Sabtu, 24 Feb 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Disparpora Minta Laporkan Petugas Pariwisata yang Nakal

Selasa, 06 Feb 2018 14:00 | editor : Mochamad Chariris

Proses upacara melasti di kompleks Wisata Religi Petirtaan Jolotundo, Trawas, Mojokerto, tahun lalu.

Proses upacara melasti di kompleks Wisata Religi Petirtaan Jolotundo, Trawas, Mojokerto, tahun lalu. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Tertangkapnya tiga orang yang berusaha melakukan pemerasan terhadap petugas jaga wisata Jolotundo, Trawas, membuat Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Mojokerto terperangah. Pasalnya, kinerja tim petugas di lokasi wisata petirtaan ini, cukup moncer.

Kepala Disparpora Kabupaten Mojokerto Djoko Widjayanto, mengatakan, di tahun 2017 lalu, Jolotundo tercatat sebagai salah satu wisata yang memiliki prestasi apik. ’’Jolotundo termasuk baik. Karena, mampu melebihi target hingga 257 persen,’’ katanya, kemarin.

Djoko menerangkan, dari target pendapatan yang hanya Rp 200 juta sepanjang tahun, Jolotundo mampu memenuhi hingga hampir Rp 600 juta. ’’Karena, kami lakukan pengawasan yang sangat serius,’’ imbuhnya.

Di lokasi ini, potensi wisata memang sangat menjanjikan. Mantan Camat Jatirejo ini merinci, jumlah wisatawan terus mengalami peningkatan. Jika hari libur, jumlah pengunjung bisa tembus 500 orang. Dengan tiket yang hanya Rp 10 ribu per orang, pendapatan minimal di lokasi wisata ini, mencapai rata-rata Rp 25 juta per bulan.

Naiknya pendapatan tiket di lokasi wisata ini disebabkan oleh perombakan besar-besaran yang dilakukan diparpora. Djoko menegaskan, saat ia dipercaya menduduki jabatan Kepala Disparpora, ia langsung melakukan perombakan. Petugas yang terindikasi nakal dan bermain-main dengan tiket, langsung diparkir.

Kemarin petang, diparpora langsung mengumpulkan 13 koordinator wisata yang tersebar di Kabupaten Mojokerto. Mulai dari Wanawisata Air Panas, Ubalan, hingga Wisata Waduk Tanjungan.

Dalam pertemuan itu, Djoko meminta agar tak ada permainan dalam penjualan tiket. Semua akan diberikan tindakan tegas jika ditemukan melenceng dari standart operating procedure (SOP). ’’Setiap hari, kami minta semua koordinator melaporkan secara realtime. Ini sebagai salah satu langkah mengurangi indikasi kebocoran,’’ jelasnya.

Dan, untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh petugas di lokasi wisata, Disparpora akan berkoordinasi dengan seluruh Muspika. Tujuannya, untuk ikut mengawal keseriusan pemda mengawal kecurangan petugas loket.

Langkah kedua, Disparpora akan mempertebal petugas. Jika selama ini hanya  terdapat dua hingga orang saat malam hari, maka akan dipertebal hingga menjadi empat petugas. ’’Jam rawan itu justru saat lokasi wisata sepi,’’ katanya.

Djoko mengharap, jika masyarakat menemukan petugas nakal segera melaporkan dan Disparpora akan memberikan tindakan tegas. ’’Kami tidak akan main-main. Tentu akan kami berikan tindakan tegas,’’ pungkasnya.

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia