Selasa, 12 Dec 2017
radarmojokerto
icon featured
Mata Lensa

Ruwat Budaya dan Cermin Kebhinnekaan

Senin, 11 Sep 2017 19:00 | editor : Mochamad Chariris

Prosesi ruwatan di petilasan Tribuana Tungga Dewi, Desa Klinterejo, Sooko, Mojokerto.

Prosesi ruwatan di petilasan Tribuana Tungga Dewi, Desa Klinterejo, Sooko, Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

LANTUNAN kidung dan mantra terdengar sayup dari luar pemujaan. Semakin mendekat semakin terdengar jelas. Aroma dupa dan kembang semerbak harum di setiap sudut ruangan itu. Ya, Sabtu (9/9) ratusan orang berkumpul di Petilasan Tribuana Tungga Dewi, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Mereka melakukan ruwat budaya yang dipimpin Pandhita Ida Pedanda Gede Anom Negara Jalakrana Manuaba dari Surabaya. Mereka pun tampak khidmat larut dalam doa. Merry Tri Radmani salah satu peserta mengatakan, acara tersebut merupakan doa bersama yang digelar pertama kali di Petilasan Tribuana Tungga Dewi, dan dalam kurun waktu 700 tahun.  

”Kita sebagai generasi yang hidup pada zaman ini mengucap syukur kepada Tuhan YME. Karena, diberi kesempatan melaksanakan kegiatan ini untuk mendoakan para leluhur. Terutama, ibu mulia, Tribuana Tungga Dewi ini,” ujar. Tribuana Tungga Dewi dikenal sebagai penguasa ke tiga Kerajaan Majapahit.

Tak hanya dari agama Hindu, dalam kegiatan ruwat budaya kemarin hadir juga dari berbagai kalangan. Seperti Buddha, penghayat kepercayaan, dan Islam. Mereka berdoa menurut keyakinan masing-masing. Sehingga semangat kebhinnekaan tampak dalam acara ini.

Mery berharap, acara seperti serupa dapat rutin diselenggarakan di Mojokerto. Mengingat, Mojokerto merupakan wilayah yang penuh historis sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit. ”Jika dikelola dengan baik, segala peristiwa kebudayaan di Mojokerto sangat menarik perhatian publik. Sekaligus menjadi destinasi wisata budaya,” tuturnya.

(mj/fan/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia