Sabtu, 24 Feb 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Dr Dewi Ema Anindia Asal Jakarta

Peduli Kesehatan Masyarakat, Getol Lakukan Penyuluhan

Selasa, 06 Feb 2018 00:50 | editor : Mochamad Chariris

Dr Dewi (kiri) saat memberikan penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS kepada warga Desa Gembongan, Kec. Gedeg.

Dr Dewi (kiri) saat memberikan penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS kepada warga Desa Gembongan, Kec. Gedeg. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Masih ingat dengan Febrio Nur Alif ? Ya bocah yang pernah mengalami kondisi BAB melalui perut dan ditampung di kantong plastik sejak usia 7 bulan.

Januari lalu, bocah yang usia 9 tahun itu telah menjalani tindakan medis di Rumah Sakit Premiere, Surabaya. Kini, Alif bisa menjalani kesehariannya dengan perasaan ceria. Pasalnya, bocah asal Dusun/Desa Gembongan, RT 25, RW 7, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto ini, sudah bisa kembali BAB secara normal.

Adalah dr Ema Dewi Andindia, 29, yang terketuk hatinya membawa Alif untuk mendapat penanganan medis. Pada Sabtu (6/1) lalu, Alif menjalani operasi di RS Premiere.

Kemudian sepekan berikutnya, Alif diperbolehkan pulang. Selama menjalani perawatan tersebut, seluruh biaya rumah sakit ditanggung dokter asal Jakarta ini. Baik biaya operasi, obat-obatan, hingga kebutuhan sehari-hari keluarga Alif.

Sabtu (3/2) kemarin, perempuan yang akrab disapa dr Dewi ini, menyempatkan diri untuk menjenguk Alif di rumahnya. Tak hanya itu, kedatangannya kali ini juga untuk melakukan kegiatan sosial kepada warga Desa Gembongan. Mulai dari penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga bakti sosial.

dr Dewi mengatakan, penyuluhan kesehatan yang digelar di Balai Desa Gembongan itu mengambil tema tentang HIV/AIDS. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang kurang memahami apa sebenarnya penyakit HIV/AIDS.

’’Banyak yang belum tahu HIV/AIDS itu penyakit apa, cara penularannya seperti apa, dan pencegahannya bagaimana,’’ ujarnya. Akibatnya, sebagian besar masyarakat justru paranoid jika mengetahui ada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Padahal, kata dr Dewi, ODHA masih bisa berkumpul di tengah masyarakat seperti warga lainnya. ’’Kadang warga masih banyak yang keliru. Kalau ada penderita HIV/AIDS malah menjauhi. Padahal penularannya tidak semudah yang dibayangkan,’’ paparnya.

Karena itu, dengan kegiatan penyuluhan yang dihadiri sekitar 200 warga Desa Gembongan itu, diharapkan mampu memberikan pemahaman. Baik wawasan tentang HIV/AIDS maupun tentang penyakit lainnya.

Dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat tersebut, kata dr Dewi, maka akan berkontribusi untuk mengurangi angka kejadian penyakit. ’’Harapannya, supaya terbentuk masyarakat yang lebih sehat,’’ ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan itu.

Menurutnya, hal itulah yang menjadi tujuannya menempuh pendidikan kedokteran. Yakni, untuk membantu sesama. Hal itu dilakukan sebagai wujud pengabdian sebagai seorang dokter terhadap masyarakat.

Selain itu, dr Dewi memiliki tekad untuk menjadi salah satu perpanjangan tangan pemerintah dalam rangka mengurangi angka kejadian penyakit infkesi dan menahun.

Setelah penyuluhan, dr Dewi juga menggelar pemeriksaan kesehatan kepada seluruh warga yang hadir. Dibantu tenaga kesehatan dari bidan desa setempat, satu per satu warga dilakukan pemeriksaan kondisi umumnya.

’’Karena kebanyakan pasien adalah lansia, maka kita cek gula darah, kolesterol, hipertensinya,’’ terang perempuan kelahiran 10 Mei 1988 ini. Dalam kesempatan tersebut, dr Dewi juga menyiapkan puluhan obat berbagai jenis untuk diberikan gratis kepada warga yang membutuhkan.

dr Dewi memang dikenal aktif dalam kegiatan sosial di bidang kesehatan. Dia juga menyatakan kesiapannya untuk membantu masyarakat dalam memahami isu-isu terkait kesehatan. Salah satunya adalah dengan turun langsung ke masyarakat dengan melakukan penyuluhan.

Pada Minggu (4/2) kemarin, dr Dewi juga melakukan agenda penyuluhan di dua lokasi sekaligus di Kabupaten Nganjuk. Pertama, penyuluhan dilakukan di Gedung Dakwah Aisiyah tentang isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Kemudian dilanjutkan ke Desa Joho, Kecamatan Pace, untuk melakukan penyuluhan dengan mengankat topik bahaya narkoba.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia