Sabtu, 24 Feb 2018
radarmojokerto
icon featured
Politik

Andy Soebjakto dan Jejak Burdah Abah Yat

Minggu, 21 Jan 2018 00:38 | editor : Mochamad Chariris

Andy Soebjakto (lima dari kanan) bersama para kiai NU dan PKB Kota Mojokerto.

Andy Soebjakto (lima dari kanan) bersama para kiai NU dan PKB Kota Mojokerto. (Ist/Radar Mojokerto)

Yâ robbi bi al-Mushthofâ balligh maqôshidanâ Waghfir lanâ mâmadlô yâ wâsi’al karomi...

Petikan burdah karya Imam Busyiri tersebut seperti menu wajib di setiap sudut perkampungan nahdliyyin, termasuk di Kota Mojokerto. Isinya adalah syair shalawat mengharubiru, memohon syafaat dari Kanjeng Nabi.

Bagi anak-anak dan remaja Kota Mojokerto era 80an, qasidah burdah terpahat dalam di benak dan hati mereka, apalagi dilantunkan dengan getaran khas yang memukau oleh KH Achyat Chalimy (Abah Yat).

Andy Soebjakto adalah salah satu di antara yang terpukau oleh keindahannya saat dilantunkan di pengajian ba’da subuh Abah Yat, sebelum ia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit.

Abdul Khafid Busyri,  Ketua majelis alumni IPNU/IPPNU Kota Mojokerto, mengenang masa-masa pertengahan 80an ketika ia “menemukan” Andy Soebjakto, saat itu ketua OSIS SMAN 2 Mojokerto, untuk menggerakkan IPNU di kalangan siswa SMAN 2.

Andy Soebjakto melaksanakan amanah itu dengan penuh tanggung jawab. Berkat keterampilan dan pengalamannya berorganisasi, IPNU untuk pertama kalinya berhasil membangun basis di sekolah umum. Kiprah Andy Soebjakto masih diingat bukan hanya oleh seniornya di IPNU seperti Gus Khafid Busyri, tetapi juga generasi pertama IPNU sekolahan umum yang direkrutnya. Masa muda yang berharga.

Pengalaman menjadi perintis semasa di IPNU menorehkan jejak yang mewarnai kiprah Andy Soebjakto selanjutnya. Ia tumbuh menjadi figur yang tangguh, tak ragu berjuang walau sendirian dan tak kenal lelah menembusi batas-batas yang dianggap tak mungkin bagi orang lain.

Ketika memegang tampuk pimpinan di Senat Mahasiswa Unibraw Malang, Andy Soebjakto berkenalan dengan HA. Helmy Faishal Zaini, Ketua Senat Mahasiswa Universitas Darul Ulum Jombang, yang saat ini menjabat Sektetaris Jenderal PB NU.

”Mas Andy itu komitmennya pada sahabat tak pernah goyang, ia percaya dan setia pada komitmen itu, saya mengamatinya dari dulu hingga sekarang” kenang Helmy Faishal Zaini saat diminta pendapatnya tentang Andy Soebjakto.

Barangkali kepercayaan itulah yang mendorong Helmy Faishal Zaini mengajak Andy Soebjakto masuk ke PKB dan mengenalkannya kepada Muhaimin Iskandar (Cak Imin) tahun 2005.  Kepandaiannya membawa diri dan ketulusannya membantu teman membuat Cak Imin langsung terpikat dan menempatkannya pada posisi strategis, ketua litbang DPP PKB.

Menjelang Pilkada DKI tahun 2007, Cak Imin memberi tugas khusus kepada Andy Soebjakto untuk memimpin tim strategis PKB dalam pemenangan Pilkada DKI. Hal ini dikarenakan kecakapan dan keluwesan Andy berinteraksi dengan aktivis, penggerak sosial, dan public figure ibukota.

“Mas Andy itu senior yang memiliki potensi langka yang sangat berguna bagi nahdliyyin, figurnya sangat kuat tapi sekaligus juga luwes dalam lingkungan eksternal manapun”, ujar Hadison Usmar, Sekretaris Umum Pengurus Pusat IPNU masa khidmat 2015-2018.

Bagi Andy sendiri, semua karunia yang diperolehnya hanyalah alat dan kesempatan untuk berbuat sebaik mungkin dan bekerja segiat mungkin untuk semua orang yang dicintainya. Dan senyatanya ia berusaha mencintai semua orang.

Ia berpegang teguh pada keyakinan bahwa setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan, dan pertolongan terbaik kelak adalah syafaat dari Kanjeng nabi. Maka Ia tak pernah berhenti mengagumi qasidah burdah.

Huwal habîbulladzî turjâ syafâ’atuhu likulli haulin minal ahwâli muqtahami... (SJA)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia