Jumat, 23 Feb 2018
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Oknum Kejati Jatim dan LSM, Ditetapkan Tersangka Pemerasan

Rabu, 07 Feb 2018 08:00 | editor : Mochamad Chariris

KH, digiring menuju mobil untuk dibawa ke Polda Jatim, usia menjalani pemeriksaan di Polres Mojokerto.

KH, digiring menuju mobil untuk dibawa ke Polda Jatim, usia menjalani pemeriksaan di Polres Mojokerto. (Ist/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Polres Mojokerto menetapkan tiga pelaku dugaan pemerasaan yang terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) Selasa (6/1).

Ketiganya adalah KH, oknum jaksa fungsional Bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, dan dua orang anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM). Yakni, KCW dan IW asal Kota Surabaya.

Mereka diduga telah melakukan pemerasan terhadap koordinator wisata religi petirtaan Jolotundo, di Desa Seliliman, Kecamatan Trawas, Ahmaji. ’’Para pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka,’’ kata Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP M. Solikhin Fery, juga kepala pokja tindak satgas saber pungli.

Di dalamnya gabungan dari anggota Polres Mojokerto dan Kejari Kabupaten Mojokerto. ’’Untuk dua pelaku (KCW dan IW) resmi jadi tahanan kami (Polres Mojokerto). Satunya (KH, Red), ditarik Kejati Jatim. Untuk lebih jelasnya langsung konfirmasi Kabid Humas Polda Jatim, karena satu pintu,’’ imbuh Fery.

Dalam dugaan pemerasaan, kedua warga asal Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, dan Kelurahan Nyemplungan, Kecamatan Pabean, Kota Surabaya, bekerja sama dengan KH. Fery menegaskan, memang keduanya diduga melakukan pemerasan pada Ahmaji, PNS Disparpora Kabupaten Mojokerto.

Hal ini dikuatkan keterangan saksi dan barang bukti selama penyelidikan dan penyidikan. ’’Sudah lebih dari dua alat bukti bagi penyidik meningkatkan status ke penyidikan,’’ tandas Fery.

Sebelumnya, dalam OTT ketiga pelaku, tim saber pungli mendapati beberapa barang bukti. Meliputi enam bendel karcis masuk wisata religi petirtaan Jolotundo dan uang hasil penjualan karcis Rp 612 ribu, uang tunai hasil dugaan pemerasan Rp 11,9 juta, dan empat handphone (HP).

Tim saber pungli juga mengamankan mobil Mitsibhishi Kuda nopol L 1860 FN warna biru. Oleh polisi, para tersangka dijerat pasal 368 KUHP tentang Tindak pidana Pemerasan. Ancaman hukumannya selama 9 tahun penjara.

Fery mengungkapkan, dugaan niat jahat pelaku berawal dari KCW dan IW. Keduanya mendapati informasi, bahwa di kompleks wisata religi petirtaan Jolotundo diduga ada kecurangan dalam penjualan tiket. Keduanya kemudian turun ke lokasi untuk mengkroscek kebenaran. ’’Awalnya sebatas menindaklanjuti info dari temannya. Namun, akhirnya terjadi aksi pemerasan sekaligus penculikan ini,’’ tuturnya.

Sebelum melancarkan niatnya, HCW dan IW lebih dulu mengajak KH, oknum jaksa di Kejati Jatim. Disebu-sebut, ketiganya kemudian membagi peran. Dua pelaku menjadi eksekutor, sedangkan satu lainnya diduga sebagai backing. 

”Jadi, otak dan pemeran utama itu HCW dan IW,’’ tegas Fery. Menurutnya, KCW dan IW juga diduga sebagai eksekutor yang menculik dan menerima uang hasil pemerasan terhadap Ahmaji. ’’Saat beraksi, dua orang ini selalu mengatasnamakan Intel Kejati Jatim,’’ beber Fery.

Sementara itu, informasi dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto menyebutkan, penangkapan dilakukan di dua lokasi berbeda. Pertama, tim saber pungli menangkap KCW dan IW di kawasan Wonoayu, Sidoarjo. Dari penangkapan itu, petugas mendapati sejumlah uang diduga hasil pemerasan.

Keduanya kemudian mencatut nama KH. Oknum jaksa ini lantas ditangkap saber pungli seusai melaksanakan salat Magrib di masjid kawasan Krian, Sidoarjo. ’’Jadi, saat OTT pertama itu bukan tiga orang, tapi dua orang,’’ kata seorang sumber.

Dalam pemerasan ini, korban Ahmaji mengaku dimintai uang Rp 75 juta. Namun, nilai tersebut dirasa sangat memberatkan. Hingga akhirnya muncul tawar-menawar sampai angka Rp 15 juta. Dari situ, kemudian disepakati Rp 35 juta. Dengan ketentuan diangsur lebih dulu Rp 3 juta sedangkan sisanya diberikan keesokan hari.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia