Minggu, 25 Feb 2018
radarmojokerto
icon featured
Features
Heni Yunina, Perajin Batik Majapahitan

Raih Penghargaan Pengusaha Perempuan Terbaik Se-Jatim

Minggu, 04 Feb 2018 18:00 | editor : Mochamad Chariris

Heni Yunina menunjukkan karya batik tulis yang dipajang di rumahnya, di Desa/Kec. Jatirejo, Kab. Mojokerto.

Heni Yunina menunjukkan karya batik tulis yang dipajang di rumahnya, di Desa/Kec. Jatirejo, Kab. Mojokerto. (Evi Nur Zaidah/Radar Mojokerto)

MEMPERTAHANKAN kesenian dan budaya daerah memang tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan dan ketelatenan dalam mengembangkan demi mendapat kepercayaan.

Heni Yunina, perajin batik khas Majapahitan salah satunya. Perajin asal Desa/Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, ini bahkan pernah menorehkan penghargaan dari Gubernur Jatim, Soekarwo. 

Pagi itu, terlihat beberapa karyawan di kediaman Heni Yunina. Dia merupakan satu di antara puluhan perajin batik yang dikenal dengan karya berbagai motif khas peninggalan Kerajaan Majapahit. Heni memulai mengembangkan usahanya dari tahun 2009.

Namun sebelumnya, tahun 2002 dia lebih dulu menekuni bisnis busana muslim. Nah, berawal dari hobi menggambar sejak kecil, akhirnya dia mempunyai inspirasi mengembangkan batik khas Majapahitan. ”Bahan kainnya harus bagus. Pewarnaan juga harus yang paling bagus,” ujarnya ditemui di rumahnya.

Agar batik tidak mudah luntur dan pudar, selama ini dia lebih menggunakan pewarnaan dan kain yang berkualitas. Seringkali batik canting lembarannya digunakan oleh sekolah, institusi pemerintahan dan pondok pesantren. Untuk penjualan, biasanya ditawarkan pada konsumen dalam bentuk potongan.

”Harga menyesuaikan lama pengerjaan dan tingkat kerumitan,” imbuhnya. Menurut Heni, minat masyarakat banyak memilih menggunakan batik cap karena secara harga memang jauh lebih murah. Selain itu, pengerjaannya lebih cepat daripada batik tulis asli.

”Proses pembuatan batik cap sehari satu orang bisa 30 hingga 35 cap. Seragam yang paling banyak adalah batik cap, karena harganya yang murah. Mulai Rp 75 ribu,” jelas Heni. Namun, hal itu verbeda dengan batik tulis. Dia menceritakan, proses pengerjaan batik tulis memang relatif panjang. Diawali dengan desain, selanjutkan di-copy lalu memasuki tahap pencantingan.

”Yang dimaksud orang batik adalah cantingnya itu. Setelah dicanting dilakukan pewarnaan, kemudian dicuci dan pewarnaan lagi. Sampai terakhir menggunakan malam,” paparnya Menurut Heni, batik memiliki sifat mudah pudar akibat terkena sinar matahari langsung. Disamping itu, mudah luntur akibat dicuci. Namun, hal itu bukan akibat pengaruh pada malam (bahan), akan tetapi lebih pada proses pewarnaan.

Sejauh ini, Heni dibantu oleh delapan karyawan. Mereka banyak mengerjakan cantingan batik di rumah masing-masing. Berikutnya proses pewarnaan dilakukan di kediaman Heni. ”Batik khas Majapahitan yang sering digunakan adalah motif candi. Dari situ diaplikasikan ke batik,” paparnya.

Sejauh ini, kerajinan batik karyanya dikirim ke luar kota dan luar Jawa. Di antaranya Samarinda, Batak, Jombang, Sidoarjo, dan Surabaya. Pemasaran dilakukan dengan cara manual maupun online via website. Heni menceritakan, selain batik khas Majapahit, dia juga mengerjakan bermacam karya busana muslim anak dan boneka. Bahannya menggunakan kain perca batik. Hal ini dilakukan utuk memberikan peluang kerja lebih terbuka kepada masyarakat sekitar.

Termasuk membuka pintu lebar-lebar kepada siapapun yang ingin belajar membatik. ”Beberapa sekolah dan masyarakat dari Lamongan, Surabaya, Trenggalek juga berdatangan untuk menimba ilmu membatik,” paparnya. Dia menuturkan, batik Majapahit mempunyai banyak peminat.

Maka tidak heran, berkat karya batiknya, Heni pernah menorehkan penghargaan sebagai pengusaha perempuan terbaik se-Jatim. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jatim, Soekarwo. ”Di tempat kami sering digunakan pelatihan anak sekolah dari dan luar Mojokerto. Kuncinya, orang membatik butuh kesabaran,” tambah Amin, suami Heni. (eza)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia