Jumat, 22 Sep 2017
radarmojokerto
Mojokerto
Sumber Air Taman Asri di Desa Ngrowo, Bangsal

Pemandian Zaman Majapahit, Jadi Kearifan Lokal

Senin, 17 Jul 2017 13:00 | editor : Mochamad Chariris

Warga menikmati suasana Air Taman Asri di Desa Ngrowo, Kec. Bangsal, Kab. Mojokerto.

Warga menikmati suasana Air Taman Asri di Desa Ngrowo, Kec. Bangsal, Kab. Mojokerto. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Sumber mata air di Dusun Tawangsari, Desa Ngrowo, Kecamatan Bangsal, menyimpan banyak cerita rakyat. Mulai dari salah satu peninggalan masa Majapahit dan keasriannya tetap terjaga hingga saat ini. Seperti apa?

Tak sulit untuk menemukan Sumber Air Taman Asri. Sebab, letaknya tak begitu jauh dari Jalan Raya Bangsal-Mojokerto. Untuk menuju lokasi, cukup ditempuh perjalanan 10 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Sumber tersebut berada di Dusun Tawangsari, Desa Ngrowo, Kecamatan Bangsal. Lokasinya terlihat teduh karena dikelilingi pepohonan yang masih rindang. Ditambah semilir angin yang menambah sejuk suasana sekitar. Airnya juga sangat jernih.

Tak heran jika sumber mata air tersebut masih terjaga keasriannya. Pasalnya, sumber mata air tersebut dijaga dengan kearifan lokal penduduk sekitar.

Suwono, 59, salah satu warga setempat, mengungkapkan, masyarakat mempercayai bahwa sumber tersebut merupakan cikal bakal berdirinya desa mereka. Konon, nama Dusun Tawangsari juga berasal dari sumber Taman Asri. ’’Sesuai dengan namanya, Taman Asri adalah taman yang berarti banyak pohonan dan asri itu teduh dan sejuk,’’ ungkapnya.

Dia menceritakan, sumber air tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang terdahulu. Bahkan, menurut cerita rakyat setempat, sumber Taman Asri dulu pernah dimanfaatkan oleh penduduk pada masa Kerajaan Majapahit. ’’Menurut cerita, sejak zaman Majapahit pernah dijadikan tempat pemandian,’’ ulasnya.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti otentik yang menandakan bahwa pernah digunakan pada masa Kerajaan Majapahit. Hanya saja, tak jauh dari lokasi sumber, terdapat kompleks makam kuno. Belum diketahui pasti makam tersebut disemayamkan jenazah siapa. Namun, warga sekitar menyebutnya makam Mbah Tirtoloyo. ’’Ada empat buah makam, prasastinya juga sudah hilang. Dulu ada nisannya yang terbuat dari batu, tapi sekarang sudah hilang entah ke mana,’’ ulasnya.

Menurut Suwono, semenjak dia kecil, sumber Taman Asri tidak pernah surut. Hingga saat ini, air masih dimanfaatkan warga untuk irigasi persawahan sekitar. Bahkan, jika air mengalir cukup besar bisa untuk mengairi sawah di desa lainnya. ’’Dulu pembagian air disesuaikan dengan pasaran Jawa. Misal, Legi, Pahing, dan Pon untuk di Dusun Tawangsari, kemudian Wage dan Kliwon untuk pengairan ke desa lain,’’ ulasnya.

Bapak empat anak ini, mengatakan, ketika terjadi telat hujan, biasanya di lokasi sumber tersebut masyarakat mengadakan tradisi selamatan. Uniknya, warga desa membuat minuman dawet sebagai makanannya. Dengan harapan, hujan akan segera turun agar petani tidak sampai dilanda kekeringan. ’’Orang-orang satu desa membuat dawet semua. Tapi sekarang, tradisi itu sudah jarang dilakukan,’’ terangnya.

Dia menambahkan, salah satu rahasia tetap asrinya lokasi sumber adalah kearifan lokal setempat. Msyarakat mempercayai bahwa jika merusak apa pun yang berada di lokasi sumber, maka akan terjadi malapetaka. ’’Jadi, pohon-pohon tidak ada yang berani merusak. Ikan-ikan di dalam sumber juga tetap dijaga kelestariannya,’’ pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia