Sabtu, 24 Feb 2018
radarmojokerto
icon featured
Jangan Baca

Imamku Tak Seperti Dulu Lagi

Sabtu, 26 Aug 2017 22:30 | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Nadzir/Radar Mojokerto)

Kepingin ndelok film tibake telat

Telate gara-gara mangan nongko

Nduwe bojo ora tau gelem sholat

Mending pegat, timbang melbu neroko

TULKIYEM (samaran), 23, warga Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, mendatangi Kantor Pengadilan Agama (PA) untuk menggugat cerai sang suami, Mukiyo (samaran), 24. Gara-garanya, Mukiyo jarang menunaikan ibadah yang diwajibkan agama Islam. Baik salat maupun puasa Ramadan. Tak hanya itu, Mukiyo yang juga berani dengan orang tua. Alhasil, Tulkiyem menganggap suaminya itu bukan imam yang bisa membimbingnya ke jalan yang lurus.

Tulkiyem mengaku sangat kecewa dengan suami yang tidak menjadi imam bagi keluarga kecilnya. ’’Suami kan seharusnya bisa dijadikan panutan bagi anak dalam hal agama,’’ jelasnya. Pada waktu penjajakan, diakuinya, Mukiyo memperlihatkan sikapnya yang baik dan taat beribadah. ’’Dulu waktu zaman sebelum menikah, dia itu rajin salat dan puasa. Makanya, saya mau menerima lamarannya,’’ ungkap Tulkiyem.

Namun, setelah menikah, Mukiyo justru tidak memperlihatkan sikapnya seperti dulu. Tulkiyem sudah berulang-ulang mengingatkan Mukiyo bahwa salat itu wajib, apalagi Mukiyo merupakan imam bagi keluarga. Tetapi Mukiyo tetap tidak mau berubah. Dan, malah membentak Tulkiyem. ’’Sudah berkali-kali saya ingatkan. Tapi dia tidak mau mendengarkan. Malah saya dibentak,’’ kata wanita berhijab itu. 

Bukan hanya masalah itu, Tulkiyem juga tidak suka dengan sikap Mukiyo yang masih berani dengan orang tuanya, bahkan bersikap kasar. ’’Saya kan ikut dengan mertua, jadi setiap hari itu kalau ngomong dengan orang tuanya kasar dan bahkan berani melawan,’’ katanya.

Tulkiyem yang pada waktu itu masih memaklumi sikap suaminya karena masih sama-sama muda. ’’Jadi kan masih labil,’’ tuturnya. Namun, hingga tiga tahun usia rumah tangga, suaminya itu tak kunjung ada perubahan. Karena merasa tak kuat dan karena alasan lain, Tulkiyem memutuskan meninggalkan Mukiyo dan kembali ke rumahnya sendiri. ’’Sebelum memutuskan cerai itu, saya tinggal dulu ke rumah orang tua untuk meminta saran dan menenangkan diri,’’ ujarnya.

Memang, keluarga Tulkiyem merupakan keluarga yang taat beragama. Karena itu, setelah meminta saran orang tuanya, akhirnya ia mantap untuk menggugat cerai Mukiyo. Pada waktu akan mendaftarkan percerainnya ke PA, Tulkiyem sempat ditolak petugas. Karena tidak memenuhi persyaratan yakni tidak membawa buku nikah. ’’Saya sempat ditolak mbak karena saya tidak membawa buku nikah, kan itu sudah jadi syaratnya,’’ tandasnya.

Tulkiyem baru ingat, ternyata buku nikahnya dibawa Mukiyo. Tulkiyem mencoba meminta buku nikahnya agar proses perceraian segera terlaksana. Namun, Mukiyo mengatakan, buku nikahnya digadaikan. Langsung pada saat itu juga Tulkiyem marah.

’’Kok saya minta buku nikahnya, dia bilang digadaikan alasannya dipinjam adiknya,’’ tambahnya dengan nada agak kesal. ’’Tapi saya coba lagi ke PA dan jelaskan alasan kenapa tidak membawa buku nikah, kok ya alhamdulillah bisa,’’ tambahnya. (rizki fitrie febriana/abi)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia