Minggu, 18 Feb 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Puding Bermotif Asal Mojokerto

Kreasi Jelly Art dengan Ikan Lele, Solusi Kurangi Jajan Anak

Senin, 05 Feb 2018 21:11 | editor : Mochamad Chariris

Siti Muawanah, menunjukkan kreasi kue puding buatannya.

Siti Muawanah, menunjukkan kreasi kue puding buatannya. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

SITI MUAWANAH memiliki cara tersendiri untuk menyiasati anak-anak yang lebih suka jajan sembarangan. Ibu asal Dusun Sukorejo, Desa Tampungrejo, Kecamatan Puri ini, mengkreasikan kue jelly art atau puding motif. Tidak sekadar mempercantik tampilan, tetapi dia juga memasukkan bahan ikan agar menjadi jajanan yang sehat.

Siang itu, hujan deras sedang mengguyur wilayah Desa Tampungrejo, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Namun, hal tersebut tak menyurutkan semangat Siti Muawanah untuk mengenalkan makanan sehat hasil olahannya di depan puluhan ibu rumah tangga.

Makanan tersebut adalah kue puding. Namun, jangan salah, kue puding kreasi ibu tiga anak ini memiliki kelebihan dibandingkan puding lainnya. Dilihat dari segi penampilan saja sudah mengundang selera. Bahkan, soal pemenuhan gizi tidak perlu dipertanyakan lagi. Sebab, puding diolah dengan menggunakan bahan ikan yang kaya akan gizi.

Perempuan yang akrab disapa Ana ini, mengkreasikan puding dengan berbagai macam motif. Mulai dari hiasan beragam bunga, hewan, hingga hiasan motif lainnya. Oleh sebab itu, puding buatannya sering juga disebut jelly art. Karena terdapat sentuhan seni di balik pembuatannya.

Ana menjelaskan, prosesnya pembuatannya tak jauh beda dengan pembuatan puding pada umumnya. Bahan-bahan yang dia gunakan serbuk agar-agar atau jelly, susu full cream, gula, serta sedikit garam. Bahan serbuk agar-agar kemudian dimasak dengan air secukupnya hingga mendidih. Kemudian, dimasukkan ke wadah sesuai dengan keinginan. ’’Sebagai bahan dasar, bahan agar-agar menggunakan warna yang transparan,’’ paparnya.

Pemilihan warna tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, setelah tercetak sebagai adonan, bagian dalam puding itu lah yang akan dihias. Dalam hal ini, dibutuh kreativitas dan keuletan yang cukup tinggi.

Sebagian agar-agar yang mendidih disisihkan menjadi beberapa bagian kemudian diberi pewarna makanan. ’’Hiasannya dibuat menggunakan inject (alat suntik) dengan jarum khusus. Namanya tool jelly art,’’ paparnya.

Kali ini, Ana memilih menghias puding menjadi bentuk bunga tiga dimensi. Satu set tool jelly art terdiri dari berbagai bentuk. Masing-masing memiliki fungsinya tersendiri. ’’Ada yang untuk membentuk benang sari, daun, kelopak bunga dan hiasan lainnya,’’ papar perempuan kelahiran 17 April 1977 ini.

Setelah hiasan rampung, dia kemudian mennambahkan bahan abon lele yang sudah dibuat sebelumnya. Abon ditaburkan ke bagian bawah puding tersebut. Kemudian dituangkan kembali bahan puding dengan varian rasa lain.

Dia menjelaskan, Abon lele tersebut cukup mudah didapatkannya, karena sudah menjadi produk olahan kreativitas dari warga Desa Tampungrejo. ’’Kebetulan, di sini (Desa Tampungrejo) sendiri ada sedang digalakkan gemar makan ikan,’’ ucapnya.

Pada umumnya, ikan hanya diolah sebagai lauk pendamping nasi. Hal itu rupanya kurang begitu diminati warga. Khususnya bagi anak-anak. Untuk itu, dia mulai mencoba berinovasi dengan menkombinasikannya dengan dengan kue puding.

Awalnya, kreasi puding ini muncul dari kegemaran sang buah hati mengkonsumsi ikan. Namun, lama-lama anaknya mulai bosen kalau ikan hanya digunakan sebagai lauknya. ’’Anak-anak juga suka puding, tidak ada salahnya kalau kita coba buatkan puding yang dikasih makanan untuk menambah gizi anak,’’ paparnya.

Selain itu, puding lele kini berhasil menjadi makanan favorit bagi anak-anak di Desa Tampungrejo. Bahkan, mampu mengurangi jajan sembarangan yang cenderung tidak sehat. Kue tersebut juga bisa menjadi cara orang tua untuk mensiasati anaknya yang tidak suka makan ikan. ’’Meraka akhirnya senang dan bisa mengurangi jajanan di luar,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia