Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Perempuan
Dwi Masudah, Pemangku Saung Tanah Lumpur

Sering Dianggap Nyeleneh

Jumat, 21 Apr 2017 15:39

Sering Dianggap Nyeleneh

BUKAN PARANORMAL: Dwi Masudah, Pemangku Saung Tanah Lumpur (Imron/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Namanya mungkin belum banyak dikenal khalayak. Namun, di dunia seni Mojokerto, Dwi Masudah, 46, sudah sangat lekat di telinga. Perempuan ini sangat ringan tangan dengan berbagai kegiatan bernuansa seni.

Sejak lima tahun silam, ia mendirikan Saung Tanah Lumpur. Sebuah padepokan di Dusun Tangkil, Desa Modongan, Sooko. Pembangunan yang menelan anggaran hingga miliaran rupiah itu, tidak dikomersialkan.

Melainkan dimanfaaatkan untuk berbagai kegiatan seni. ’’Memang tidak ada untungnya. Tapi, ada kepuasan batin,’’ ujarnya ringan. Perempuan yang akrab disapa Yudha ini, menuturkan, Saung Tanah Lumpur untuk memberi wadah bagi para seniman yang hendak menjalankan aktivitasnya. Atau sekadar menikmati liburan.

Ya, padepokan ini memang berada di tengah persawahan. Cukup jauh dari perkampungan. Dengan desain kuno, bangunan ini berdiri di atas lahan 1400 meter persegi.

Di dalam bangunan ini, tidak hanya menyediakan fasilitas berbagai alat musik. Akan tetapi, ada sejumlah ruangan yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai pertemuan, serta ruang istirahat. Deretan ruang itu, juga dilengkapi dengan berbagai asesoris yang menarik.

Ibu dari Virginia Rulli Damayanti, 22, ini menceritakan, deretan ruang itu sengaja dibangun untuk memberikan ruang bagi para tamunya yang berasal dari berbagai negara. Mulai dari Australia, Slovakia, dan sejumlah negara di Eropa.

Hampir tiap pekan, deretan tamu itu terus mengalir. Mereka sangat menikmati nuansa pedesaan yang tersirat dari rumahnya. ’’Mereka bosan dengan perkotaan yang penuh dengan keegoisan,’’ papar Yudha.

Di padepokan ini, juga tengah dibangun Puja Mandala. Bangunan mirip di Nusa Dua, Bali. Di satu lokasi, terdapat lima tempat ibadah. Dengan dibangunnya ini, tamu dengan berbagai agama itu, bisa lebih tenang dan tidak terganggu dengan ibadahnya.

’’Ini hanya wadah para pelaku seni dan budaya. Tidak komersial,’’ sebutnya mengulang. Awal membangun tempat ini, ia kerap dipandang nyeleneh oleh sebagian orang. pernah suatu ketika, ia mendadak didatangi seorang perempuan untuk mengobati anaknya yang tengah sakit.

Saat itu, Yudha dikira sebagai paranormal yang mampu menyembuhkaan penyakit dengan cara alternatif. Pernah juga, rumahnya didatangi sejumlah orang dengan membawa alat pancing.

’’Di kira di sini saya buat pemancingan. Ramai-ramai orang ke sini bawa pancing,’’ ceritanya sembari menyebut jika terdapat dua kolam berukuran besar di rumahnya itu.

Yudha yang cukup lama tinggal di Jerman ini menambahkan, untuk mengenalkan padepokannya ke masyarakat sekitar, ia selalu rutin menggelar pengajian rutin tiap bulan dengan kalangan ibu-ibu.

Sementara, kegiatan lainnya yakni dengan menggelar berbagai even yang melibatkan ratusan orang. Seperti yang akan digelar Sabtu esok. Ratusan pelajar setingkat SMP akan menggambar dengan media cobek. (ron/abi)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia