Sabtu, 21 Oct 2017
radarmojokerto
icon featured
Features
Kodir, Salah Satu Korban Longsoran Galian C

Perajin Batu Bata yang Aktif Salat Berjamaah

Jumat, 15 Sep 2017 20:56 | editor : Mochamad Chariris

Keluarga korban menangis histeris saat jenazah Kodir dan putranya disemayamkan di rumah duka, Desa Sumbertanggul, Mojosari, Mojokerto.

Keluarga korban menangis histeris saat jenazah Kodir dan putranya disemayamkan di rumah duka, Desa Sumbertanggul, Mojosari, Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

ISAK tangis keluarga terdengar dari dalam rumah Kodir, satu dari empat korban tewas tertimbun longsoran tebing di Desa Sumbertanggul, Kecamatan Mojosari. Istri Kodir, Rika histeris begitu mengetahui suami tercintanya pulang dengan kondisi meninggal dunia. Belum mengering air mata, ibu dua anak ini menghadapi kenyataan pahit, anak pertamanya, Iswanto, turut tewas, tertimbun reruntuhan bersama sang ayah.

Di rumah duka, mobil ambulans bergantian mengantar jenazah bapak dan anak. Kodir dan Iswanto. Jenazah pertama datang lebih dulu adalah Kodir. Meski sempat mengalami kendala saat evakuasi pria berusia 60 tahun itu, jenazah tiba di rumah duka lebih awal, di Dusun Glogok, Desa Sumbertanggul, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Sanak keluarga, kerabat dan tetangga pun menyambut.

Isak tangis kembali pecah ketika jenazah Kodir disemayamkan di ruang tamu. Rika paling histeris dan sesekali berteriak seakan tak percaya suami meninggalkan untuk selamanya. Tak berselang lama, ambulans kedua menyusul memasuki halaman rumah. Kali ini, adalah jenazah Iswanto, putra pertama pernikahan antara Kodir dan Rika. Jenazah kemudian disemayamkan disamping ayahnya.

Ya, kedua jenazah korban longsor galian C di Dusun Glogok, Desa Sumbertanggul, Kecamatan Mojosari, Kamis (14/9) pukul 06.00, ini memang masih satu keluarga. Semasa hidup, Kodir dikenal sebagai tukang gali pasir. Dalam pekerjaan ini, Kodir selalu mengajak anak Iswanto. Di mata keluarga, Kodir dikenal pribadi yang baik dan tidak neko-neko.

Bekerja sebagai tukang gali memang menjadi mata pencahariannya sehari-hari untuk mencukupi keluarga. ’’Orangnya baik, dari dulu memang kerjaannya cari pasir di sebelah,’’ kata Umi, kerabat Kodir. Umi menceritakan, sebelum berangkat meninggalkan rumah Kodir dan anaknya belum sempat sarapan. Keluarga pun baru mengetahui kabar tewasnya Kodir bersama anak dan dua korban lainnya pukul 06.00. ’’Tahu-tahu dapat kabar ada yang meninggal karena longsor pasir,’’ katanya.

Hal senada dikatakan Pingki, kerabat lainnya. Pihak keluarga baru mengetahui Kodir bersama anak dan dua orang lainnya tewas tertimpa longsor tebing setinggi 15 meteran tak lama setelah para korban meninggalkan rumah. Kepergian Kodir menyisahkan duka mendalam bagi Khotib, mudin setempat. Di mata Khotib, Kodir merupakan sosok yang rajin berjamaah di musala. Bahkan, hampir setiap hari, Kodir tak pernah absen mengikuti salat berjamaah. ’’Setiap mendengar azan berkumandang, beliau langsung ke musala salat berjamaah,’’ katanya.

Sebelum bekerja sebagai tukang gali pasir, Kodir pernah menekuni profesi sebagai perajin batu bata. Baru dua bulan terakhir ini, Kodir diajak anaknya menggali pasir di lahan milik Masduki. ’’Setahu saya, kalau kerjanya di tambang baru dua bulan,’’ imbuhnya. Tidak hanya Kodir dan Iswanto. Wijanarko, tidak lain keponakan Kodir turut tewas dalam insiden longsornya tebing galian setinggi 15 meter. Sedangkan, satu korban lainnya bernama Rajino, 40,  warga Dusun Jurangsari, Desa Belahan Tengah, Kecamatan Mojosari.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia