Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Perempuan
Endang Binarti, Kepala SMAN 1 Sooko, Kabupaten Mojokerto

Meyakini Intuisi, Turuti Kejujuran Hati

Jumat, 21 Apr 2017 15:43

Meyakini Intuisi, Turuti Kejujuran Hati

TANGGUNG JAWAB: Endang Binarti, bersama tiga putrinya. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Keteguhan sosok perempuan tak lepas dari latar belakang yang pernah dialami. Tak sedikit perempuan mampu menggapai puncak posisi tertinggi. Namun, tak sedikit pula mereka harus turun dari singgasana kebesarannya.

Optimisme dan ketegasan sudah barang tentu sebuah sifat yang tak terpisahkan dalam jiwa perempuan pemegang kendali. Akan tetapi, meyakini intuisi dalam menentukan sikap nyatanya tak banyak yang bisa dimiliki oleh Kartini masa kini.

Ya, hanya segelintir pemimpin yang mampu menuruti kejujuran hati sebagai landasan berpijak. Tak jarang perempuan dalam posisi top karir harus tergelincir akibat terlalu menuruti ambisi tanpa dilandasi intuisi.

Apalagi, kepercayaan penuh didapat mau tak mau harus runtuh seketika saat tanggung jawab tak mampu diselesaikan sesuai rencana. Pernyataan seperti itu yang terus dipegang Endang Binarti, sosok perempuan pemimpin tertinggi sebuah lembaga pendidikan bertajuk SMAN 1 Sooko, Kabupaten Mojokerto.

10 tahun menjabat kepala sekolah dari sekolah pinggiran, istri dari Sudianto ini merasa intuisi merupakan modal berpikir positif demi menggapai sebuah kesuksesan. ’’Kalau orang mau sukses, jangan sekali-sekali meninggalkan kata hati. Karena optimisme dan keyakinan bisa terwujud saat mampu menerjemahkan kata hati untuk positif thinking,’’ terang ibu tiga anak ini.

Ada satu persitiwa yang mungkin sebuah hikmah dari intuisi yang ia turuti dalam aktivitasnya mendidik 1.334 siswa. Di mana saat tim paduan suara binaannya didapuk sebagai tim paduan suara untuk menyambut Presiden Joko Widodo meresmikan tol Surabaya-Mojokerto, 2016 lalu.

Tak disangka, terpilihnya SMAN 1 Sooko itu tak lepas dari hasil unggahannya yang dipantau oleh tim Setneg (Sekretariat Negara). ’’Kok tiba-tiba ada tim dari Setneg datang ke sekolah dan langsung memilih kita sebagai tim paduan suara. Ya, mungkin ini yang namanya kekuatan batin seorang perempuan,’’ imbuhnya.

Kendati demikian, ia mengaku apa yang telah ia baktikan kepada sekolah dan siswa selama 2,5 tahun ini belum ada apa-apanya meski banyak orang mengira SMAN 1 Sooko adalah capaian tertinggi.

Masih ada beban berat yang harus dipikul dalam membesarkan dan mendidik attitude siswa sesuai karakter dan zamannya. Wanita kelahiran 9 Juli 1963 ini juga merasa belum bisa hidup bahagia jika anak didiknya juga belum berbahagia lahir batin.

Sebab, keberhasilan karir bukanlah satu-satunya kesuksesan yang harus dikejar mati-matian. ’’Saya senang kalau anak-anak senang. Berhasil itu kan relatif. Kalau hanya berhasil tapi tidak bahagia, saya rasa itu bukan kesuksesan,’’ pungkasnya. (far/abi)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia