Rabu, 24 Jan 2018
radarmojokerto
Sport
Mengenal Olahraga Pentaque, Cabor Baru di Mojokerto

Seperti Bermain Kelereng, Target Masuk Porprov 2019

Rabu, 19 Apr 2017 07:00

Seperti Bermain Kelereng, Target Masuk Porprov 2019

SERIUS: Pelajar asal Kecamatan Mojosari saat mencoba permainan petanque. (Roby for Radar Mojokerto )

MOJOKERTO - Begitu awam di telinga masyarakat Mojokerto tentang olahraga asal Prancis ini. Meski belum familiar, namun kehadirannya dinilai mampu membangkitkan prestasi olahraga Kabupaten Mojokerto di tingkat provinsi. Bagaimana bentuknya?

Meski tergolong olahraga baru di Indonesia, cabor asal Prancis ini sebenarnya termasuk olahraga yang sudah punya nama. Di dunia, negara-negara bekas jajahan Prancis cukup kuat dan konsisten mengembangkan permainan tersebut sebagai salah satu daya tarik wisatawan.

Dan, ajang olahraga multi-event, seperti Sea Games, kini telah mengakui olahraga ketangkasan ini telah menjadi satu dari puluhan cabor yang dipertandingkan sejak tahun 2011 silam.

Ya, cabor petanque adalah suatu bentuk permainan boules yang tujuannya melempar bola besi sedekat mungkin dengan bola kayu yang disebut cochonnet. Meski kurang familiar, namun olahraga satu ini telah merambah Mojokerto sebagai salah satu cabor yang cukup diminati olahragawan muda, terutama di kalangan pelajar.

Terhitung, tak kurang dari 40 atlet kini telah resmi bergabung dalam sebuah altihan rutin di halaman SDIT Firdaus, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

’’Kalau FOPI sebagai organisasinya memang masih belum terbentuk, dan baru penyusunan pengurus. Tapi, atletnya sudah ada yang ikut latihan. Kurang lebih ada 40-an orang,’’ terang Roby Asmara, salah satu pendiri petanque di Mojokerto.

Faktor berdirinya petanque di Mojokerto tak lepas dari kiprah mahasiswa asli Mojokerto yang menimba ilmu olahraga di UNESA Surabaya. Bagi mereka, alasan memilih petanque berdiri cukup simpel, yakni murah dan cukup bersaing.

Betapa tidak, petanque cukup mudah untuk dipraktikkan bagi anak-anak, mulai dari usia SD sampai SMA. Bahkan, petanque sama halnya dengan permainan tradisional Indonesia yang kini jarang ditemukan, yakni gundu atau kelereng.

Cara memainkannya, dengan kaki dan harus berada di lingkaran kecil. Lalu, melempar bola besi sedekat mungkin dengan bola kayu yang disebut cochonnet. Permainan ini biasa dimainkan di tanah keras, rerumputan, pasir atau permukaan tanah lainnya.

’’Kan murah saja. Satu tim itu hanya butuh uang Rp 300 ribu untuk beli alatnya baik boule dan cochonnet. Seperti main kelereng, siapa yang lebih dekat dengan jack sebagai sasaran, dia yang menang,’’ tambahnya.

Tak hanya itu, alasan di balik pendirian petanque juga tak lepas dari peta persaingan dalam meraup prestasi. Betapa tidak, Mojokerto memiliki peluang besar merebut medali di Porprov 2019 nanti.

Hanya beberapa daerah saja yang memiliki pembinaan petanque secara rutin. Artinya, persaingan yang masih sedikit membuat Kabupaten Mojokerto bisa menambah pundi-pundi medali di Porprov 2019 nanti. Saat ini, sudah ada 6 sekolah yang ikut mengembangkan cabor ini sebagai program ekstrakurikuler.

Ke depan, pihaknya akan terus menyebarluaskan petanque sebagai cabor baru paling digemari pelajar, seperti sepak bola, voli, hoki, atau basket. ’’Dari SD, SMP dan SMA sudah ada. Tinggal legalitasnya saja ke KONI dan Pengprov FOPI Jatim,’’ pungkasnya. (far/ris)

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia