Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Mojokerto

Proyek Rumah Majapahit Diusik

Jumat, 21 Apr 2017 15:59

Proyek Rumah Majapahit Diusik

KENANG SEJARAH: Seorang siswa bersiap berangkat sekolah di Desa Bejijong, Trowulan. (Jawapos.Com)

MOJOKERTO – Pembangunan rumah Majapahit di kawasan Trowulan diusik. Proyek yang didanai Pemerintah Provinsi Jatim ini kental dimainkan. Pasalnya, dari target 300 rumah di tahun 2016, hanya terealisasi separonya.

Hal ini diungkap Forum Komunikasi Indonesia Satu (FKI-1) usai melaporkan dugaan ini ke Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP), kemarin. Dalam surat itu, Ketua FKI-1 Wiwied Haryono, mencurigai adanya permainan dalam proyek pembangunan.

Dia merinci, dalam proyek itu, pemprov mengalokasikan dana sebesar Rp 13 miliar. Anggaran sebanyak itu untuk pembangunan rumah ala Majapahit sebanyak 300 unit. Rumah tersebut dibangun di tiga desa. Yakni, Desa Watesumpak, Trowulan dan Desa Temon. Namun, dalam realisasinya, rekanan hanya menyelesaikan 154 unit.

Wiwied menyebut, yang aneh dalam proyek ini, konstruksi hingga spesifikasi yang ditetapkan Pemprov Jatim tak mengalami perubahan sedikit pun. ’’Besaran teknisnya sama. Tapi kenapa hanya separo saja yang bisa diselesaikan?’’ papar dia.

Ia mempertanyakan dana yang seharusnya untuk membangun separo rumah tersebut. Wiwied menghitung, terdapat dana Rp 7,44 miliar yang disinyalir dipakai bancaan sejumlah oknum. ’’Ini yang saya inginkan klarifikasi ke bupati. Kenapa bisa seperti ini,’’ imbuhnya.

Besaran anggaran itu, seharusnya hanya menelan anggaran Rp 36 juta per rumah. Namun, dana yang dipakai untuk membangun rumah tersebut menelan anggaran hingga Rp 84 juta per unit.

Ia mendesak, Bupati Mojokerto segera melakukan evaluasi atas pencairan dan penggunaan dana yang seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung dunia wisata di Kabupaten Mojokerto kian menarik. ’’Ada sinyal mark up di sini. Atas nama lembaga, saya minta agar ada penjelasan,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  (PU-PR) Kabupaten Mojokerto Lutfi Ariyono, saat dikonfirmasi menegaskan, besaran anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan rumah Majapahit, sudah melalui perhitungan yang matang.

’’Coba dihitung. Kalau hanya dianggarkan Rp 36 juta per unit, tentu tidak akan maksimal. Bangunan hanya ala kadarnya saja,’’ jelasnya. Ia membantah jika terdapat kongkalikong dalam proyek ini. Pasalnya, ia pun mengharap, agar Trowulan menjadi lebih baik dan niat pemerintah menaikkan taraf pariwisata kian menanjak.

’’Saya rasa, ada kesalahpahaman saja. Nanti akan kami jelaskan,’’ pungkas mantan Kepala Dinas PU Cipta Karya ini. Seperti diketahui, di tahap awal, pembangunan rumah Majapahit diswakelolakan.

Namun, di tahun 2016, pembangunan ini ditender dan dikerjakan rekanan. Dengan harapan, pembangunan akan semakin baik dan cepat. (ron/abi)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia