Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Perempuan
Rindahwati, Ketua DPD Nasdem Kabupaten Mojokerto

Gak Oleh Sak Karepe Dewe

Jumat, 21 Apr 2017 15:33

Gak Oleh Sak Karepe Dewe

ENERJIK: Rindahwati, Ketua DPD Nasdem Kabupaten Mojokerto. (Rindahwati For Radar Mojokerto )

MOJOKERTO - Terbitnya matahari menjadi penanda lonceng aktivitas Rindahwati. Seabreg kesibukan perempuan tinggal di Jalan Lumba-Lumba, Perum Sooko Indah, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, ini seolah tiada henti.

Sampai-sampai, hari-harinya hampir tidak ada tempat khusus untuk sekadar merias diri. Di ruang tamu atau dalam mobil pun menjadi tempat favorit membuka perlengkapan kosmetik.

Ya, memegang amanah Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Mojokerto, dan menempuh pendidikan S-3, membuat ibu dua anak ini dituntut mampu membagi peran. Sebagai ibu rumah tangga, mahasiswa, sekaligus politisi.

Sehingga, begitu menyandang wanita karir dengan tugas ganda, hal itu tidak lantas meninggalkan kodratnya sebagai generasi Kartini Indonesia. ’’Biasanya, memang pukul 08.00 sudah bersiap beraktivitas. Mengantar anak sekolah, kuliah, atau menghadiri kegiatan kepartaian,’’ tutur istri Herman Santoso ini.

Bagi perempuan asal Dusun Karangan, Desa Kesimantengah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, ini putaran waktu memang harus dimanfaatkan seefektif mungkin.

Setelah menyiapkan sarapan pagi keluarga dan mengantar sekolah anak, di balik itu, Rindah diam-diam tengah disibukkan menuntaskan penelitian sebagai mahasiswa S-3 Program Studi Pengembangan SDM, Unair Surabaya.

Dari situ, perempuan kelahiran Mojokerto, 24 Juni 1976 ini terkadang harus bolak-balik Mojokerto-Surabaya, seminggu 2-3 kali. Hanya sekadar menuntaskan penelitian berjudul: Persepsi Generasi Milenium Terhadap Anak.

Dia menuturkan, praktik project penelitian children venue ini diambilnya di Kabupaten Trenggalek, Jatim. Di mana, kata Rindah, output disertasinya selaras dengan profesinya sebagai politisi perempuan.  Sekaligus istri, dan ibu bagi dua anaknya, Agam Farhansjah (kelas X SMAN 3 Malang) dan Risanto TAP. (kelas 6 SD Kiddoz).

’’Ya, karena saya orang politik, maka disertasi saya itu tentang bagaimana mencetak seorang pemimpin dari partai yang dipilih masyarakat melalui sistem pendekatan. Seperti apa berpolitik dengan baik dan benar,’’ tambah Bendahara Garnita Malahayati Jatim ini.

Dua smartphone tak pernah lepas dari genggaman tangan Rindah. Ke mana pun beraktivitas, alat komunikasi itu juga berfungsi membantu menata jadwal. Kapan waktunya bersama family, kuliah, dan menjalankan amanah sebagai pimpinan partai.

Bendahara Himpunan Mahasiswa Pasca Sarjana Unair Surabaya ini mengaku, di era modern ini, perempuan boleh saja menggapai mimpi di dunia karir. Entah bisnis, pendidikan, ekonomi, dan bahkan politik.

Sebab, hal itu, bagian dari perkembangan zaman yang tak bisa terelakkan. Namun, alumnus S-2 Keuangan Universitas Widya Mandala (UWM) Surabaya tahun 2010 ini menegaskan, kodrat sebagai kaum Hawa harus yang nomor wahid.

Tetap menunjukkan perempuan energik, tangguh, dan smart dalam menghadapi situasi apa pun. Sebab, demikian itu, kata Rindah, menjadi bekal utama seorang ibu dalam mencetak buah hati menjadi generasi milenia.

’’Setinggi apa pun posisi wanita, kodrat dia adalah sebagai ibu rumah tangga,’’ papar perempuan berusia 41 tahun ini. Menyadari posisinya sebagai penyangga keluarga, Rindah tetap meluangkan waktu bersama suami dan anak-anak.

Setidaknya, sepulang dari menjalani rutinitas, terkadang hingga dini hari, dia membiasakan menyapa keluarga. ’’Kalau pun anak sudah tidur, saya tetap membangunkan. Menyapa dia, memastikan ibundanya sedang bersama dia,’’ paparnya.

Namun, karena tidak selalu bersama, sebagai gantinya, untuk melengkapi komunikasi keluarga, di smartphone, Rindah memasang aplikasi N-eye. Program ini membantu keluarga memperpendek jarak saat masing-masing berada di luar rumah melalui komunikasi closed circuit televison (CCTV).

Selain itu, sebisa mungkin menjadwalkan quality time setiap akhir pekan. ’’Intinya, sesibuk apa pun, setinggi apa pun (jabatan), perempuan itu gak oleh sak karepe dewe (tidak boleh semaunya sendiri),’’ pungkasnya. (ris/abi)

 

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia