Rabu, 20 Sep 2017
radarmojokerto
Mojopedia
Masa Kecil sang Proklamator di Mojokerto

Belajar di Sekolah Ongko Loro

Rabu, 13 Sep 2017 23:00 | editor : Mochamad Chariris

SMPN 2 Kota Mojokerto. Di tempat ini, Presiden RI pertama, Soekarno, pernah mengenyam pendidikan dasar saat masih menjadi ELS.

SMPN 2 Kota Mojokerto. Di tempat ini, Presiden RI pertama, Soekarno, pernah mengenyam pendidikan dasar saat masih menjadi ELS. (Rizal Amrullah/Radar Mojokerto)

Jejak sejarah sang Proklamator Indonesia, Soekarno, masih berbekas di Mojokerto. Semasa kecil, Koesno Sosrodihardjo, yang kemudian berganti nama menjadi Soekarno pernah mengenyam pendidikan di Mojokerto. Meski dikenal cerdas, tapi dia pernah tinggal kelas saat duduk di sekolah dasar.

Seperti yang diungkapkan Ayuhanafiq, sejarawan asal Mojokerto. Pada awalnya, Soekarno masuk sekolah dasar di Tulungagung. Tetapi, tidak lama kemudian, karena tugas dari bapaknya, Soekemi Sosrodihardjo, sebagai guru mengharuskan dia untuk pindah ke Mojokerto.

Menurutnya, Soekemi ditempatkan sebagai guru di Inlandsche School yang kini menjadi SDN Purwotengah. Inlandsche School juga biasa dikenal pula dengan Sekolah Ongko Loro. Sebutan itu mengacu pada peruntukannya yang menampung anak-anak pribumi, warga kelas dua. ’’Soekarno pun akhirnya masuk menjadi siswa sekolah pribumi itu,’’ ulasnya.

Di sekolah yang memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar itu, Soekemi berkedudukan selaku mantri guru. Jabatan setara dengan kepala sekolah yang tidak boleh didudukinya. Pasalnya, hanya orang berkebangsaan Belanda atau Eropa yang bisa menjadi kepala sekolah.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini, menjelaskan, Soekarno merasakan pergaulan yang menyenangkan bersama kawan-kawan sesama pribumi. Namun, pemikiran orang tuanya yang menginginkan Soekarno bisa melanjutkan ke sekolah lebih tinggi lagi menyebabkan dia pindah ke sekolah Eropa di Mojokerto.

Dia menjabarkan, pada masa itu memang ada beberapa jenis sekolah sesuai dengan segmen siswa. Ada sekolah Tionghoa, madrasah untuk pribumi muslim dan juga terdapat sekolah untuk keturunan Eropa yang dinamakan Europesche Lerge School (ELS) atau yang sekarang menjadi SMP Negeri 2 Mojokerto.

ELS hanya menerima murid yang berasal dari orang Eropa dan keturunan priyayi. Soekarno menyebutkan bila dirinya bisa masuk ke ELS bukan karena dia dinilai pandai, namun ada koneksi dengan Kepala Inlandsche School. ’’Kemudian ayahnya minta agar kepala sekolah itu membantu memasukkan Soekarno ke ELS,’’ paparnya.

Akhirnya, pada Juni 1911, Soekarno dipindahkan ke ELS. Berbeda dengan sekolah pribumi yang dindingnya terbuat dari bambu, tetapi dinding ELS sudah terbuat dari kayu. Meja dan kursi juga berbahan kayu. Sedangkan sekolah pribumi duduk di bangku bambu. Meja belajar dilengkapi dengan tempat meletakkan tinta. Ada pula laci untuk menaruh buku.

ELS memang menggunakan standar pendidikan Belanda sesuai dengan murid yang dididik di sana. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Belanda karena salah satu tujuan ELS untuk mencetak pegawai pemerintahan Hindia Belanda.

Kemampuan baca tulis bahasa Belanda menjadi salah satu acuan utama. Lulusan ELS boleh melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya. Bisa juga langsung bekerja sebagai tenaga kerk atau juru tulis rendah di kantor pemerintah. ’’Pendek kata, ELS adalah pintu gerbang ke masa depan yang lebih baik,’’ kata Yuhan.

Namun, dengan iklim sekolah yang demikian, ternyata membuat Soekarno kurang bahagia. Dia terpaksa berpisah dengan kawan sebaya yang sudah menganggap Soekarno sebagai pemimpin saat bermain. Dia sedih sebab merasakan diskriminasi di ELS.

Kerap kali dia berkonflik dengan siswa lain keturunan Eropa yang merendahkan dia sebagai anak inlander. Tidak jarang dia menerima perlakuan kasar dan hinaan ketika masuk kelas. Dan Soekarno berani menjalani situasi tersebut.

Soekarno masuk ke ELS ketika dia kelas VI. Sebelum diterima, dia menjalani uji kemampuan akademik terlebih dahulu. Hasilnya, Soekarno dinyatakan gagal. Kepala Sekolah ELS menyebutkan nilai ujiannya baik kecuali untuk kemampuan bahasa Belanda. Oleh karena itu, Soekarno harus rela turun satu tingkat untuk duduk kelas V.

Melihat kenyataan itu, Soekarno merasa malu karena usianya terlalu tua duduk di kelasV. Terlebih, dia khawatir orang beranggapan dirinya bodoh sehingga turun kelas. Yuhan membeberkan, untuk menyiasati kedua problem psikis itu, ayahnya menyuruh Soekarno berbohong jika ada yang menanyakan usianya. Karena itu dia selalu mengatakan umurnya lebih rendah satu tahun dari usia sebenarnya.

Sedangkan untuk persoalan ketertinggalan bahasa Belanda, ayahnya meminta Maria Paulina untuk memberi pelajaran tambahan satu jam setiap harinya. Kemampuan bahasa Soekarno menjadi terasah dengan bantuan Maria Paulina yang juga gurunya di ELS.

Di samping itu, Soekarno juga dekat dengan siswi ELS bernama Rika Meelbuysen. Dengan perempuan itu dia tentu bercengkrama dengan bahasa Belanda. Keakraban yang berbuah jalinan asmara manusia beda bangsa. Yuhan menegaskan, perjalanan pendidikan sang Proklamator di Mojokerto juga disebutkan dalam buku Bung Karno ’’Penyambung Lidah Rakyat’’ semasa kecil dia bersekolah di Inlandsche School sebelum pindah ke ELS.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia