Jumat, 27 Apr 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Sudarsih, Perajin Batik Rengkik Mojokerto

Diminati Luar Negeri, Torehkan Lebih dari 10 Penghargaan

Rabu, 14 Mar 2018 20:54 | editor : Mochamad Chariris

Sudarsih menunjukkan karya batik tulis yang dipajang di galerinya, di Griya Permata Meri (GPM), Kel. Meri, Kec. Kranggan.

Sudarsih menunjukkan karya batik tulis yang dipajang di galerinya, di Griya Permata Meri (GPM), Kel. Meri, Kec. Kranggan.

MEMPERTAHANKAN kesenian dan budaya daerah memang tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan dan ketelatenan dalam mengembangkan demi mendapat kepercayaan. Sudarsih, perajin batik rengkik salah satunya. Perajin asal Perum Griya Permata Meri (GPM), Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, ini bahkan pernah menorehkan lebih dari 10 penghargaan. 

Pagi itu, suasana terlihat sepi di lingkungan dari kediaman Sudarsih. Namun, di balik itu, diam-diam terdapat 17 karyawan yang biasa bekerja membantunya membatik. Sudarsih merupakan satu di antara puluhan perajin batik yang dikenal dengan karya berbagai motif khas rengkik. Yakni, batik yang sering digunakan oleh PNS dan penjabat di lingkungan Pemkot Mojokerto.

Berwarna oranye dan cokelat dengan gambar Gapura Majapahit di bagian belakang. Sudarsih sendiri memulai mengembangkan usahanya dari tahun 2005. Terlihat tumpukan baju hingga potongan kain batik disususn rapi memenuhi etalase di galeri kediaman rumahnya.

Nah, berawal dari menjadi buruh batik hingga dia akhirnya mendirikan usaha batik di kediamannya.  Bahkan, telah diakui wali kota sebagai pembuat batik pertama kali di Kota Onde-Onde. ”Awalnya menjadi tukang batik dan sudah terlatih, sehingga membuat usaha membatik dengan ciri khas batik rengkik,” ujarnya ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto, di rumahnya.

Agar batik tidak mudah luntur dan pudar, selama ini, dia lebih menggunakan pewarnaan dan kain yang berkualitas. Seringkali batik canting lembarannya digunakan oleh rumah sakit, sekolah, dan institusi pemerintahan. Batik tulis dan cap karyanya dijual dalam dua jenis berbeda, yaitu kain dan baju.

Untuk jenis kain berukuran 2.20 meter, lanjut Sudarsih, batik cap dijual seharga Rp 100 ribu- Rp 300 ribu. Sedangkan, batik tulis dijual lebih tinggi antara Rp 300 ribu-Rp 500 ribu. ”Untuk baju batik tulis satu stel dijual Rp 200-Rp 300 ribu,” imbuhnya.

Dia menuturkan, dalam proses pembuatan batik yang dikerjakan oleh belasan karyawannya itu, dia mampu menghasilkan minimal 30 buah. ”Semua proses dari pencantingan hingga pewarnaan dan penutupan. Setiap karyawan mendapatkan bagian berbeda,” tambahnya. Dalam satu bulan, batik tulis dan cap miliknya dapat terjual antara 50-100 buah.

”Saya mengikuti pameran bukan untuk menjual, tetapi mengenalkan batik sebagai produk dalam negeri yang merupakan kebudayaan Indonesia. Saat saya membawa keluar Jawa, 200-300 buah batik, biasanya pulang kadang hanya tersisa 6-10 buah saja,” tandasnya.

Sejauh ini, kerajinan batik karyanya dikirim ke seluruh Indonesia, kecuali Aceh. Selain itu batik karnyanya juga diminati konsumen luar negeri. Di antaranya, Malaysia, Singapura dan Thailand. Pemasaran dilakukan dengan cara manual maupun online via website.

Sejak tahun 2010 hingga 2017, Sudarsih mendapatkan lebih dari 10 penghargaan berkat keberhasilannya dalam melestarikan batik Indonesia. ”Setiap membatik harus telaten dan dari dalam hati. Kalau tidak begitu, hasilnya tidak akan rapi,” jelas Sudarsih.

Dalam satu tahun, lanjut Sudarsih, dia pernah meraih tiga kali penghargaan secara beruntun. Di antaranya, penghargaan sebagai pelatih batik terbaik di Manado, pengusaha batik terbaik. Hingga batik hasilnya diakui oleh Wali Kota Mojokerto, dan dipatenkan sebagai seragam pemerintahan di hari Kamis. (eza)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia