Minggu, 25 Feb 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Terdampak Proyek Waduk Rp 336 Miliar, Tiga Desa Terisolir

Kamis, 01 Feb 2018 08:00 | editor : Mochamad Chariris

Aktivitas pengerjaan proyek waduk yang memotong jalan utama di Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar.

Aktivitas pengerjaan proyek waduk yang memotong jalan utama di Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Pembangunan bendungan atau long storage di perbatasan Kabupaten Mojokerto-Kabupaten Sidoarjo senilai Rp 336 miliar, mengusik warga di tiga desa.

Proyek pemanfaatan Kalimati, eks Sungai Brantas ini memutus jalan poros kampung yang melewati Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto menuju Desa Tarik Kidul, Kecamatan Tarik, Sidoarjo.

Ketiga desa yang terisolir itu adalah Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, dan Desa Leminggir, serta Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari. Warga di kampung ini terisolir dan harus memutar hingga sepanjang 8 kilometer.

Amirul Mukminin, seorang warga asal Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari menceritakan, biasanya ia hanya membutuhkan waktu 20 menit saja untuk sampai di Mojokerto. Akan tetapi, sejak proyek pembangunan dimulai awal Januari 2018 dan jalur temporer tak disediakan, ia harus memutar hingga ke Prambon, Sidoarjo. ’’Sangat jauh. Dan bisa sampai satu jam perjalanan,’’ katanya.

Tak hanya pengendara roda empat saja. Kata Amir, pengendara roda dua juga harus memutar. Namun, mereka justru lebih beruntung karena bisa memanfaatkan pintu dam di sejumlah lokasi untuk menyeberang rawa Kalimati yang merupakan eks Sungai Brantas ini.

Warga sebenarnya mendengar sosialisasi oleh Pemkab Sidoarjo. Namun, tak mengetahui jika rencana itu harus memotong jalan beton hingga sepanjang hampir 80 meter itu. Sosialiasi proyek hampir tak pernah dilakukan sehingga banyak warga yang belum mengetahui proyek tersebut. ’’Warga tahunya, untuk pembangunan bendungan. Memang bagus. Dan setuju. Tapi tidak tahu kalau jalan juga harus diputus,’’ katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto Didik Pancaning Argo, mengatakan, proyek pembangunan long storage ini merupakan proyek Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dan didanai oleh APBN. Bendungan itu nantinya akan dimanfaatkan untuk penyediaan air bersih PDAM Sidoarjo dan PDAM Mojokerto.

Terkait dengan terputusnya jalan yang mengakibatkan terisolirnya warga di tiga desa, Didik menyebut, akan melakukan koordinasi dengan BBWS dan Dinas PU Provinsi Jatim. ’’Kita masih koordinasikan. Apakah nantinya akan dibangun jalan lagi, atau tidak. Itu nanti akan kita ketahui setelah ada koordinasi,’’ bebernya kemarin.

Setiap pembangunan ini, ditegaskan Didik, harus bermanfaat untuk warga dan tak diperbolehkan merugikan warga. ’’Prinsipnya harus untuk kepentingan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat,’’ tegas mantan Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Mojokerto ini.

Untuk diketahui, long storage ini nantinya akan menampung 1,6 juta kubik air dari Sungai Brantas. Nantinya akan dibuatkan box culver dengan sistem buka-tutup sehingga bisa menghentikan aliran air ke LS jika sudah penuh.

Di ujung LS ini akan dibuatkan rumah pompa air (RPA) untuk membagi air ke wilayah Sidoarjo maupun Mojokerto. Bendungan ini memiliki luas 5 kilometer. Akan ada tiga kolam penampungan air dan di tiap pintu air tersebut akan dibuatkan spillway.

Selain mampu menjadi penyimpan air, lokasi ini juga akan menjadi area wisata baru di kawasan Tarik, Sidoarjo. Proyek multiyears ini dimenangkan PT Nindya Karya Wilayah dengan nilai proyek Rp 366,7 miliar.

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia