ditempuh oleh masyarakat awam (kaum ‘awwam)? Kita bisa memperluas implementasi slogan itu, dengan beberapa hal berikut: Pertama, kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah dimulai dari belajar membaca teks Arab, karena keduanya berbahasa Arab, lebih-lebih bila diimbangi dengan belajar bahasa Arab itu sendiri. Khusus untuk al-Quran karena membacanya saja (kanan ke kiri) sudah  berpahala. Membacanya sudah mendatangkan manfaat duniawi, seperti kesehatan fisik, mental dan spiritual, dan ukhrawi. Tidak cukup membaca al-Quran dan as-Sunnah hanya dari transliterasi-nya (kiri ke kanan). 

Kedua, dilanjutkan dengan mengkaji keduanya, dan lebih baik bila difasilitasi oleh orang yang mumpuni. Bukan mengecilkan adanya orang yang mampu belajar secara otodidak, tetapi bagaimanapun belajar al-Quran dan as-Sunnah di bawah bimbingan guru tentu lebih aman. Ibarat air sumur, akan berbahaya bila seseorang minum dengan cara turun langsung. Akan lebih selamat bila ia menggunakan alat. Semakin baik alatnya semakin besar kemungkinan selamat. Kalau tidak bisa mengambil sendiri, lebih baik ia meminta tolong kepada yang ahli. Ini bukan soal taklid dan membatasi akses setiap orang kepada keduanya, tetapi soal menyerahkan segala sesuatu kepada ahlinya.

Ketiga, mengkaji al-Quran dan as-Sunnah juga mencakup kajian terhadap semua jenis ilmu. Bukan hanya ilmu-ilmu yang dikategorikan sebagai ilmu-ilmu agama (‘ulum al-din), tetapi juga ilmu-ilmu umum. Karena sebenarnya semua ilmu bersumber dari Allah swt. Bahkan dalam al-Quran dan al-Hadis, isyarat-isyarat ilmiah yang masuk dalam kategori ilmu-ilmu umum banyak dijumpai. Karena itu muncul gairah untuk membuktikan semacam kemukjizatan ilmiah keduanya. Dengan kata lain, kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah juga bermakna membangkitkan kembali kecintaan kepada ilmu pengetahuan. 

Selain itu, kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah juga mengandung makna kembali kepada nilai-nilai dasar yang ada pada keduanya, ide moral (meminjam istilah Fazlur Rahman) atau maqashid al-syari’ah (meminjam istilah al-Syathibi). Nilai-nilai dasar itu sesungguhnya sejalan dengan hati nurani manusia. Suatu ketika seorang Baduwi meminta nasehat kepada Nabi Muhammad saw untuk dibawa pulang dan dipraktekkan bersama masyarakatnya. Karena kecil kemungkinan bagi orang itu untuk belajar banyak dari beliau, maka beliau memberikan wejangan singkat: “Tanyalah hati nuranimu.” Karena itu kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah selain bisa dilakukan dengan mengkaji keduanya, juga bisa dilakukan dengan menghidupkan kembali hati nurani. (*)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia