Minggu, 18 Feb 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Padepokan Among Budaya Sastro Loyo

Gangguan Jiwa dan Menyimpang Diarahkan Melalui Budaya

Selasa, 06 Feb 2018 10:00 | editor : Mochamad Chariris

Slamet, pasien dengan hobi mencuri mulai bisa berbaur dengan mahasiswa dan bisa diarahkan membuat sketsa gambar.

Slamet, pasien dengan hobi mencuri mulai bisa berbaur dengan mahasiswa dan bisa diarahkan membuat sketsa gambar.

NAMA Padepokan Among Budaya Sastro Loyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sudah terdengar hingga kancah Nasional.

Di bawah asuhan Sri Wulung Jeliteng yang juga pimpinan Ludruk Among Budaya, pedepokan itu telah berhasil menyembuhkan ribuan pasien gangguan jiwa sejak 10 tahun lalu.  

Selain merehabilitasi orang dengan gangguan jiwa, padepokan yang sejak Maret 2016 sudah mendaftarkan dirinya sebagai lembaga kesejahteraan sosial dan telah disahkan di Pengadilan Negeri Mojokerto, ternyata juga menampung dan memberi bimbingan kepada pecandu Narkoba.

Termasuk remaja atau pun dewasa dengan perilaku menyimpang yang meresahkan masyarakat. Seperti peminum, penjudi, pencuri, perampok, bahkan pelacur. Terbaru, di awal dan akhir Januari 2018. Dua pasien baru dengan perilaku menyimpang, yakni mencuri dan minum-minuman keras ditampung di Among Budaya.

Slamet, 39, adalah pasien dengan perilaku suka mencuri dan meresahkan masyarakat. Sedangkan Andik, 28, pasien peminum. Meskipun tidak meresahkan masyarakat, namun setiap kali tidak punya uang untuk minum-minuman keras akan marah dan mengacaukan rumah. Bahkan pernah memasukkan sepeda motor ke dalam kali. Keduanya sempat beberapa kali kabur namun berhasil ditemukan Wulung.

Pada dasarnya cara mengatasi para pasien dengan gangguan jiwa atau pun berperilaku menyimpang itu sama. Yaitu, dengan mengarahkan mereka melalui budaya. Mereka didengarkan gamelan dan lagu-lagu. Setelah berhenti diajak ngobrol, digiring dengan cerita perumpamaan yang mengharuskan mereka menjawab. Sehingga mulai terbuka pikiran mereka.

’’Harus punya semangat bantu mereka. Karena orang sejelek apapun pasti mempunyai rasa takut dan berdosa. Mengajak ngobrol dengan berbagai cerita dan perumpamaan yang bisa sedikit demi sedikit membuka pikiran para pasien. Sehingga mereka mulai sadar,’’ terang Wulung.

Kedatangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya akhir bulan lalu banyak membantu Padepokan Among Budaya Sastro Loyo. Mereka yang berjumlah 72 orang dari 4 jurusan, Karawitan 22 orang, tari 22 orang, 24 orang seni rupa dan 4 orang teater. Dibagi dalam 7 kelompok.

Dua kelompok yang ditempatkan di Sanggar Among Budaya, membantu dengan cara mengajarkan pasien menggambar di padepokan. ’’Mereka mau menggambar, berarti mau interaksi. Pola pikirnya mulai kembali. Ya meskipun gambaran mereka masih jelek-jelek,’’ lanjut Wulung.

Selain mengajarkan menggambar, mahasiswa tersebut juga tak jarang datang ke padepokan Among Budaya untuk bermain karawitan. Para pasien diajak berinteraksi. Salah satunya Slamet.

Kini, Slamet yang susah berinteraksi dan lebih sering memilih untuk diam serta tak jarang untuk marah dan kabur, semakin mudah berinteraksi. Meskipun kebiasaan mencuri masih belum 100 persen hilang. Mengingat kedatangannya di padepokan baru terhitung satu bulan sejak awal Januari.

’’Dia jujur bilang ke saya masih belum bisa total berhenti mencuri. Tapi dengan kehadiran anak-anak KKN yang sering memberikan motivasi dan sering mengajak interaksi, Slamet lebih bisa diatur sekarang. Perubahannya pesat,’’ imbuh Wulung.

Reni Agustin, seorang mahasiswi yang KKN jurusan seni rupa menambahkan, bahwa Slamet yang paling rajin bertanya kapan menggambar. Itu dilakukan setiap kali dia dan teman-temannya datang ke Padepokan Among Budaya.

’’Mas Slamet selalu berusaha berinteraksi dengan nanya kapan menggambar lagi. Sepertinya dia yang paling semangat dibanding teman-temannya,’’ pungkas Reni. Minggu (4/2) lalu, Ludruk Among Budaya juga mengundang mahasiswa KKN STKW untuk ikut tampil dalam Pergelaran Wayang Kulit Among Budaya di Desa Sebani, Kecamatan Tarik.

Selain bertujuan melatih generasi muda lebih paham pentingnya melestarikan budaya Indonesia agar tidak punah, Wulung juga menjelaskan, dengan budaya, emosi para pemuda yang masih tidak stabil bisa lebih teratur. Mereka akhirnya jauh dari pergaulan yang salah, utamanya untuk jatuh dalam kecanduan narkotika. (ros/abi)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia