Selasa, 12 Dec 2017
radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader
Oleh: Yanuar Yahya

Haji Mabrung

Jumat, 04 Aug 2017 22:00 | editor : Mochamad Chariris

Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

SEBENTAR lagi adalah hari-H calon jamaah haji bertolak ke Makkah. Mereka sudah menyiapkan mental dan lahir menuju ke Tanah Suci. Kita semua senang dengan kabar gembira ini. Kita semua umat Islam seperti ikut merasakan menit-menit yang penuh rasa penasaran para calon jamaah haji.  

Pak Guru Sukro dan Sohibul sedang membincangkan tetangganya yang berangkat haji tahun ini. rasanya gembira sekali, bisa mendapat panggilan haji di tengah antrean haji yang mengular, 20 tahunan. Kalau sudah membincangkan masalah haji mereka seperti sufi, tapi ketika membicarakan masalah lain mereka bisa seperti politikus, seperti pengamat, seperti anggota DPR yang bicaranya ngalor-ngidul tak tentu arah. Bahkan kadang seperti tukang sulap yang bisa menyulap yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar adanya.

Menurut Pak Guru Sukro haji adalah simbolisasi kelengkapan ibadah seseorang. Menyatukan diri dengan Allah, dengan metode lintas kultural yang melewati status sosial, kedudukan budaya, bahkan pada akhirnya unsur biologis manusia harus ditanggalkan, karena ia bersifat sangat relatif dan temporer.

’’Kalau haji zaman dulu penuh penderitaan, hajinya betul-betul, kalau sekarang hajinya rekreasi, numpak montor muluk,’’ kata Sohibul dengan gaya filosofinya. Baginya zaman dulu haji yang rata-rata empat hingga enam bulan, naik kapal, adalah bentuk perjuangan dan penderitaan. Wajar jika yang berhaji ukurannya adalah orang-orang yang benar-benar mampu baik secara lahiriah maupun batiniah. Kalau sekarang naik haji fasilitasnya mewah, hotel, pesawat bahkan ada dispensasi Haji Plus yang berangkatnya belakangan tapi pulangnya duluan membuat ’’nilai’’ hajinya berkurang. ’’Tentu identitas dan ragam pengalaman batin kita akan kalah dibanding nenek moyang kita,’’ jelasnya lagi.

Pak Guru Sukro yang dikenal ’’arek pondokan’’ menyebut persoalan haji sebagai bentuk pengendapan batin yang sublim. Bentuk keindahan yang paling mulia. Persoalan fisik semisal penderitaan, perjalanan yang panjang naik kapal bisa jadi ’’disengaja’’ atau tidak. ’’Lha wong sekarang biro-biro haji pada berlomba dengan harga, bonus plus lain-lain yang menggiurkan. Sisi konsumerismenya kelihatan sekali,’’ takarnya.

Bahkan dia menyebut ada banyak kecurangan-kecurangan biro-biro haji yang disengaja yang tidak diketahui dosa apa tidak.’’Standar harganya yang makin tidak meringankan hingga jenis-jenis korupsi kecil-kecilan hingga besar, apakah ini beroleh pahala?’’ kata Guru Sukro. Dalam tataran ini diperlukan penghayatan kehajian dari para jamaah.

Haji, katanya adalah pengalaman kultural keagamaan dan pengalaman sosial yang melebur menjadi satu. ’’Orang haji ndak ngurus dapat uangnya dari utang atau jual sawah, jual rumah atau malah hasil korupsi, yang penting bisa rekreasi ke Makkah,’’ tambahnya sembari menyeruput kopi di warungnya Tulkiyem.

Haji adalah upaya menaikkan kualitas hidup seseorang. Haji mengandung makna etimologis yang berarti naik atau menuju. Ini sebagai bentuk perubahan seorang individu dari posisi tertentu sebelumnya ke posisi yang lebih tinggi derajatnya, dari orientasi individual menuju misi sosial. Karena sepulang haji, seseorang bisa lebih berwibawa atau malah lebih tidak berwibawa. Di dalamnya ada kesalehan, kepribadian, kealiman, dan mungkin juga kepemimpinan atau kapasitas-kapasitas fungsi dan reputasi sosial tertentu, ketika seseorang disebut haji.

’’Itulah nantinya seseorang disebut mabrung atau malah mabrung,’’ kata Guru Sukro sok tahu banget. Menurutnya justru kewajiban-kewajiban ’’sosial’’ adalah yang utama ketimbang mendahulukan kewajiban berhaji. Paling tidak kalau sudah ditempa di sisi sosial maka seseorang siap secara lahir dan batin untuk berhaji.

’’Lha kalau lupa karena kewajiban sosialnya kan gawat, ndak haji-haji,’’ timpal Sohibul. Kata Sohibul berhaji adalah persoalan ’’panggilan’’ jika tak mau disebut ’’wahyu’’. ’’Wahyu itu sawah payu. Itu namanya panggilan. Misalnya seseorang berperilaku kejam, suka menganiaya istri, tukang selingkuh dan segala yang jahat-jahat ia lakukan apakah kemudian kita tidak setuju akan keberangkatannya? Padahal ia sudah dipanggil lho...wahyu!’’ jelas Sohibul.

Itulah, kata Emha Aiun Nadjib alias Cak Nun, kualitas haji seseorang sepulang dari Tanah Suci ada yang haji madu ada yang haji racun. Setiap perilakunya, setiap gerak geriknya, setiap keputusan dan sikap sosialnya, baik dalam pergaulan kesehariannya maupun dalam keterlibatan kolektifnya pada sistem-sistem sosial, akan memancarkan kualitas madu. Hajinya bernilai baik perilaku, ucapan, peran, sosial dan mutu integritasnya. Sebaliknya mereka berperilaku berlawanan bakal seperti racun di kemudian hari.

Lantas bagaimana dengan biaya haji yang dipakai infrastruktur? ’’Lho kalau itu persoalan yang sedang berkuasa. Siapa pun yang berkuasa, ya gampang-gampang saja bikin kebijakan, sak enake udele,’’ kata Sohibul sinis. Sejauh ini, menurut Sohibul hukum uang haji yang diinvestasikan jelasnya samar. ’’Tinggal dibuatkan Perpres, tak masalah memang,’’ tambahnya.

Persoalan ’’kuasa’’ ini terjadi dimana-mana. Di tingkat gubernur, di tingkat kebupaten, di tingkat kecamatan bahkan di tingkat desa. Yang sedang berkuasa maka akan menggunakan kekuasaannya dengan berlebihan. Tidak berdasar kapasitas dan kualitas yang wajar. Ini adalah persoalan politis. ’’Bisa jadi karena terjebak, tersandera dan sejenisnya, makanya kemudian ada perkeliruan-perkeliruan,’’ timpal Guru Sukro.

Khawatirnya jika dana haji diinvestasikan untuk infrastruktur tak cukup apakah bakal mangkrak? ’’Ya gampang, nanti tinggal ambil pungutan kotak amal masjid, dana kematian atau uang jimpitan RT-RT...’’ sergah Sohibul. Jika sudah demikian apakah hajinya mabrur apa mabrung atau haji politis? (*)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia